Breaking News

04 July, 2011

Perempuan dan Bisnis Rumah Tangga

Bukan Hanya Suami Yang Menjadi Jalan Rizki
-Izti Bunda Bumi-
  Ketika menikah, seorang wanita tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ia memiliki tanggung jawab lain terhadap suami dan rumah tangganya.  Dan ketika ia punya anak, peran pun bertambah, ia adalah seorang wanita, istri, sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Maka semakin komplekslah tugasnya sebagai khalifah fil ardh.
Namun, tidak banyak wanita yang begitu menikah langsung total berperan dalam rumah tangganya. Terlebih wanita modern yang tinggal di wilayah perkotaan. Sudah tidak aneh jika kita saksikan pasangan muda yang baru menikah, keduanya tetap bekerja. Pergi pagi pulang sore, bahkan malam. Rumah tangga dikelola di antara waktu-waktu senggang diluar jam kerja dikurangi jam perjalanan pergi pulang. Bahkan beberapa dari mereka tinggal di lain kota demi tuntutan karier dan profesi. Kami termasuk salah satu pasangan di atas, yang setelah menikah masih bekerja.
  Ketika hamil dan melahirkan, dilema mulai melanda. Di satu sisi sebagai ibu , sudah menjadi fitrahnya untuk mengasuh, mendidik, dan mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya. Di sisi lain, sebagai wanita mandiri yang memiliki penghasilan sendiri,  cukup berat untuk berhenti bekerja dan bergantung pada nafkah yang diberikan oleh suami. Apalagi tentunya income pun akan berkurang.
Pertimbangan inilah yang memenuhi fikiran saya dan mungkin perempuan lain seperti saya, berhari-hari, berminggu-minggu, sebelum memutuskan untuk resign. Bahkan sampai masa cuti hampir berakhir, hati saya masih condong untuk tetap bekerja, karena tak ingin ada yang berkurang dari pendapatan bulanan kami.
Sungguh pilihan yang berat, karena tak bisa dipungkiri, pendapatan bulanan yang berkurang karena hanya mengandalkan gaji suami, membuat seorang istri belajar hidup prihatin, belajar mengelola keuangan rumah tangga, berapa pun harus cukup atau dicukup-cukupkan.
Jika dulu terbiasa makan di luar, sekarang harus masak di rumah. Apa pun yang bisa dihemat, harus dihemat. Tidak ada lagi belanja kosmetik, baju baru, sepatu baru, atau benda-benda tidak penting lainnya. Terlebih sudah ada anak yang otomatis menambah biaya hidup.
  Di sisi lain, sebagai perempuan yang terbiasa aktif bekerja di luar rumah, harus meninggalkan kebiasaan itu, kemudian memberikan totalitas pelayanan sepenuhnya pada rumah tangga, pada suami dan anak-anak. Mungkin pekerjaan rumah tangga akan terasa monoton dan melelahkan. Meski sadar betapa mulia tugas seorang ibu, tetapi ada sisi sebagai makhluk sosial dan makhluk produktif yang ingin disalurkan.
Apalagi sebagai pasangan muda, ada tuntutan untuk meningkatkan taraf hidup ke arah yang lebih baik. Jika selama ini masih jadi kontraktor, alias tinggal di rumah kontrakan, tentu sangat wajar jika ada keinginan untuk memiliki rumah sendiri. Tidak berbeda jauh dengan saya.
  Memang, mencari nafkah adalah tugas utama seorang suami. Tetapi tidak ada salahnya mencoba mandiri secara finansial, tidak tergantung pada pemberian suami. Apalagi jika suami meninggal dunia, siapa yang akan menanggung beban hidup kita dan anak-anak?  Apakah akan kembali merepotkan orangtua, atau berpangku tangan pada nasib dan mengharap belas kasihan orang lain? Mending kalau orang tuanya masih ada. Kalau statusnya seperti saya yang sudah tidak punya orang tua dan tidak ada saudara kandung, kemana saya akan bernaung jika suami tidak ada?
Maka berbagai peluang pun dicoba, berbagai bisnis yang bisa dikerjakan dari rumah, agar bisa menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan rumah dan tanggung jawab terhadap suami dan anak. Mulai dari bisnis katering, jualan baju, jualan kosmetik, sampai bisnis disain dan percetakan, yang dilakukan secara online. Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah disain grafis.
Tidak sedikit tantangannya ketika memulai sebuah usaha. Karena sebelumnya berada pada zona aman sebagai pegawai, yang hanya bertanggung jawab terhadap atasan, dengan  gaji flat tiap bulan yang pasti didapat. Ataupun sebagai seorang istri, yang hanya tinggal mengelola uang yang diberikan suami, tanpa repot-repot mencarinya.
Sedangkan ketika mengelola usaha,bayaran hanya bisa didapat jika pekerjaan sudah selesai. Atau ketika berjualan, keuntungan hanya didapat jika produk yang kita jual laku di pasaran. Belum lagi jika customer atau klien merasa tidak puas, maka mental pun diuji untuk menerima segala kritikan, apakah akan membuat nyali kita ciut dan berhenti bekerja, atau justeru menjadikannya cambuk untuk berusaha lebih baik lagi.
Saya pernah berada pada titik hampir berhenti berusaha. Bisnis saya sebagai desainer grafis yang juga menerima jasa cetak, mengharuskan saya bekerja sama dengan pihak lain karena saya tidak memiliki armada cetak sendiri. Membuat saya berkali-kali harus menanggung kerugian akibat kesalahan produksi, apalagi persaingan yang ketat membuat saya tidak bisa mematok harga tinggi.
Lelah dan tidak sanggup menghadapi berbagai tekanan, karena saya pun harus membagi perhatian pada keluarga, saya pun memutuskan untuk meninggalkan dunia percetakan dan jual beli barang. Saya mulai fokus pada penjualan jasa desain, bekerja sendiri tanpa melibatkan pihak lain.  Memanfaatkan keahlian, menyalurkan hobi, sekaligus menambah penghasilan.
  Rupanya, Allah melapangkan jalan saya di bidang ini. Apalagi ketika saya membuat sebuah komunitasOnline Seller di facebook, dimana membernya sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga seperti saya, yang juga menjalankan bisnis online dari rumah sebagai seller berbagai barang dan kebutuhan. Seperti sungai yang menemukan muaranya, bisnis jasa disain yang saya tawarkan disambut dengan baik.
Kini, sudah dua bulan berjalan sejak saya memulai usaha ini. Perlahan namun pasti, bisnis yang saya jalankan ini mulai memetik hasilnya. Tanpa harus meninggalkan rumah, tanpa mengabaikan kewajiban sebagai istri dan seorang ibu, saya bisa produktif dan memiliki penghasilan sendiri, yang nilainya jauh lebih besar dari gaji standar saya ketika masih menjadi pegawai kantoran.
  Namun demikian, tanggung jawab utama saya tetaplah sebagai seorang istri dan seorang ibu rumah tangga. Dan suami saya pun tidak menuntut saya harus menghasilkan banyak uang, karena dialah pencari nafkah utama. Menekuni bisnis ini, adalah bekal yang dapat saya gunakan jika suatu saat tidak lagi ada suami yang menafkahi saya dan anak-anak saya.

0 komentar:

Post a Comment