Breaking News

04 July, 2011

Kejamnya Kata-kata

Dewi Muliyawan

Minggu lalu saya ikut satu pelatihan tentang sales. Sebelum pelatihan dimulai, semua peserta mengikuti semacam tes kepribadian. Dari hasil tes ini,  kami jadi tahu kalau sebagian besar peserta ternyata punya rasa percaya diri (PD) yang sangat rendah. Padahal untuk menjadi seorang sales yang OK,  PD tentu harus setinggi langit.
  Jadi untuk memompa PD ini, mentor meminta kami mengingat-ingat kembali kira-kira kejadian apa di masa lalu yang membuat PD jeblok. Kemudian beliau akan membantu menghilangkan emosi-emosi negatif akibat dari kejadian itu.  Yang mengejutkan ternyata penyebab terbanyak hancurnya PD kami adalah kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang terdekat, seperti ibu dan bapak.
Seorang rekan, sambil menangis, bercerita bahwa saat dia berusia 6 tahun, ibunya berkata kalau dia tidak bisa berhitung. Ibunya juga bilang kalau dia tidak sepintar kakak dan adiknya. Hingga sekarang, lebih dari 30 tahun kemudian, dia masih mempercayai kata-kata itu. Masih yakin kalau dia benar-benar bodoh. Sambil menangis teman saya itu bercerita kalau dia bisa mengingat dengan jelas kapan dan dimana ibunya melontarkan kata-kata itu. Dia masih bisa merasakan betapa hatinya sakit sekali.
Rekan yang lain berkata rasa PD-nya menghilang karena orang tuanya selalu berkomentar tentang badannya yang gendut dan hidungnya yang pesek. Peserta lain lagi mengaku kalau semasa kecil selalu disebut berkulit hitam dan berkepala panjul.
Alangkah besarnya akibat dari kata-kata yang tidak positif itu. Satu atau dua kata negatif yang diucapkan oleh orang tua, sengaja atau tidak,  bisa membuat seorang anak membawa beban kesedihan dan sakit hati selama puluhan tahun.
Semoga kita sebagai orang tua bisa lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata...

0 komentar:

Post a Comment