Breaking News

07 July, 2011

KANTONG DORA EMONKU

Dhia Nisa

          Belum akhir masa kuliah, aku sudah pasang kuda-kuda keyakinan kalau aku tidak perlu bekerja di luar rumah lagi. Aku mau cari suami saja. Ibu rumah tangga itukan profesi juga. Biar suami yang bekerja di luar, aku di rumah saja mengurus rumah tangga kami dan terima setoran.
          Alhamdulillah Allah mendengar inginku. Selang tiga tahun lepas dari pendidikan, Allah mengirim seseorang dengan caranya yang indah, tanpa pacaran, langsung khitbah. Hehehe… Tak semudah itu sebenarnya, tentu melalui proses pergulatan batin dan pencarian informasi terhadap calon suami tetap aku jalanin. Tidak sampai dua bulan, ijab pun terucap. Bismillah aku melangkah, melamarnya jadi komisaris utamaku, menyuruhnya mengangkatku menjadi manager rumah tangga kami.
          Suamiku hanya seorang marketing di pergudangan. Pergudangan itu agak di tepi Samarinda, tapi bukan tepi-tepi amat sih, jalannya itu lo yang libet, rusak parah. Di sini suamiku dapat motor pinjaman, motor kantor. Sebagai marketing, harus rela dikejar-kejar target, ditegur bos kalau target tak terkejar. Potongan komisi, sementara gaji tak lebih dari UMR, malah bisa dibilang kurang saat itu.
           Sebagai keluarga kecil, hanya aku dan suami, penghasilan demikian tidak terlalu bermasalah. Masih bisa enjoy bahkan cuci mata di pusat perbelanjaan. Sekedar cuci mata sah-sah saja donghehehe…
          Setelah dua tahun menikah, Allah tambah satu anggota rumah kami. Allah titipkan Faishal Hanif. Suka cita kami menyambut hadirnya. ASI jadi menu utama Hanif. Alasan utamanya bukan karena faktor ekonomi, tapi lebih kepada manfaat ASI yang sangat rugi kalau harus disia-siakan. Allah beri susu ajaib tak ternilai dan berlimpah itu dalam tubuhku, nikmat mana lagi yang mesti aku dustakan?
           Di sela menyusui dan merawat Hanif kecil, aku masih dengan rutinitasku sebagai ibu rumah tangga, istri dan pekerjaan sampinganku. Sebagai kuli ketik. Sejak kuliah aku terbiasa membiayai hidupku dengan menjual jasa mengetik. Kebetulan Allah titipkan sebuah Personal Computer, warisan bapakku di rumah kami. Promosinya dari mulut ke mulut. Alhamdulillah banyak yang puas dengan hasil kerjaku, rapi dan teliti.
Selain mahasiswa di kampusku, ada juga mahasiswa dari kampus lain. Ya sistemnya teman bawa teman. Ada juga clientku para wartawan yang membuat tabloid, atau sekidar mengetikkan beritanya, maklum saat itu tak banyak yang memiliki komputer apalagi laptop. Bapak-bapak kontraktor yang suka titip hitung-hitungan proyeknya. Sampai ibu dan bapak guru, juga Ketua RT. Subhanallah, hasil belajar komputerku secara otodidak bermanfaat juga.
           Iya benar, aku belajar komputer otodidak. Hanya kakak-kakakku yang ikutan kursus, aku ‘curi’ ilmu mereka, entah itu bertanya atau membaca diktat yang mereka peroleh dari kursus atau buku-buku komputer yang mereka punya. Tapi lebih banyakkan membaca sih J. Dari program Wordstar (programbeken nulis dokumen zaman dulu) sekarang sudah digantikan sama MS Word yang sangat canggih. Dulu kalau mengetik mesti pakai kode titik dan kontrol di Wordstar. Nah hitung-hitungan pakai program Lotus123r24, perintahnya diawali dengan slash (/), zaman sekarang terkenalnya MS Excel, lebih komplit dan lebih nyaman bekerja pakai ini.
           Jadi Ibu Rumah Tangga itu sangat asyik. Suka pakai ilmu kepepet. Ketika kepepet memuncak, otak jadi bekerja dengan sempurnanya. Berputar, berputar dan berputar mencari jalan dan celah. Ilmu-ilmu yang bersemayam di otak jadi keluar menghentak-hentak minta diaplikasikan, itu kalau mikirnya dengan tenang. Kalau mengandalkan pikiran kalut, semua akan terasa sulit dan sempit.
           Ketika ada tawaran layout buletin, samber aja. Yang terpenting punya dasar. Entah menguasai apa tidak, yang penting berani mencoba. Dari proyek itu kita akan tambah pintar. Apa yang kita tidak ketahui sebelumnya, otomatis kita cari jawabannya. Bagaimana membuat buletin yang menarik? Layout yang variatif dan sesuai tema buletinnya. Belajar program layouter semacam Page Maker, hingga modifikasi foto dengan Photoshop, aku jabanin. Alhamdulillah berkat berani mencoba dan yakin bisa, ilmu itu sampai kini ngendon di otakku. Aku yakin ilmu itu pasti akan terpakai terus. Insya Allah.
           Di tengah asyiknya aku melayani para clientku, disaat itulah mulai bermunculan polemik-polemik baru dalam rumah tangga. Salah satunya masalah keuangan. Suamiku mulai bosan dengan pekerjaannya sebagai marketing, dari marketing beraneka good consumer sampai marketing oli dilakoninnya.
Seakan hidupnya tak bisa lepas dari lingkungan pergudangan. Ia ingin memulai sesuatu yang baru, suasana baru dan peningkatan ekonomi yang baru juga. Aku pun mendukungnya, toh tak baik membiarkannya bekerja dengan suasan hati yang tidak bersahabat. Motor kantor dikembalikan. Mulailah suamiku membuat lamaran demi lamaran ke perusahaan yang diminatinya. Mencoba untuk kredit motor. Tak semudah bayangan kami. Kreditan tak pernah sampai 1 tahun bertahan, ditarik oleh dealer.
           Kalau polemik suami cari kerja, mungkin tidak terlalu masalah buat aku. Toh aku masih punya ladang penghasilan. Kantong Doraemonku, meskipun kantongnya tak seluas Kantong Doraemon.
          Dari kantong Doraemonku, aku punya komputer tua peninggalan bapakku yang bisa aku manfaatkan menjadi tukang ketik atau layouter, membersihkan virus atau sekedar mengecek kabel CPU yang ngadat. Aku juga punya obeng berbagai ukuran, tang, selotip, dan pernak pernik kecil lainnya untuk nyambung-nyambung kabel colokan listrik, setrika, atau merakit mainan anak-anak semacam tamiya, gasing, dan beberapa lainnya.
Aku punya jarum tangan buat menjahit dan benangnya, menambal kain yang robek walau sekedar jahit jelujur dan silang. Pekerjaan yang belum semua suamiku bisa lakukan. Sssttt… lambat laun suamiku sudah tertular hobiku mengutak-atik kabel dan merakit mainan anak-anak kami.
           Semua baik-baik saja, sampai berita hebohnya penggusuran rumah di Jalur Hijau Tepian Sungai Karang Mumus, Samarinda, tempatku berteduh, mengoyak-ngoyak pikiranku. Rumah kami tidak seperti rumah lainnya yang berjejalan di tepi sungai. Rumah kami rumah warisan kakek, rumah zaman dulu, rumah tunggal dan panjang, dari jalan raya sampai ke bibir sungai. Letaknya cukup strategis, dipinggir jalan raya. Disinilah aku mendirikan usaha pengetikan Pamili Komputer. Jantung ekonomiku.
           Rumah kami akan digusur dan akan dijadikan taman kota, selain salah satu tujuan utamanya mengatasi banjir kota ini. Oh No, meskipun dapat penggantian tetap saja tidak mengurangi was-wasku. Penggantian rumahnya jauh dari jalan raya, agak di tepi Samarinda. Tak kan bisa berkembang usaha pengetikanku disana. Bukan tanpa usaha aku memperjuangkannya, mencari penggantian hak atas usaha yang aku bangun selama ini. Tapi selalu saja jalan buntu, bahwa pekerjaanku tak bernilai dimata mereka.
           Sudahlah, rezeki Allah maha luas, pikirku. IA tak akan menelantarkan hambaNYA begitu saja. Ini bukanlah akhir dari perjuangan, tapi awal dari perjalanan baru kami. Sejak itu, resmi perlahan tapi pasti client ku menjauh. Menjauh karena tidak menemukan lagi alamatku yang baru atau bahkan enggan mengejar keberadaanku yang agak jauh dari garis jalan raya. Kini kami menempati rumah yang kami bangun sendiri dari hasil menjual rumah ganti rugi tersebut, di atas tanah peninggalan almarhum bapakku, dibilangan Pemuda 4, jauh ke dalam, di sebuah gang.
           Di sinilah lahir anak keduaku, Mufidah Dhianisa. Dua tahun berjarak dengan kakaknya. Suamiku memulai usaha barunya, membuka jual beli sewa property. Ia mencoba menerapkan ilmu tersebut setelah malang melintang ikut agent property yang ada di kota ini. Ia memutuskan membuka usaha sendiri, karena tidak puas dengan pembagian komisi yang didapat. Ia mulai mengajak teman-temannya bergabung dengan memberikan komisi dan kerja yang jauh friendly, lebih baik dari pengalamannya yang sudah-sudah.
           Sementara aku. Aku mulai berkenalan dengan dunia internet. Satu lagi kantong Doraemonku terisi. Aku mulai belajar internet marketing dari web ini http://klikdisini.com/teruji dari situ aku merasakan sensasi dapat duit masuk rekeningku ketika aku bangun tidur. Dari situ juga aku termotivasi untuk belajar membuat website, blog, ebook, video tutorial, sedikit SEO (Search Engine Optimation), dan ilmu lainnya. Aku punya blog dan website sendiri yang sedang aku kelola. Aku juga pernah membuatkan blog dan dibayar. Nikmat ya. Dan semua kudapatkan dengan otodidak.
           Aku jadi tahu kalau internet itu bukan sekedar untuk searching doang, bukan untuk cari teman saja. Tapi lebih banyak lagi manfaat internet yang bisa digali. Sama juga dengan facebook yang fenomenal, bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya yang bisa menghasilkan. Menghasilkan ilmu dan pendapatan.
           Sekarang-sekarang ini aku lagi gandrung dengan kepenulisan, aku ingin mengukir jejakku di dunia ini lewat sebuah buku. Aku ingin mencatat sejarah diriku lewat buku. Aku ingin menuangkan isi hati dan pikiranku kebentuk buku. Pokoknya aku ingin punya buku sendiri, jadilah Kantong Doraemonku berisi semua yang berkaitan dengan tulis menulis dan baca membaca. Insya Alloh aku bisa. Aku bisa karena aku mampu. Aku mampu karena aku mau.
           Aku yakin, Kantong Doraemonku pasti bermanfaat, sampai kapan pun juga. Ah iya, satu lagi. Aku suka menyelipkan uang sisa belanja di kantong doraemonku, ketika suamiku lagi butuh, dia bilang, “Ada uang ya ma?”
Dengan sigap aku mengeluarkannya walau pun tak seberapa, seolah kantong Doraemonku tak kering oleh lembaran itu. Yang terpenting adalah bukan besaran jumlah, tetapi pas butuh, pas ada. Subhanallah.*

0 komentar:

Post a Comment