Breaking News

07 July, 2011

Cita-Citaku Adalah Menjadi Ibu Rumah Tangga

Oleh  :  Ayunin

Sesaat sebelum menikah, aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan berniat menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.  Banyak yang menganggapku bodoh atas keputusan yang kuambil, bahkan bosku sendiri mengatakan,
“Saya heran dengan kamu, sejak kapan kamu tunduk pada laki-laki? Kamu itu Wonder women, kenapa kamu mau saja diatur-atur sama suamimu?”
Karena di perusahaan aku termasuk karyawati yang pintar dan pemberani, karenanya bos mempercayakan banyak pekerjaan padaku mulai dari Penerimaan Bahan Baku, gudang spare part mesin, gudang minyak, mengurus keperluan teknisi bahkan perusahaan mengikutsertakan aku dalam pelatihan teknisi sehingga aku mampu memperbaiki spare part yang rusak seperti :  Timer, Magnetic Contactor, Relay, valve, motor dan masih banyak lagi yang lain.
Suatu saat pernah ada KUNKER DPRD Kediri ke perusahaan tempatku bekerja, tanpa sengaja ada yang melihatku sedang menguji coba spare part yang baru kuperbaiki, spontan mereka bertanya padaku
“Mbak, lulusan SMK Mesin ya?” setelah mendengar jawabanku kalau aku lulusan SMK jurusan akuntansi mereka terkagum-kagum.
  Mendengar keputusanku berhenti dari pekerjaan, membuat temanku kecewa
“Kalau aku jadi kamu aku takkan berhenti kerja, cari kerja susah lo”,
Dan banyak lagi kata-kata yang menurutku sangat lucu.  Memang, perjuanganku untuk meraih pekerjaan sangatlah sulit, tapi begitu aku mencapai posisi yang boleh dibilang menjanjikan gaji yang besar.  Aku justru  memilih untuk menjadi istri yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku, tadinya memang berat tapi aku tetap berusaha karena semua demi masa depanku.
Setelah menikah dan mempunyai anak, nyaris hari-hariku menjadi semakin sibuk.  Saat adzan subuh berkumandang aku mulai gerilya, setelah sholat subuh aku mulai profesiku menjadi koki untuk mengenyangkan keluarga kecilku lalu beralih menjadi OB untuk membereskan rumah yang berantakan, mencuci, menyetrika, dan masih banyak tugas lain yang menanti uluran tanganku seperti menjadi baby sitter, menjadi guru untuk anakku dan aku juga mempunyai usaha rumahan yang buka setelah pekerjaan rumah tanggaku selesai.
Pilihan menjadi ibu rumah tangga sangat berat apalagi urusan merawat anak, karena susahnya merawat dan mendidik anak maka banyak ibu yang lebih memilih bekerja dengan alasan karirnya lagi bagus dan bahkan tega menyerahkan tumbuh kembang anaknya pada baby sister.
Tapi semua itu tidak berlaku padaku, aku tak ingin kehilangan momen-momen berharga dari dari tumbuh kembang anakku dan aku akan berusaha mendidik anakku dan menjadikan keluarga kecil kami menjadi madrasah pertama bagi pertumbuhan anak-anakku
Untuk seabrek kegiatanku mengurus anak dan usahaku di rumah, kadang membuat suami merasa kasihan.  Bahkan berkali-kali dia menawarkan untuk mencari pembantu rumah tangga, tapi aku selalu menolak karena rasanya tidak rela kalau orang yang aku sayangi lebih membutuhkan tenaga orang lain daripada aku sebagai ibunya.
Saat sore hari, aku mengawasi anakku yang lagi bermain di depan rumah sambil menjalankan usahaku.  Dari kejauhan kupandangi anak-anak yang lagi bermain, satu diantara mereka adalah anakku.  Terdengar gelak tawa riang anakku, sungguh.. hanya dengan memandang wajah-wajah polos itu, batin ini terasa tentram.  Melihat tingkah lucu anakku, mampu mengalirkan semangat dan kekuatan saat permasalahan hidup datang menghampiri keluarga kecil kami.
Setelah maghrib, aku menjadi guru sekaligus ustadzah yang senantiasa bersabar dalam mendidik anakku.  Setelah semuanya beres, waktunya menjadi pendongeng untuk menidurkan anakku tak lupa juga menjadi penasehat spiritual agar anakku menjadi anak yang sabar dan senantiasa beriman padaNya.
Melihat semua aktifitas yang kulakukan membuat suamiku bangga, apalagi melihat anakku yang sudah lancar membaca, menulis dan berhitung juga menghafal doa dan membaca ayat Al-quran.
“Semua karena keuletan kamu dalam mendidik anak kita, makasih sayang,” kata suamiku bangga ketika mendengar Radit menghafal do’a dan membaca cerita dengan lancar sekali.
Aku bukanlah ibu yang pintar seperti ibu-ibu masa kini yang berpendidikan tinggi, tapi aku hanyalah seorang ibu yang mengenyam bangku sekolah sampai SMK, tapi karena keinginanku untuk terus belajar dan berkat motivasi dari suamiku yang selalu bilang,
“Kalau ilmu bisa didapat darimana saja, tidak hanya dari bangku kuliah dengan banyak membaca Insya Allah kamu akan mengenal dunia”.  Sungguh kata-kata inilah yang memacu semangatku untuk terus belajar.
Pagi itu, suamiku kedatangan sahabatnya yang lama tidak bertemu karena kesibukannya bekerja di Jakarta.  Aku lihat suamiku ngobrol serius dengan sahabatnya, tanpa sengaja aku menguping pembicaraan mereka.  Ternyata istrinya yang bekerja di Surabaya telah menghianatinya, kini pernikahan mereka di ujung tanduk.
Suamiku juga banyak menceritakan tentang keluarga kecil kami, bahkan yang membuatku bangga adalah saat aku mendengar dia mengatakan pada temannya kalau aku adalah istri yang terbaik untuknya.
Setelah temannya berpamitan pulang, suamiku langsung mendekati aku yang saat itu sedang sholat dzuhur, “Aku bangga sekali dengan kamu sayang, di saat para wanita berlomba-lomba menjadi “Number One” dalam segala hal termasuk menjadi wanita karier dan penampilan, tapi aku melihat tak ada yang berubah dari dirimu.”
Masih teringat saat suamiku masih bekerja diluar rumah sedang aku mengelola usaha di rumah, ketika usahaku semakin lancar aku meminta suamiku untuk berhenti dari pekerjaanya untuk membantu mengelola usaha rumahan kami.
Sebenarnya bisa saja kami sama-sama bekerja untuk mendapatkan banyak uang, tapi aku tidak melakukannya karena buatku rejeki ada yang mengatur, asal kita mau berusaha insya Allah kita akan mendapatkan hasil. Kini aku dan suamiku bersama-sama mengelola usaha rumahan kami, dan bersama-sama kami akan mendidik anak-anakku agar menjadi generasi handal dimata Allah.
 Sungguh, aku sangat bangga punya suami sepertimu yang selalu menjaga dan melindungi aku.  Aku hanya ingin mendedikasikan diriku demi kecemerlangan masa depan keluarga kecil kita, melindungi anak kita dari segala macam kekerasan dan kebobrokan zaman dan juga menjaga keselamatan dunia – akhirat keluarga kita, sayang.”  kataku dalam hati.   Semoga Allah mengabulkan do’aku. Amiin.

0 komentar:

Post a Comment