Breaking News

07 July, 2011

OOPS

Dian Nafi

Mas Hanung memapahku perlahan.
“Sakit, yang?”, tanyanya lembut.
Aku meringis sambil mencoba tersenyum. Mungkin seharusnya aku tadi mengikuti anjuran mas Hanung untuk tidak pergi menemui klien sore ini karena kehamilanku yang memasuki minggu ke 36. Tapi aku tetap bersikukuh untuk berangkat juga.
 “Bukan masalah besarnya uang atau proyek mas….”, aku berusaha menjelaskan agar mas Hanung tidak menganggapku ngoyo, memaksakan diri.
“Tapi lebih karena bu Titik ini dulu akrab sekali dengan almarhum ayahku. Padahal anjuran Nabi, kita kan harus menyambung tali silaturahim dengan sahabat dan teman-teman orangtua kita, apalagi yang sudah tiada”, panjang lebar aku bicara, mas Hanung cuma tersenyum saja. Kami menunggu tiga tahun untuk kelahiran anak pertama kami nanti dan mas Hanung menunjukkan kasih sayangnya yang besar kepadaku dan calon bayi kami.
Sejak aku menikah dan meninggalkan kota kelahiranku untuk tinggal bersama suami, otomatis aku harus menempuh jarak 25km untuk bekerja. Biasanya satu jam menuju perusahaan eksporter furniture tempat aku menjalankan aktifitas sebagai marketing. Karena lama-lama terasa lelah dan keadaan payah ini diperkirakan termasuk yang mengganggu kondisi fisikku sehingga belum hamil juga, aku akhirnya resign.
Berbekal bismillah aku membuka usaha konsultan arsitek. Alhamdulillah, beberapa klien menggunakan jasaku. Bahkan seorang developer memintaku untuk sekaligus mengaplikasikan desain yang kubuat di perumahannya. Jadilah aku dadakan meminta suamiku dan seorang teman yang sudah berpengalaman menjadi pemborong bangunan, untuk menambah satu divisi di kantor baruku. Tuhan sungguh membukakan jalan dan memudahkan urusan hambaNya yang bertawakal.
Kegembiraan akan kehamilanku bertambah dengan rejeki mulai berjalannya proyek ini. Semakin sibuk saja aku kerja sehingga mual-mual di bulan pertama kehamilan segera tergantikan. Dengan perut semakin membuncit aku membagi waktuku untuk urusan rumah, desain dan pengawasan proyek.

Sampai sore yang mendung gelap itu membawa semangatku mengalahkan segalanya. Bu Titik sampai bengong menatapku.
“Aduh. Kalau tahu mbak Dian begini, saya saja yang datang ke kantor”, ujarnya.
“Tidak apa-apa, bu. Saya senang bisa silaturahim ke sini”, kami berpelukan. Bu Titik mengenang kembali kisah-kisah lama saat dulu berhaji dengan almarhum ayah.
Momen –momen seperti inilah yang sebenarnya ingin kudapatkan, lebih dari sekedar proyek yang bisa kita dapatkan dari siapa saja dan kapan saja. Tetapi ada moment of the truth yang sungguh nilainya tak dapat ditukar dengan apapun.
Kepayahan sore itu akhirnya tak bisa disembunyikan. Aku terkapar setelah maghrib, persis setelah pulang dari rumah bu Titik. Padahal kami Cuma membahas mengenai konsep perumahan yang akan didesain. Mungkin rasa excited yang berkenaan dengan almarhum ayah yang lebih menguras emosiku dan akhirnya energiku.
Bakda Isya’, aku semakin kesakitan dan  meringis terus. Ibu mertua dan kakak iparku yang was – was melihatku langsung menyuruh mas Hanung untuk mengantarkanku ke rumah bersalin. Mas Hanung malah asyik nonton TV.
“Belum apa-apa itu. Kalian percaya aku ya. Aku sudah pernah mengantar mbak Nila melahirkan. Ketiga anaknya aku yang menunggui kelahiran mereka. Mbak Beti juga. Sudah pernah menemani tujuh ..eh..delapan persalinan.”, memang mas Hanung paman yang jempol. Semua keponakan, ia yang menunggui kelahiran mereka.
“Ayolah, Hanung. Kasihan istrimu.”, bujuk ibu mertua.
Akhirnya mas Hanung mengantarkanku segera ke RB. Dan benar saja, aku ternyata harus menunggu 24 jam lagi sampai akhirnya melahirkan dengan selamat. Alhamdulillah. Inilah perjuangan hidup dan mati. Benar-benar merasakan bahwa emak memang hebat dan pemberani. Bertawakal dan berpasrah diri. Tuhanku, jikalah nyawa ini taruhannya, hamba rela, hamba titip anak hamba. Berilah dia keselamatan dan kehidupan yang baik.

Kami menyambut gembira kelahirannya dan segera berakikah untuknya. Meski dia cucu pertama di keluarga ibuku, tetapi aku dan mas Hanung sepakat untuk mendidiknya agar tidak menjadi anak manja. Setelah hanya istirahat beberapa waktu, akupun kembali beraktifitas di kantor seperti semula dengan bayi di gendonganku. Pagi-pagi sekali setelah memandikan dan mengajaknya jalan-jalan, langsung berkutat di depan computer untuk menyelesaikan PR desain klien. Meeting pagi dan sore dengan suami, pimpro dan kepala tukang.
Bahkan bayi mungilku ikut juga mengawasi proyek di lapangan.
“Hallo bos kecil”, begitu sapa para tukang kalau kami datang.
Dan ‘bos kecil’ tahu benar bagaimana bersikap. Dia lebih sering tenang dan tidak banyak menangis meski diajak berpanas-panas ria dan berkeliling di tempat-tempat yang seringkali kurang nyaman.
Kalau ada presentasi desain yang mengharuskan aku datang ke tempat klien, mas Hanung mengantarku. Biasanya hanya didrop di pintu rumah atau kantor klien maupun tempat rendezvous lain, kemudian dijemput setelah selesai.
Alhamdulillah, anakku tidak banyak rewel. Mungkin menyadari kalau sudah menjadi tugas ibunya untuk melayani orang-orang. Semakin didekap sepertinya bayi memang semakin tenang. Aku juga bertekad untuk memberikan ASI eksklusif untuk anakku serta memberi dekapan pelukanku yang terhangat untuknya.
Nhah! Ada yang lucu tentang ini.
Pagi itu mas Hanung mengantarku ke rumah klien. Karena agak rewel, aku menyusui bayiku di dalam mobil sebelum turun.
“Nanti telpon saja kalau sudah selesai, dinda”, kata kangmasku mesra.
“Iya, mas”, sambil tersenyum aku menutup pintu mobil dan membiarkannya berlalu.
Masuk ke rumah klien, aku dipersilakan duduk di ruang tamu oleh penjaga rumah. Tidak menunggu lama, klienku datang dan tidak seperti biasanya aku menangkap ada yang aneh dengan pandangan matanya. Untunglah aku segera mengkoreksi diriku. Oops. Aku lupa mengancingkan bajuku. Olala…..Maaf ya pak…..

Dian Nafi
Penikmat Hujan.Pecinta Purnama. Kontributor 20 Antologi.Penulis Kencantren dan Mayasmara. Punya banyak impian dan harapan juga ketakutan. Kadang paradoks dan terus dalam pencarian.

0 komentar:

Post a Comment