Breaking News

19 October, 2011

Memang Harus Begini

Oleh : Ari Kurnia

Petir menggeletar, hujan turun sangat deras dari langit. Brr, dingin sekali udara ini.Telapak tanganku sibuk kugosok-gosokkan dengan frekuensi yang makin cepat, berharap ada kehangatan yang mengalir ke badanku yang kuyup ini.

Percikan air hujan masih mengena di kakiku. Meskipun sudah berteduh di teras sebuah toko,namun tetap saja merasakan air dingin ini. Kupandang kedua anak kecil yang ada di sampingku. Sama sepertiku, menggigil kedinginan. Aku hanya bisa menghiburnya dengan memberi cerita-cerita ringan agar mereka lupa akan dingin ini. Kuusap punggung mereka dengan telapak tanganku, berharap dingin segera pergi dari tubuh mungil mereka. Suamiku berdiri tegak disamping anak kecil itu, seperti biasa, hanyut dalam diamnya. Dia memang pria pendiam. Tapi dia pria penyayang, dia sayang kedua anak kecilku, anak kecil itu adalah buah hati kami.

Akhirnya sang hujan pun pamit, tinggal rintik-rintiknya yang masih berlari riang menuju muka bumi. Aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, lebih cepat sampai rumah lebih baik. Ikan-ikan mentah di atas motor ini harus segera kuolah menjadi dimsum pesanan pelangganku.

“Yuk, sayang kita berangkat,” ajakku kepada kedua anakku.

“Ayuk Ma, Adek kedinginan nih, pengen cepet sampe rumah, mau minum susu,” jawaban polos keluar dari mulut Fathan, si adik, yang berumur 4 tahun.

Astagfirullah, Nak. Maafkan Mama. Kau dan kakakmu merasakan kedinginan ini demi Mama. Mama terpaksa mengajakmu karena memang tidak ada orang yang mengasuhmu dirumah. Kusapu pandanganku, menyisir rumah-rumah dan toko yang ada. Tidak ada yang buka. Artinya Fathan harus bersabar untuk menahan dahaga untuk sampai rumah.

Mesin motor telah meraung, suamiku bersiap di posisi mengemudi. Hap, kamipun naik ke atas motor, mengenakan jas hujan. Melaju di kegelapan malam, menembus rinai hujan dan mengejar mimpi yang terbentang.

Satu kilometer berlalu, aku merasa ada yang aneh dengan kakiku. Keranjang berisi ikan kakap yang baru saja aku beli kok rasanya menjadi lebih langsing ? Ah, mungkin hanya perasaanku saja, hiburku. Namun perasaanku semakin tidak enak.

“Mas, coba berhenti sebentar,” ujarku pada suamiku.

“Kenapa ?” tanya suamiku bingung.

Aku tidak sempat menjawab pertanyaan suamiku. Aku langsung meloncat turun dan kuperiksa keranjang belanjaanku yang tergantung di sebelah kiri dan kanan motor. Dugaanku benar, keranjangku berkurang isinya. Panik, gugup dan tercekat tenggorokanku. Kemana ikan-ikan kakapku yang dua kantong lagi ? Haduh, ikan itu harus ada malam ini, sudah tidak ada waktu untuk membeli ikan lagi. Subuh ini harus diproduksi. Apa kata pelangganku jika aku terlambat memenuhi ordernya.

Lemas badanku, ada lubang di keranjangku. Lubang di keranjang itu yang meloloskan ikan-ikan cantikku. Air mataku menetes, sifat wanitaku keluar. Kedua bocah kecilku kebingungan melihat mamanya menangis.

“Jangan panik, kita cari lagi di jalan. Siapa tahu masih rejeki kita,” hibur suamiku dengan hangat.

Kuanggukkan kepala, memang itu yang harus kita lakukan. Tidak ada jalan lain lagi kecuali menapak tilas jejak kami. Kututup lubang dikeranjang itu dengan tasku yang berukuran lebih besar.

Dalam kegelapan, kami mencari dua kantong ikan yang hilang. Saat itu waktu menunjukkan pukul sebelas malam, suasana sudah sangat sepi. Rumah-rumah yang agak berjauhan menambah gelapnya suasana.

Menyusuri meter demi meter jalan yang tadi kami tempuh. Sesekali kulirik kedua anak manisku. Pengen nangis kalau melihat kedua anak yang tidak mengeluh ini, padahal ini waktu tidur buat mereka. Akhirnya kutemukan juga dua kantong ikan itu. Ku peluk erat-erat kantong ikan itu layaknya seorang bayi. Rasa lega membanjiri dadaku.

Subuh. Kuolah ikan-ikan beraneka jenis itu, merubahnya menjadi dimsum yang cantik. Sendirian di dapur, sementara suami dan anak-anakku masih terbuai oleh mimpi indahnya setelah bergulat dengan hawa dingin.

Dengan hati yang riang, kuolah bumbu-bumbu segar. Kucampur dengan ikan yang telah kublender halus. Membungkusnya dalam tepung atau lembaran pangsit. Aku mencintai pekerjaan ini, mengolahseafood menjadi makanan bercita rasa tinggi. Menghantarkannya menjadi menu keluarga.

Bolehkah aku bermimpi bahwa suatu saat aku memiliki pabrik olahan seafood sendiri ? Dimana pabrik itu akan mempekerjakan orang-orang di sekelilingku. Akan kuangkat kondisi orang-orang di sekelilingku, memberi sejuta peluang, sejuta pengalaman. Aku tersenyum sendiri sambil mengamini mimpi itu.

Yang terpenting aku sudah berdiri tegak di sini, telah melangkah meskipun masih tertatih, walaupun masih mengorbankan waktu keluargaku. Ya, memang harus begini untuk berproses menjadi lebih baik dan lebih baik. Namun aku yakin, aku pasti bisa. Pasti berhasil. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.


1 komentar:

jual obat impotensi said...

bagus bgt

Post a Comment