Breaking News

16 January, 2012

Harus Dicoba Lagi

Oleh : Nama Ku Yuyun-

Seperti bayi yang baru belajar duduk, merangkak, akhirnya berdiri dan berjalan, setiap tahapnya diiringi tepuk tangan kegembiraan. Optimis, besok pasti bisa!. Semua tahapan ada waktunya, perlu pengalaman jatuh bangun yang bukan hanya sekali.
Hmmm...suatu saat, pasti bisa berdiri diatas reruntuhan kegagalanku yang hanya sekali itu. Duuuh....tegang banget....!!, sambil ngopi ya....^.^.

Ini tentang pengalamanku lima tahun silam....

Sebenarnya, kami sudah memperhitungkan dengan matang. Berbekal uang tabungan yang kami simpan selama kurang lebih 10 tahun bekerja, kami merencanakan menata kehidupan kami yang selama itu tanpa arah tujuan, karena nomaden dari satu tempat ke tempat lainnya, menuruti tugas dari kantor. Selama itu juga, setiap akhir kontrak kerja, jantung kami  dipacu dengan kecemasan, 'tahun depan kami masih digaji tidak ya??'.

Tahun 2006 itu, keputusan besar kami ambil. Suamiku berhenti bekerja. Kami berencana membeli rumah  sebagai tempat tinggal permanen ( kami sudah mempunyai sebuah rumah mungil di Jakarta )  dan merintis usaha yang sesuai dengan bidang yang kami kuasai, bidang properti.
Pilihan tempat tinggal nyaman kami adalah salah satu kota di JawaTimur, dikarenakan,  kami berdua asli Jawa Timur .. ^.^.

Sebuah rumah impian kami beli dengan cara kredit selama 15 tahun. DP rumah kami ambil 30% dari tabungan yang kami punya, kami juga mengambil kendaraan yang menguras 50% sisa tabungan. Untuk usaha properti kami menjaminkan rumah yang ada di Jakarta. Sebuah perhitungan yang beberapa kali menyulut konflik sebenarnya, namun dari sinilah kami mendapatkan beberapa hikmah dari keputusan yang kami ambil.
  
Proses jual beli maupun proyek pada awalnya berjalan lancar, sesuai rencana kami. Tiap bulan tagihan rumah, kami bayar dari sisa tabungan yang ada, sementara proyek masih belum memberikan keuntungan. Perjanjian di atas kontrak, pembayaran dilakukan per-prosentase pekerjaan yang sudah dikerjakan. Uang itu kami putar untuk pembelian bahan bangunan dan menggaji para pekerja. Sebagian bahan dalam jumlah besar, kami tidak mengambilnya secara cash. Dengan perjanjian tertulis, kami akan membayarnya dalam jangka waktu tertentu. Sampai suatu ketika, jatuh tempo pinjaman atas jaminan rumah kami di Jakarta sudah mendekati batas masa pinjaman. Bersamaan itu, proyek juga dalam masa finishing, membutuhkan bahan-bahan yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara pembayaran dari pemilik proyek menunggu serah terima. Parahnya lagi, tagihan rumahku sudah dua bulan ini menunggak!.
   
Kebutuhan yang beruntun, sementara aset yang masih tersisa, kendaraanku, sudah masuk daftar jaminan bank juga. Panik tentunya, namun kami mencoba menyelesaikannya satu persatu. Rumah yang di Jakarta kami jual untuk menutupi pinjaman, sisanya untuk menutupi tagihan rumah. Kalau rumah kami yang sekarang juga disita, betapa hancurnya perasaan kami, maka dengan berurai air mata, mobil kamipun juga ikut dilelang.Kami terpaksa berbohog pada anakku "Mobilnya dimasukin bengkel dulu ya.., sudah rusak banget!" dia bersedih. Sampai beberapa bulan dia masih protes pada kami, "Kok bengkelnya nggak canggih ya, Ma?, mobil satu aja kok sampai berbulan-bulan belum beres...?!".
   
Masalah ternyata tidak berhenti disitu, pemilik proyek mengulur-ulur pembayaran, alasannya bermacam-macam. Penantian sehari, sebulan dan bahkan hampir setahun ini, belum juga kami mendapatkan kejelasan. Kebutuhan dapur nyata setiap hari harus terpenuhi, biaya sekolah, tagihan rumah dan lain-lainnya.
Ternyata, setelah semua kejadian singkat itu, kami menyadari beberapa hal kekeliruan kami memanage keuangan. Jera ?? tentu saja tidak!. Kami harus bisa memulainya kembali, belajar dari kesalahan tentunya. Sampai saat inipun bayangan proyek kami itu masih menghantui, beberapa  rumah type 70 yang sudah siap huni, kami hanya perlu sedikit lagi membuatnya menjadi benar-benar milik kami ( Eh ... milik pengembang sih...). Beberapa item kontrak proyek menyudutkan kami,memaksa kami mundur sejenak mengumpulkan energi kembali.
    Biasanya sambil bercanda, kami mengenang kejadian itu. Memulai hal besar, harus dengan perhitungan yang matang. Kepentingan bersama harus didahulukan diatas kepentingan pribadi, ini untuk mengenang konflik kami tentang pembelian rumah dan mobil secara bersamaan. Dua pengeluaran besar yang sebenarnya bisa bergantian, namun kami berdua mmemaksakan kehendak saat itu, padahal kami juga menyusun rencana besar yang lebih penting, sebuah usaha.
Selain itu, keputusan kami mengambil beberapa rumah juga termasuk kesalahan fatal, harusnya kami memulainya dengan satu atau dua rumah dahulu, disesuaikan dengan modal yang kami punya. Hmmmm.....Percaya diri yang terlalu tinggi rupanya...
Nasi sudah menjadi bubur, selepas kontrak kerja kali ini, kami ingin memulainya kembali. Lima tahun ini kami banyak belajar, semoga kami bisa lebih baik, lebih pintar dan bisa mengelolanya sesuai mimpi kami. Semoga juga Alloh memudahkan segala usaha kami...Amin...

0 komentar:

Post a Comment