Breaking News

07 July, 2011

MIMPI INDAH WANITA NARSIS

Bu Lan

Sejak aku masih kecil, ibuku selalu berpesan kepadaku agar jadi orang itu jangan nggumunan, jangan gampang heran dan takjub dengan apa yang dimiliki orang lain. Karena menurut ibuku, perasaan takjub yang berlebihan terhadap kelebihan orang lain bisa menumbuhkan perasaan iri yang mendalam dalam hati kita. Kita harus realistis menerima kenyataan. Orang lain bisa lebih unggul dari kita, pasti karena mereka telah berusaha lebih keras dari kita.
Ibuku juga berpesan bahwa Tuhan sudah memiliki rencana yang indah untuk semua umatnya, yang penting adalah kita harus selalu berusaha dan terus berusaha, bukan untuk bersaing dan saling menjatuhkan tetapi untuk mengembangkan potensi yang ada pada kita.
Aku sungguh salut dengan nasehat-nasehat itu. Nasehat indah yang diberikan ibu telah mencetak aku menjadi salah satu wanita dengan moral yang baik. Meskipun berbagai cobaan sering menghempaskan aku ke titik terendah, tapi aku tak pernah putus asa, aku tak pernah iri hati kepada siapa-siapa. Bahkan sampai melakukan hal-hal yang tak diijinkan Allah.
Nasehat-nasehat indah ibu tidak akan pernah kulupakan. Terpatri dalam sudut hatiku yang dalam yang akan menerangi aku ketika aku harus menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Mungkin nasehat-nasehat dari ibuku tampak seperti nasehat biasa, seperti nasehat ibu-ibu pada umumnya. Tapi bagiku, semua nasehat ibuku adalah nasehat yang luar biasa hebat dari seorang ibu hebat.
Begitu luar biasa, karena nasehat itu terucap dari bibir wanita dusun yang tampak biasa. Seorang wanita yang tak pernah lulus SLTP, yang dalam hidupnya lebih dari lima kali harus berpindah sekolah karena miskin dan broken home. Ketika masa kanak-kanak harus bersedia ikut siapa saja yang mau merawatnya dan tak pernah mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari ayah dan ibunya. Ketika remaja wanita itu harus rela mengorbankan cintanya untuk dijodohkan dengan pria yang sebelumnya tak pernah dicintainya.
Namun, wanita itu tak pernah putus asa dengan kekurangannya, tetap percaya diri dengan kelebihan yang telah diberikan Tuhan padanya, hebat, bahkan narsis, merasa bahwa dirinya paling cantik sekampung, merasa bahwa dirinya punya banyak teman, merasa dirinya teman yang layak dipercaya sehingga banyak yang senang curhat padanya.Dialah ibuku....

Walaupun aku hidup dalam keluarga tak mampu, tapi ibu selalu menyemangati aku. Membantu aku meraih satu demi satu citaku. Menanamkan dalam hatiku rasa percaya diri sebesar rasa percaya diri yang dimiliki ibuku. Meskipun memiliki masa kanak-kanak yang suram, miskin dan nyaris gagal dalam rumah tangga, tapi ibuku tetap bertahan demi kami anak-anaknya.
Kami dapat hidup dalam keluarga yang utuh karena buah kesabaran ibu. Ibu tidak ingin anak-anaknya menjadi produk broken home seperti dirinya. Dan beberapa kali ibu berkata padaku,”Jangan takut menikah. Meskipun kau lihat ada pernikahan yang tak bahagia, tapi percayalah, masih banyak pernikahan yang membahagiakan.”
Dan aku masih sempat melihat ibuku tersenyum lebar, ketika akhirnya aku menikah dengan pria yang mencintai aku, dan ketika aku melahirkan putra pertamaku. Dan setelah itu aku melihat ibuku tersenyum kecil dalam tidur panjangnya.
***
Kini, setelah aku menjadi ibu, aku juga suka memberikan pesan-pesan indah untuk anak-anakku. Aku bilang pada mereka,
”Jadilah orang yang memiliki harga diri tinggi. Harga diri itu tidak terletak pada kekayaan kita, tetapi terletak pada tingkah laku  kita. Orang yang tidak kaya harta tetapi mempunyai tingkah laku yang baik, berarti orang itu sudah memiliki harga diri yang tinggi. Tetapi adalah  lebih baik lagi kalau kita bisa kaya harta dan sekaligus juga memiliki tingkah laku yang baik. Tuhan tak pernah melarang kita untuk kaya.”
Aku selalu meyakinkan pada anakku bahwa segala sesuatu yang diawali dengan itikad baik, pasti akan mendapatkan hasil yang baik juga, meskipun terkadang dalam prosesnya kita harus menghadapi beberapa rintangan, tetapi pada akhirnya kita akan memanen buah yang manis.
Saat-saat pertama aku menikah dengan suami, aku tahu, ada yang mengganjal dalam hati keluarga suami dengan pernikahan kami. Mungkin mereka bertanya tentang motivasi aku menikah dengan suami. Seorang gadis ting-ting berpendidikan rendah, berusia sembilan belas tahun mau menikah dengan pria yang tiga belas tahun lebih tua darinya, apa tujuannya? Maklum, walaupun suami tidak kaya, tapi perekonomian keluarga suami jauh lebih baik dari perekonomian keluarga ayah dan ibuku.

Dalam pernikahanku sampai-sampai aku harus mau menandatangani perjanjian pisah harta. Tidak diijinkan bekerja tetapi harus bisa mencukupkan uang pemberian suami yang seadanya untuk keperluan kami sehari-hari. (Kukatakan seadanya, karena terus terang gajiku yang kudapat ketika aku masih bekerja masih  lebih banyak dari uang bulanan yang diberikan suami padaku). Awal-awal pernikahan aku begitu tertekan, sering menangis sendiri dan sering merasa tak berarti. Dan aku memiliki banyak hutang.
“Tuhanku, kalau ini adalah ujian tentang cintaku, ajari aku untuk kuat dan bertahan ya Tuhan...," begitulah aku selalu meminta pada Tuhan.
Aku ingin sekali membantu perekonomian ayah dan ibuku, tapi dengan keadaanku yang seperti itu aku tak mampu. Adik kandungku bahkan sempat membenci aku, karena mengira aku ini menikah dengan orang kaya, tapi tak mau membantu orang tua. Ada rasa bersalah yang begitu besar ketika akhirnya kedua orang tuaku meninggal dunia, aku tidak sempat memberikan sesuatu yang berarti untuk mereka.
Namun aku sadar, aku harus bangkit. Aku harus bisa membuktikan rasa cintaku pada orang-orang yang mencintai aku. Aku harus giat bekerja.
Selama hampir lima belas tahun pernikahanku, di sela-sela kesibukanku mengurus anak dan keluarga, berbagai macam pekerjaan sudah aku jalankan. Menerima jahitan, memasang payet, menjual es lilin, membuat makanan kecil, jual beras, jual pakaian, dan membantu suami di toko.
Berbagai rintangan datang menghadang, mulai dari cibiran merendahkan,  sabotase, sampai ditipu teman sendiri semua silih berganti. Dan hasilnya, hutangku bertambah banyak. Barang-barang yang kumiliki nyaris habis aku gadaikan.
Tapi sampai di situ aku tidak putus asa. Akhirnya aku memutuskan untuk sekolah lagi. Ini juga dengan uang hutangan. Aku melanjutkan pendidikan sebagai guru TK, ikut kursus, pelatihan dan seminar. Aku tak mau menyerah begitu saja. Aku yakin, dengan memiliki pengetahuan yang bertambah, dan tentu saja dengan tujuan yang baik, maka kita akan mendapatkan jalan yang terang.
Kini sedikit demi sedikit hutangku mulai dapat terlunaskan, satu demi satu barang yang tergadaikan sudah terambil. Aku sekarang sudah mendapat jalan terang itu. Di rumah aku membuka usaha baru, les baca. Aku bisa mendampingi murid-muridku ketika belajar membaca, juga bisa menemani anak-anakku di rumah. Suamiku pun senang karena aku ternyata bisa bekerja tanpa perlu meninggalkan rumah.
Kini satu demi satu mimpiku mulai teraih. Mereka yang sebelumnya tak suka kepadaku, kini sudah merubah sikapnya. Aku tahu, aku harus mengambil apa yang memang menjadi hakku. Cinta dari suami dan anak-anak begitu berarti untukku.
Aku bersyukur sekali, aku dapat bertahan melewati banyak cobaan. Tak terbayangkan, apa yang terjadi bila aku menyerah di tengah jalan. Karena sesungguhnya.. di saat aku sedang terpuruk dalam cobaan, ada beberapa cinta numpang lewat menghadang. Namun atas dukungan dari para sahabat, aku dapat bertahan.
Sekarang di depan anak-anakku aku bisa berkata dengan lantang,” Aku ini ibu yang baik untuk kalian. Kenyataannya, apapun yang terjadi mami tidak pernah meninggalkan kalian.” Dan anak-anakku akan tertawa geli melihat aku.
 “Ah, mami GR deh.” Kami tertawa terbahak bersama.
Anak-anakku tahu benar apa yang aku maksud. Anak-anakku yang kini sudah remaja, sedikit demi sedikit mengerti tentang realita kehidupan. Banyak diantara teman-temannya memiliki ibu yang tidak setangguh diriku (he he he... kumat narsisnya), banyak ibu-ibu yang menyerah dengan berbagai cobaan hidup, ada yang lari meninggalkan keluarga karena memiliki hutang yang menumpuk, ada yang lari dengan selingkuhannya, dan bahkan ada yang rela menjual diri karena tak kuat dengan godaan setan.
Dan aku tidak begitu.
Suamiku sering tersenyum senang bila mendengar aku bercerita menggebu-gebu tentang mimpi-mimpiku. Aku cerita pada suamiku, suatu hari nanti aku ingin sekolah lagi. Aku juga bercerita, kini  aku punya sahabat-sahabat yang baik dan pintar di Ibu-ibu Doyan Nulis. Dan aku bilang, bahwa bersama mereka, suatu hari nanti aku akan mengarang buku best seller.
“Bisa gak ya, Pi?”
“Pasti bisa,” suamiku mengangguk. Menyetujui mimpiku. Mimpi indah dari seorang wanita narsis. Aku tertawa cekikikan... xixixi...

0 komentar:

Post a Comment