Breaking News

07 July, 2011

Sepatu

(Oleh : Tatit Ujani)

Setiap hari kuinjak dan kau bawa kakiku pergi ke sekolah.Ini hanya satu-satunya sepatu pemberian ibuku. Walau hanya sebagai alas, tapi ibuku membelinya dengan menebus arisan. Aku ingat saat itu, aku masih pakai sepatu yang bolong di jempol kakiku. Setiap kali kupakai pasti jempol menyembul diantara lubang sepatuku.Warnanya, jangan berharap seinclong punya teman-temanku.
Jika panas, kepanasan. Jika hujan, kehujanan. Jika musim penghujan ibuku tak lupa menyelipkan 2 tas kresek. Satu untuk sepatuku dan yang lainnya sebagai pelindung buku-buku dan tasku. Tas pun kudapatkan dari kedermawanan salah seorang teman yang melihatku setiap hari hanya bawa buku dan tas kresek.

Tak apa-apa bagiku, yang penting aku harus belajar dan bersekolah hingga tercapai cita-citaku. Aku ingin menjadi seorang pengusaha yang terkenal, walaupun aku hanyalah anak seorang pemulung. Aku harus punya cita-cita yang besar. Aku tak mau hanya sebagai pungguk yang merindukan bulan. Aku tak mau sejarah terulang. Dan ibu bapakku pun memberi semangat agar aku terus belajar dan jangan seperti mereka. Aku harus bersekolah yang lebih tinggi dari kedua orang tuaku.

Walau hujan deras dan jalanan becek kutempuh dengan hati riang, sepatuku tersayang selalu kutimang untuk menghindari terpaan hujan. Kumasukkan dalam tas kresek besar dengan tas sekolahku untuk menghindari derasnya hujan. Badan ini rasanya sudah kebal dengan terpaan angin dan hujan, kalau orang kaya melarang anaknya untuk berhujan-hujan agar tak sakit flu atau masuk angin. Tubuhku serasa sudah bersahabat dengannya. Paling terasa dingin ganti baju mandi, cukup alamlah yang memberikan kekebalan bagi tubuhku, sepertinya alam tahu akan kondisi keluargaku yang miskin, Allah tahu akan kemampuan keluargaku.

Kutelusuri pematang sawah dengan hati-hati melewati tanahnya basah dan becek disana sini agar tak terpeleset sambil menenteng sepatu. ”Sepatuku, walau kau bau dan kusam. Tetap kusayang dan kutimang, kaulah sepatuku satu-satunya. Jika sekolah tak mewajibkan anak-anak ke sekolah harus memakai sepatu, ingin rasanya hanya telanjang kaki saja atau sandal jepit mengalasi kakiku.”

Sembari berteduh di bawah pohon menunggu hujan deras reda menerawang jauh, berkelebat sebuah pertanyaan,"pantaskah aku anak orang miskin dengan sepatu butut memiliki suatu impian?"

0 komentar:

Post a Comment