Breaking News

07 July, 2011

SEKELUMIT KECEWA

By D-wie ‘de Barry


“ Maaf ibu, anak ibu belum bisa bergabung dengan sekolah kami, umurnya baru 5,8 tahun. Usia anak sekolah saat ini adalah 6 tahun.”

Penolakan itu terjadi pada tahun 2008. Saat my first son  Abel mulai mendaftar sekolah. Alih alih karena umur, sepertinya aku harus membatalkan niat untuk menyekolahkan anakku di salah satu sekolah negeri favorit di kotaku tersebut.

“ Oke kid, you don’t belong here.”

Kalimat itu kuucapkan kepada Abel sambil membereskan map yang berisi biodata untuk kelengkapan administrasi sekolah.

“ Eh, memangnya anak ibu bisa bahasa Inggris ya?”

Rasa takjub jelas terlihat dimata sang guru.

“ Sedikit”

Jawabku tak begitu antusias.

“ Bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris?” Boleh saya dengar?”

Permintaan sang guru terasa aneh untukku. Tapi tetap kupenuhi sebagai bonus penolakan manis yang baru kuterima.

“ Hi, what’s your name?”
“ Alfasya Syabil Sholatar.”
“ Where do you live?”
“ I live in Citra Persada complex.”
“ How old are you now?”
“ I am about to be six.”

Percakapan singkat, santai, tak begitu bermakna untukku, membuat mata takjub sang guru semakin membesar.

“ Aduh, anak ini sepertinya spesial ya.” Berkas dokumennya saya pinjam sebentar ya bu. Kita perlu anak anak seperti ini. Saya akan bicara langsung dengan kepala sekolah mengenai anak ibu.” Saya yakin beliau akan dengan senang hati menerima anak ibu untuk bergabung dengan sekolah kami.”


“ Loh, umurnya gimana?” Bukannya kebijakan sekolah tidak mengijinkan?”

“ Tenang, itu bisa diatur.”

Sang guru tersenyum manis dan membawa berkas anakku ke ruang sebelah.  

“ Ibu, kepala sekolah ingin bertemu. Silahkan ke ruang sebelah.”

Dan duduklah aku bersama Abel berhadapan dengan wanita paruh baya yang disebut sebagai si kepala sekolah.

“ Halo, selamat siang.”

“ Siang, bu.”

“ Saya mendengar dari wakil saya bahwa ibu punya anak istimewa yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Betul bu?”

Masih dengan kerutan di dahi aku menganggukkan kepala. Belum tahu arah pembicaraan ini.

“ Sekolah kami akan senang sekali kalau anak ibu bisa bergabung dengan kami.”

“ Maaf, bu. Tapi barusan wakil ibu menolak pendaftaran anak saya dengan alasan umurnya masih kurang beberapa bulan.”

“ Ooh, itu betul sekali, ibu. Tapi saya melihat potensi pada diri anak ibu. Maka kami memutuskan untuk menerima anak ibu dengan tangan terbuka.”

“Tapi bagaimana dengan umurnya?”

Kepala sekolah tersebut terlihat mencoba menebar senyum termanis.

“ Jadi begini ibu, mulai tahun ini sekolah kami akan mulai membuka kelas RSBI dan kami butuh anak anak yang berpotensi seperti anak ibu. Tapi karena umurnya kurang beberapa bulan, maka kami hanya akan meminta uang administrasi pelengkap sebesar Rp. 500.000.”

“ Maksudnya?”

“ Iya, lima ratus ribu rupiah. Orang tua lain biasanya dengan sukarela membayar dua juta hingga tiga juta rupiah lho bu, supaya bisa masuk sekolah ini. Tapi karena anak ibu spesial, maka ibu cuma membayar lima ratus ribu rupiah. Murah kan, bu?”

Murah? Membayar? Spesial? RSBI? Apa apaan ini? Apa urusannya kelas RSBI dengan anakku? Aku tak pernah meminta anakku untuk berada dikelas RSBI? Apa pentingnya kelas RSBI?

Rintisan Sekolah Berstandar Internasional yang siswanya hanya ada 25 orang dengan kelas nyaman ber AC namun berkesan pengkastasasian  biaya  sekolah yang berlipat dari kelas regular. Yang memiliki akses internet untuk mempermudah belajar ( atau meringankan pekerjaan guru?). Yang katanya akan full  ber atmosphere bahasa Inggris ( Apakah mungkin kalau gurunya hanya satu dua yang berkomunikasi dalam bahasa Inggris sementara yang lain hanya bisa ‘how are you’ dan ‘ see you tomorrow’?). Yang menggunakan buku buka terbitan luar negeri tapi tetap harus mengikuti UN (Ujian Nasional ). Yang jam belajarnya padat hingga jam 4 sore tetapi siswa tetap harus mengikuti les diluar untuk memenuhi nilai standar KKM yang tinggi dari pihak sekolah sehingga mereka benar benar kehilangan masa bermain dan bersosialisasi untuk mengembangkan kemampuan otak kanan saat mereka banyak berinteraksi dalam keadaan rileks, bukannya terus mengikuti pelajaran sekolah yang notabene mengutamakan otak sebelah kiri. Yang memberikan bertumpuk tumpuk PR yang belum jelas apakah dikoreksi atau tidak, entah bersifat practice, enrichment atau drilling? Entahlah.

Yang pasti aku benar benar tersinggung.  Dia anggap kelas RSBI yang jelas jelas berorientasi dengan ‘hasil belajar’ bukan ‘proses belajar’ bisa menjamin pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan fisik anakku yang sangat dibutuhkannya saat dia tumbuh dewasa nanti apa? Dia anggap jual beli pendidikan seperti ini tidak merusak moral apa? Awalnya mereka menolak anakku, kemudian memberikan dispensasi, dan terakhir meminta ( memalak tepatnya) uang sebagai pelengkap adminsitrasi. Hanya lima ratus ribu? Orang tua lain berani membayar dua juta lebih.
It’s totally insane!

Kubenahi berkas dokumen milik Abel.

“ Terima kasih atas penawarannya, ibu.” Tapi saya tidak jadi mendaftarkan anak saya di sekolah ini. Prestasi sekolah berasal dari siswa. Siswa yang mampu berprestasi dibina oleh guru dan sekolah yang bermoral.”

Kusalami sang kepala sekolah sambil memberikan senyum (juga) yang termanis. Kulihat wanita itu masih terkesima saat aku menggandeng Abel melenggang keluar ruangan.