Breaking News

07 July, 2011

Memaknai Rasa Syukur…(Ibu-Ibu Narsis)

Anèy Maysarah

Menikah muda apalagi dilakukan sambil kuliah menurut banyak kalangan di Jawa Timuran merupakan sebuah kesia-siaan yang konyol. Motto "perempuan menikah hanya berakhir si sumur dan dapur"seolah sudah menjadi takdir yang tak bisa terelakkan. Lebih-lebih perempuan yang berlatar belakang pesantren, tak ada pilihan lain kecuali bertugas menunggu suami di rumah, memasak dan membereskan rumah. Sisanya mengurus anak-anak hingga tua dan meninggal dengan stempel istri salihah. Menyenangkan sekali bukan?
Tapi semua itu tidak terjadi padaku. Menikah muda tak ubahnya memberi banyak keleluasaan bergerak. Bila banyak teman menganggap menikah menjadikan ruang gerak mereka menjadi sempit, aku sebaliknya. Aku banyak belajar hal-hal yang sebelumnya tak pernah kulakukan semasa remaja. Semua itu karena sedari kecil aku hidup dalam kultur keluarga  pesantren yang serba terbatas. Setelah menikah aku pecicilan tak kalah dengan ABG jaman sekarang. Menikah justru telah menjungkir-balikkan duniaku dengan sangat menyenangkan. Lho, kok bisa?
“Justru setelah menikah, kita jadi punya banyak kewajiban yang kerap kali terasa membosankan”. Begitulah kebanyakan komentar banyak teman yang akhirnya mengikuti jejakku menikah muda.
Semuanya memang berawal dari komitmen dan impian yang kuat. Selain itu peran suami sebagai imam yang memegang kunci ridlo rumah tangga tak boleh di sepelekan. Dan yang terpenting dari semua itu adalah keterbukaan komunikasi.
Awalnya aku tak yakin mengingat suami juga alumni pesantren. Di pesantren selama sebelas tahun pastilah telah membentuk pribadinya sebagai sosok yang saklek dan disiplin. Kecintaan suami terhadap dunia pendidikan sudah tak dapat ditawar sehingga sempat tercipta sebuah motto “Duniaku, duniaku. Duniamu, duniamu”.
Ngeri. Bingung. Namun suatu hari, beberapa bulan setelah akad nikah dilaksanakan, sebuah kalimat mengagetkanku:
“Neng boleh belajar dimana saja bila Kakak tak punya keahlian seperti yang Neng inginkan. Asal segala kegiatan Neng positif, Kakak kasih izin..”
Yippiii, sejak kalimat itu terbit, aku langsung sibuk mengatur jadwal.
Ingin jadi relawan narkoba dan HIV/AIDS, boleh.
Ingin jadi Surveyor LPG biar dapat tambahan uang belanja, boleh (suami tak segan membantu hingga sering pulang ke kontrakan larut malam)
Jadi tukang survey proyekan, boleh.
Diamanahi organisasi dengan jabatan tertentu, boleh.
Jadi guru les privat, boleh (suami setia mengantar-jemput)
Ingin mencoba bisnis baju muslimah, boleh (dimodalin pula)
Bisnis coklat praline (suami tak ragu jadi tukang promosi pada rekan-rekan guru dan teman-teman online-nya) boleh.
Dan yang terakhir ketika aku bilang salah satu tulisanku masuk antologi satu demi satu, suami adalah orang pertama yang memberi selamat dan membanggakanku pada murid, teman dan mertua! Sesuatu yang sangat jarang dilakukan lelaki bila pasangannya tengah merintis posisi menuju puncak.
Lantas apakah aku lupa dengan kodrat istri? Tentu saja tidak. Karena (masih menurut suami) aku masih sigap melayani kebutuhannya lahir-batin. Masih bisa memasak, seterika (suami mencuci bajunya sendiri), membantunya mengoreksi ulangan harian, menjadi sekretaris pribadinya di beberapa event pendidikan, konsultan stylish, temannya berdiskusi tentang apa saja hingga menemaninya nongkrong makan jagung rebus di bundaran taman kota.
Apakah segalanya berjalan begitu mulus dan membahagiakan? Tentu saja tidak. Belum hadirnya sosok buah cinta setelah lima tahun menikah memang akhirnya menjadi gunjingan di beberapa kalangan. Sebagai perempuan normal, aku pun mengalami masa-masa terpuruk.
Apalagi setelah mengetahui ada endometriosis bercokol dalam rahim sementara hasil lab menerbitkan surat keterangan kesehatan reproduksi suami yang tidak diragukan kualitasnya. Keterpurukan membuatku jatuh sakit dan takut bertemu orang banyak. Lebih-lebih bila undangannya harus bersentuhan dengan teman-teman alumni seangkatan yang datang dengan perut buncit atau  menggendong bayi. Rasanya tubuhku yang masuk kategori gemuk ini jadi mengecil dan hilang ditelan tatapan sinis plus cibiran.
“Tuhan itu selalu adil, Neng. Neng punya banyak kesempatan yang tidak mereka punya. Ketika mereka mengeluh bosan dengan aktifitas semutar sumur-dapur-kasur, Neng bisa main facebook sambil promo coklat.
“Neng bisa bertemu banyak orang-orang penting ketika mereka sibuk di dapur.
“Neng punya kesempatan menimba ilmu dari beberapa penulis senior sementara mereka mungkin sedang perang mulut dengan mertuanya”
“Kesempatan punya anak bisa datang kapan saja jika Allah berkehendak. Allah maha tahu apa yang kita butuhkan. Tapi kesempatan beraktualisasi diri, mengembangkan mimpi…jarang sekali. Dan Neng masuk dalam kategori yang sering beruntung di banyak kesempatan. Fabiayyi “alaai rabbikuma tukadzibaan?” Nikmat Tuhan mana yang hendak kamu dustakan?
Aku meresapi nasehat suami. Terutama pada nasehat terakhir. Beraktualisasi yang bagi kebanyakan perempuan jebolan pesantren merupakan sisi kemustahilan yang masih sulit ditembus. Kutapaktilasi kebelakang. Mengingat satu persatu kesempatan yang menurut orang lain diberi nama keberhasilan.
Mengingat begitu banyak teman menyebutku sukses padahal aku masih merintis perlahan. Tatapan takjub dan sebagian lagi seperti iri. Punya usaha dagang, punya bisnis coklat yang sudah diorder hingga ke luar pulau, bisa menulis dan dibukukan, bisa bikin pintar anak orang (privat), sesekali jadi fasilitator narkoba dan punya suami yang teramat sangat pengertian tanpa banyak menuntut. Lalu, bukankah seharusnya saat ini aku bilang: Alhamdulillah Rabbi….
“Jika kamu semua mensyukuri nikmat yang Kuberikan, maka akan kutambah nikmat itu untukmu…” (Firman Allah)

0 komentar:

Post a Comment