Breaking News

07 July, 2011

Be A MomPreneur, Be A Real Me!

Roza Rianita Nursetia
(mau coba ikutan, pengalaman pertaman nih posting disini, mohon masukannya ya, soalnya baru belajar ^_^)

Aku suka sekali berwirausaha dan berkegiatan dengan segudang aktivitas. Sungguh! Sejak aku sekolah, bahkan dimulai saat aku masih kelas 4 SD. Saat itu aku menyewakan buku dan majalahku, yang kugelar di atas meja terasku. Sebagian aku gantung di tempat jemuran, untuk menarik perhatian. Hasilnya lumayan, aku bisa beli buku dan komik baru. Aku juga kreatif lho… aku membuat sendiri saputangan cantik dan kartu lebaran berhias kulit pohon dan dedaunan kering yang kujual kepada guru-guru dan teman-temanku.
Kuliah juga kulalui sambil bisnis dan bekerja freelance menjadi penerjemah para JICA expert (Japan International Corporation Agency) serta editor di sebuah penerbitan majalah lokal di Bandung. Bisnis yang kugeluti bermacam-macam, mulai dari berjualan senter, point laser, dan radio mini, hingga bisnis parcel. Mulai dari “jual dédét” kepada dosen dan teman-teman kampus, hingga proyekan besar memproduksi ratusan parcel lebaran dan puluhan parcel eksklusif untuk para pejabat pemerintahan. Kurekrut teman-teman kampus untuk membantu proses produksi dan menambah modal usaha.
Hasilnya? Bukan lumayan lagi, tapi lebih dari cukup untuk membeli HP polyphonic yang tercanggih saat itu, beberapa perhiasan emas untuk investasi (saat itu baru terpikir sampai di situ investasinya), dan membayar uang kuliah sendiri, yang biasanya ikut penangguhan setiap semesternya. Maklum,dengan kondisi ekonomi keluargaku, prioritas utama kami adalah membayar SPP adik laki-lakiku di ITB, yang saat itu mulai mahal biayanya.
Bisnis tetap aku lakukan setelah lulus kuliah dan bekerja. Kupikir, predikat ‘lulusan terbaik-ku saat aku mengambil program Akta Mengajar tak boleh kusia-siakan. Aku mengajar di sebuah Full Day Schooll di Bandung Utara yang cukup menguras waktu dan energi.
Aku menikah dua tahun kemudian. Setelah menikah, bisnisku bertambah. Setelah melakukan riset pasar kecil-kecilan, kami membuka usaha mini dessert café di bilangan Jl. Riau, tempat wisata belanja yang terkenal akan Factory Outletnya. Aku juga merambah dunia bisnis pernikahan. Berbekal pengalaman saat mengurus pernikahan sendiri yang ingin serba perfect, aku memilih menjadi Wedding Planner dan Organizer, membantu calon pengantin mewujudkan pernikahan impian tanpa harus mengeluarkan budget lebih.
Hmm.. sibuk yaa..? tapi aku sungguh menikmatinya. Ya, sekadar mengisi waktu kosong karena suamiku nyaris setiap minggu ditugaskan di Jakarta dan hanya pulang setiap wiken. O ya, aku juga terkadang melibatkan suamiku yang hobby fotografi. Kebetulan dulu beliau mempunyai bisnis Wedding Photography di Jakarta, namun harus bubar karena idealisme foto hitam-putihnya tertimbun tren dunia digital. Rasanya senang sekali bekerja sama dengan suami sendiri.
Alhamdulillah, saat hamilpun aku tidak mengalami gangguan yang berarti. Aku tetap melakukan semua aktivitasku seperti biasa. Setiap hari aku mengajar seperti biasa, sorenya mengontrol para pegawai di café, dan terkadang meeting dengan calon pengantin di café-ku. Begitu pula saat meng-organizeacara pernikahannya. Aku tetap mengontrol kerja para vendor dan timku, agar bekerja tepat sesuai keinginan sang mempelai. Mulai dari dekorasi gedung, catering dan peralatannya, baju pengantin, mobil, soundsystem, dan lain sebagainya. Aku tetap memeriksa semuanya dengan detail. Tak kuizinkan ada piring bocel dan bunga layu di event-ku.
Sehari sebelum melahirkan, aku memimpin rapat besar dengan para vendor. Paginya, aku melanjutkan pembuatan soal-soal ujian SAINS murid-muridku. Hingga jam 9 pagi, ketubanku pecah. Dengan tetap tenang, aku ke rumah sakit dan melahirkan 12 jam kemudian secara normal plus plus (hehe.. istilahku untuk melahirkan normal dengan bantuan balon, suntikan induksi, dan vacuum).
Melihat wajah mungil bayiku, rasanya aku malas melakukan hal lain. Ingin memandanginya saja setiap waktu. Aku ingin menjadi ibu terbaik untuknya. Ingin memberikan segala yang kupunya.  Sayang, aku tak bisa resign begitu saja. Aku terikat kontrak dengan pihak sekolah dan anak-anak muridku. Maka, setelah masa cutiku usai, aku membawa serta Rasheed anakku agar tetap dekat dan bisa kususui secara eksklusif, tanpa dot. Kebetulan, di sekolah ada tempat penitipan bayi. Aku bisa menyusui Rasheed bila aku sedang tidak mengajar.
Beberapa bulan setelah itu, aku mulai mendapatkan cobaan yang berturut-turut. Di bulan yang sama, ibuku harus kehilangan sebelah payudaranya, suamiku masuk rumah sakit karena demam berdarah akut, serta bayiku terserang penyakit TB paru di usianya yang belum genap 6 bulan.
 Aku harus pontang-panting mengatur waktuku untuk mengurus semuanya. Mengurus ibu, suami dan anakku, mengajar, juga menjalankan bisnis. Dan saat itu aku terlanjur menandatangani kontrak untuk meng-organize pernikahan “ngunduh mantu” salah satu klienku dari Pekanbaru. Namun, aku bersyukur, betapa Allah memberikanku kesehatan dan energy yang berlebih saat itu untuk mengurus semuanya, sebaik mungkin.
Setelah kejadian itu, atas permintaan suami, aku resign tepat saat akhir tahun ajaran. Aku mengikuti kepindahan suamiku ke Jakarta. Dan fully meninggalkan semua atribut bisnis, karena aku belum mendapatkan cara terbaik untuk mengelola bisnisku dari Jakarta. Di awal kehidupanku sebagai full time mom, aku sangat menikmati.
Namun karena aku sudah terbiasa aktif, aku mengalami kejenuhan juga. Ditambah permasalahan klasik antara mertua dan menantu (maklum, saat itu aku masih menumpang di rumah mertua) yang membuatku sangat tertekan sehingga berat badanku turun 22 kg dalam 6 bulan! Tanpa diet ataupun olahraga ketat. Luar biasa ya?
Aku juga mengalami penurunan rasa percaya diri, merasa kehilangan jati diri. Rasanya ini bukan aku. Ciut setiap kali bertemu dengan teman-teman borjuis suamiku, malu saat bertemu keluarga besar suamiku. Aku merasa tak berkembang.
Bukan karena aku tak suka menjadi ibu rumah tangga, namun berbagai tekanan yang kudapatkan dan tumpukkan pekerjaan rumah (untuk 6 orang anggota keluarga) yang harus aku selesaikan setiap harinya, membuatku tak punya lagi waktu untuk mengaktualisasikan diri, meski hanya dengan membaca.
Bagaimana tidak? Sampai jam 2 pagi aku masih menyetrika pakaian seluruh anggota keluarga, ditambah satu container baju setrikaan yang belum dikerjakan sebelum aku pindah kemari. tekanan juga kudapatkan saat kami mendapatkan musibah. Suamiku di-PHK, tanpa pesangon, karena status perusahaannya yang complicated saat itu. Hal itu juga membuat kami terlilit utang, karena tak mampu membayar cicilan kartu kredit.
Jika aku merasa tak kuat, aku sering kali menangis sendirian. Aku tak pernah melawan. Semuanya aku telan saja. Hingga akhirnya suamiku melihat perubahanku. Aku tak lagi ceria dan secerewet dulu. Suamiku kemudian menawarkan aku untuk kembali bekerja. Aku menolak. Kalau boleh, akau mau bisnis saja, kataku. Waktunya bisa fleksibel. Yang penting aku ada kegiatan. Suamiku setuju. Yuhuuu… senang sekali.
Dan mulailah aku dengan business plan-ku. Aku kembali menjadi wedding planner. Sembari membuka usaha souvenir pernikahan. Cukup mudah bagiku, karena aku sudah mempunyai vendor list yang jumlahnya ratusan dan siap bekerja sama, ditambah vendor rekanan WO-ku dulu. Semuanya tinggal telepon, kirim email atau pesan di facebook. Aku dan suami juga ikut bisnis MLM. Ikut berbagai seminar bisnis.
Aku mulai bertemu orang-orang, menjalin silaturahmi sana-sini, dan akhirnya aku mulai banyak teman. Kepercayaan dirikupun bertambah. Meski hambatan dari pihak mertua tetap ada, tapi aku tak gentar, hingga akhirnya kami pindah rumah, setelah bisnis MLM kami ditertawakan mertua. Kami akan membuktikan bahwa kami bisa mandiri, berbisnis dan membawa manfaat.
Di rumah baru, aku menambah bisnisku dengan membuat antaran dan mahar pengantin, serta kursus aneka keterampilan. Omzetnya lumayan, karena nama wedding house-ku semakin dikenal orang. Sambil berbisnis aku tetap mengurus keluargaku. Bangun subuh, membenahi rumah, mencuci, menyetrika, memasak untuk sarapan dan bekal makan siang suamiku. Setiap hari suamiku membawa makan siang dari rumah lho.
Selain menghemat, masakanku juga lezat, katanya. Aku juga memasak makanan untuk balitaku. Terkadang aku membuat 3 menu yang berbeda dalam satu waktu makan. Mengapa? Anakku tergolong picky eater. Ia hanya mau makanan tertentu saja. Makanya aku selalu membuatkan one dish meal untuknya. Agar semua kebutuhan nutrisi ia dapatkan. Dan aku selalu membuatkan alternative jika ia tak mau memakan makanan tertentu. Jika menu yang pertama dia makan 3 sendok, menu yang ke dua 3 sendok, menu yang ketiga 4 sendok, maka dia sudah makan 10 sendok. Lumayan kan? Aku bukan tipe ibu yang gampang menyerah untuk urusan makan anak. Jadi, tak sulit buatku untuk membuat variasi hidangan untuk balitaku.
Jam 9 pagi aku mengantar anakku ke sekolah. Alhamdulillah dia anak yang cukup mudah beradaptasi, hingga aku bisa meninggalkannya di sekolah, dan aku bisa mitang-miting bersama klien. Biasanya aku mengerjakan project antaran atau mahar saat anakku tidur. Sedangkan untuk souvenir, ada asistenku yang membantu proses produksinya.  Saat anakku terjaga, aku bisa menemaninya bermain, bernyanyi, berjoget atau berjalan-jalan.
Sekarang aku punya kesibukan baru, yaitu menulis. Meski belum terbit, aku sudah menulis 6 buah buku keterampilan. Ternyata lumayan juga hasilnya untuk tambahan penghasilan keluarga. Kukerjakan saat suami dan anakku sudah terlelap. Buatku, menulis memberikan sensasi yang berbeda. Menulis rasanya bisa meringankan beban di pundak, Meski belum percaya diri untuk mempublikasikan tulisan umum selain keterampilan, sensasi itu tetap ada.

Aku merasa nyaman seperti ini. Buatku sehari seperti 30 jam. Dan Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan dan energy untuk melakukan semuanya. Menjadi aku yang sesungguhnya ^_^

0 komentar:

Post a Comment