Breaking News

07 July, 2011

Lebih Dari Sekedar Ratu

Ary Nur Azizah

Ah, siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu membosankan, bahkan membuat stres? Tidak benar lah itu! Setidaknya, itu yang saya rasakan saat ini. Selepas saya resign dari sebuah kantor, saya kini tinggal di rumah. Ibu rumah tangga, demikian gelar yang saya sandang. Orang bilang tanpa gaji. Tapi saya yakin, insyaAllah, saya mendapatkan lebih dari sekedar gaji.
Kubaca kembali petikan tulisan berjudul “Menjadi Ratu” yang dimuat oleh salah satu situs religi, empat tahun lalu. Yup! Itu adalah tulisanku pada bulan pertama aku tinggal di negeri jiran ini. Saat aku harus kembali belajar sebagai seseorang yang baru.
Awal yang berat memang. Aku yang biasa pergi pagi pulang sore, kini harus bertahan selama dua puluh empat jam di rumah. Mengasuh anak-anak, mengerjakan semua pekerjaan tanpa jeda, juga memenuhi keperluan suami. Dari semua pekerjaan itu, mengasuh adalah pekerjaan yang kurasa paling berat. Dua bocahku yang sedang pesat dalam masa pertumbuhan dan perkembangan seringkali menjadi penguji kesabaran. Untuk tidak melotot, membentak apalagi marah. Duh, susahnya!
  Masa transisi dari dua dunia yang berbeda sempat membuatku stress. Aku tertekan. Merasa tidak berguna dan tidak dihargai. Aku juga mudah tersinggung. Jika suami salah bicara sedikit saja bibirku langsung manyun. Beruntung, si ayah, panggilan untuk suami, sangat mengerti kondisiku. Dukungan dan pujiannya membuat semua hal negatif di hatiku, perlahan menguap, bak embun terkena sinar mentari.
  "Sejak resign, Mama lebih nurut sama Ayah. Makasih, ya Ma,” katanya suatu pagi.
  Aku tersenyum. Bahagia atas pujiannya sekaligus malu karena ternyata sebelumnya aku sering mbalelo alias tidak menurut, hihihi.
  Suatu hari, kubuat sebuah jadwal agar semua pekerjaan dan tanggung jawabku tidak ada yang terabaikan. Jadwal yang mencakup tiap menit yang kulalui dari bangun tidur hingga tidur lagi itu rupanya menjadi kunci pengatur waktuku. Sejak aku disiplin melakukan yang tertulis di sana, aku memiliki banyak waktu luang.
  Rumah selalu rapi, anak-anak nyaman, masakan selalu tersedia di meja dan aku masih bisa melakukan aktivitas yang sudah lama kutinggalkan yaitu tidur siang! Hebat tidak?

Hingga pada suatu sore, air mataku menetes. Kulihat dompet hanya berisi beberapa lembar ringgit. Sementara waktu penerimaan uang beasiswa masih satu minggu lagi. Kebutuhan kami memang cukup tinggi, karena ada dua anak kecil yang memerlukan banyak keperluan. Kondisi yang selalu sama setiap bulannya, sejak kami di negeri ini. Biasanya suami akan mengusahakan kekurangannya dengan berbagai cara.
Apakah aku harus kembali mengadu kepadanya kali ini? Tanya hatiku.
Tidak! Aku harus keluar dari masalah ini. Aku tak bisa terus menerus menengadahkan tangan kepada suamiku. Aku ingin meringankan bebannya seperti yang biasa kulakukan sejak kami menikah dulu. Aku harus memiliki penghasilan sendiri! Tekadku dalam hati.
  Tiba-tiba terbayang jelas wajah Bapak.
  “Anakmu sudah terbiasa jajan, Nduk. Mereka juga terbiasa membeli mainan. Akan lebih baik kalau kamu bisa membantu suamimu untuk mendapatkan tambahan uang. Banyak yang bisa kamu lakukan di sana. Kamu bisa jualan kue. Bapak rasa, kue buatanmu sedap,” nasehat Bapak saat berbincang berdua.
  Begitulah. Singkat cerita, aku menjelma menjadi seorang ibu rumah tangga plus tukang kue. Jualan, menerima pesanan bahkan mengikuti bazaar yang diadakan oleh kampus tempat suami menuntut ilmu. Jadwal hidupku pun bertambah. Tiap pagi bermotor mengelilingi kampus, mengantar kue ke kedai-kedai. Malam harinya sibuk di dapur mungil kami. Dengan kemurahan Allah, usaha kueku lancar jaya. Nikmat menerima penghasilan sendiri kembali kurasa.
  Seperti yang terjadi pada umumnya, tak ada awal yang mudah. Saat pertama aku menerima pesanan tiga jenis kue masing-masing dua ratus buah, tiga hari tiga malam aku sibuk mengerjakannya. Hingga setelah pesanan diantar, aku benar-benar terkapar. Tidur blek sek, istilah orang Jawa. Tidur seperti pingsan. Beruntung, si ayah memahamiku. Ketika terbangun sore harinya, kulihat rumah tak lagi seperti kapal pecah. Anak-anak juga anteng bermain. Menurut si sulung, ayah membelikan makanan di kedai dan menyuapi mereka satu per satu. Alhamdulillah.
Dukunganmu di awal karirku tak akan kulupa, Yah!
  Dan peribahasa alah bisa karena biasa kembali terlihat jelas dalam hidupku. Aku mulai menyesuaikan diri dengan jadwal yang semakin padat. Otakku mulai terbiasa mengorganisir semua kegiatan dengan cepat dan rapi. Jika dulu aku selalu fokus pada satu pekerjaan, misalnya mencuci piring, kini aku harus melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu sekaligus.
Tak kubiarkan satu detik pun melayang percuma. Misalnya, saat membuat adonan kue sus. Sembari menunggu adonan dingin untuk ditambahkan telur, aku menyalakan mesin cuci. Di saat si mesin bekerja membersihkan baju kotor, aku mencuci piring. Jika ada air yang tercecer di lantai aku langsung mengelapnya. Jadi ketika adonan siap diolah kembali, baju siap dijemur, piring rapi di raknya dan dapur sudah bersih.
  Kuncinya adalah disiplin dan menjaga yang sudah ada. Barang diletakkan di tempatnya agar mudah jika memerlukan. Kotoran di lantai langsung disapu dan dilap agar tak perlu mengepel setiap hari. Baju yang sudah kering langsung diseterika agar tak menjadi gunungan pakaian. Dan pesanan kue ditangani dengan manajemen waktu yang baik agar selesai sebelum saatnya.
  Dengan berdisipin, sesibuk apa pun aku masih memiliki waktu menemani anak-anak belajar. Bahkan untuk duduk manis di depan komputer. Menulis, cek email dan fesbukan! Hmm… siapa mau?
  “Wah, Mama hebat! Bisa mengerjakan delapan ratus kotak kue tanpa mengabaikan tugas lainnya.” Pujian kembali datang dari suamiku selepas kami mengantar delapan ratus risoles dan delapan ratus potong brownies kukus untuk acara pengajian akbar Ustadz Yusuf Mansyur.
  “Alhamdulillah, semua karena berkah Allah. Juga dukungan ayah dan anak-anak.” Aku balik memujinya.
  Semakin hari kesibukan suami di kampus semakin padat. Bantuannya yang dulu sering datang tanpa kuminta, perlahan namun pasti mulai menghilang. Ayah juga makin sulit meluangkan waktu untuk menemaniku pergi. Aku harus bisa menyetir mobil sendiri, supaya tidak tergantung kepada Ayah! Sebuah semangat menyala-nyala dalam hatiku. Beruntung, seorang kawan berbaik hati mengajariku menyetir.
  “Mama yang jemput Thariq di sekolah, ya. Ayah dipanggil supervisor,” kata suamiku di ujung telepon. Membayangkan menyetir sendiri membuat jantungku berdegup sangat keras. Aku nervous. Takut menabrak dan mencelakakan anak-anak.
  “Tenang, Ma. InsyaAllah nanti deg-degannya hilang sendiri kok!” Suamiku memotivasi.
  Hari itu, sebulan berlalu sejak aku mulai belajar menyetir. Pelajaran memundurkan mobil bahkan belum kudapatkan. Tapi apa boleh buat? Thariq harus segera dijemput. Jalan kaki? Tak mungkin, sebab si kecil Zaki sedang tidur pulas. Maka, dengan Basmallah, kugendong Zaki dan bergegas menuju mobil yang terparkir di halaman flat. Beberapa kawan senegara memandangku dengan senyum di bibir.
  “Wah, dah mulai menyetir sendiri, Mbak Ar?” sapa salah seorang di antara mereka.
  Aku hanya mengangguk dan melempar senyum garing. Bukan karena sombong tapi karena degupan jantungku belum juga berhenti. Kunyalakan mesin. Tak kuduga, mobil melaju dengan sukses. Kuikuti semua petunjuk sang kawan. Siang itu aku berhasil menjemput anakku. Namun ketika hendak kembali menuju parkir flat, aku panik lagi. Jalan di depanku berbelok dan menanjak. Kutekan kopling dan gas bersamaan. Kakiku yang terlalu keras menekan kopling dan kurang menekan gas, membuat mobil mundur dengan sendirinya.
  “Ayo, Ma! Sebentar lagi masuk longkang!” Teriak Thariq, saat melihat got menganga di sebelah kiri.
  Aku makin bingung. Takut dan khawatir bercampur menjadi satu. Belum lagi tangisan Zaki yang kian keras. Kucoba menenangkan diri. Kuhentikan mobil dengan rem tangan. Beberapa saat kemudian, kuangkat rem perlahan sembari menekan gas pada saat bersamaan. Alhamdulillah, mobil berhasil maju.Fiiiuhhh!
  Sejak kejadian itu, aku semakin berani menyetir. Jadwal hidupku bertambah lagi, mengajak anak jalan-jalan mengelilingi kampus, refreshing sekaligus melatih kemampuan menyetirku.
  Mendapati kelihaianku mengendarai mobil, Ayah nampak makin bergantung kepadaku. Kini si dia benar-benar hanya memikirkan sekolahnya. Akulah yang mengerjakan semua urusan rumah tangga, bisnis sekaligus antar jemput anak. Sisi positifnya, aku bisa mengerjakan semua berdasarkan rencanaku sendiri. Bisnis kueku menjadi jauh lebih lancar karena sama sekali tak tergantung kepadanya. Sisi negatifnya, seringkali timbul rasa sedih saat melihat sesama istri diantar suaminya. Kok aku jadi iri, ya?Hhh, dasar hati! Bersyukurlah, supaya nikmatmu ditambahkanNya!
***
  Kini, aku sedang menanti kehadiran anak ketiga. Aku harus terus bersyukur karena kehamilanku kali ini tak merepotkan. Aku masih bisa beraktivitas seperti biasa, berjualan kue, menerima pesanan, mengerjakan semua pekerjaan sesuai jadwal, mengantar jemput anak bahkan belanja bertiga bersama dua buah hatiku.

Kesibukan si ayah yang semakin tak bisa diganggu karena sedang menulis thesis, membuat rasa manjaku harus ditekan sedemikian rupa. Dan Allah memudahkan semua itu buatku.
  “Maafkan Ayah karena sudah melibatkan Mama dalam kesulitan kita kali ini, ya Ma. Ayah sibuk sendiri hingga belum bisa memanjakan mama seperti kehamilan sebelumnya. Mama juga masih harus terus berjualan karena kita memang memerlukan uangnya. Yang sabar, ya Ma,” ucap suamiku suatu pagi. Diraihnya tanganku lalu digenggamnya.
  Sebenarnya, aku tak pernah merasa berat menghadapi semua ini. Allah menganugerahkan hati yang selalu riang kepadaku. Tapi ketika dia mengucap kalimat itu, air mataku luruh juga.
  “Ngga apa-apa, Yah. Tenang saja, kalau Mama masih ketawa-ketawa itu tandanya Mama masih kuat,” ujarku. Aku tak berani memandangnya karena air semakin deras mengalir dari sudut mata.
  Tiba-tiba terngiang kembali cerita seorang sahabat. Bahwa ada kawan yang mengatakan aku terlalu ngoyo bekerja. Terlalu berambisi memiliki bisnis yang sukses. Tak bisa mengukur diri. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. Aku yakin, Allah Maha Tahu niat di hatiku. Allah Paling Tahu kondisi kami.
Aku tak perlu takut dengan tanggapan buruk orang lain. Yang jelas aku tak merepotkan dan mengganggu mereka. Bagiku yang terpenting adalah kebahagiaan keluargaku. Aku juga harus terus meluruskan niat agar tak melenceng dari tujuan semula.
  “Inilah waktuku, Yah. Allah berikan kesempatan padaku untuk mendampingi dan membantumu. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ridhoi aku. Doakan agar selalu sehat dan kuat, ya. Peran ini, membuatku merasa lebih dari sekedar ratu,” kubalas genggaman tangannya. Hangat mengalir di hatiku.
  Pandangan mata kami saling beradu.

Ya, apalagi yang bisa membuat seorang perempuan bangga selain menghadirkan bahagia di hati belahan jiwa dan para bocahnya?
***

0 komentar:

Post a Comment