Breaking News

07 July, 2011

Apa kata para ibu tentang grup Ibu-ibu doyan nulis?

Wanita memang diciptakan "hobi bicara". Bahkan, menurut sebuah sumber penelitian sosial, dalam sehari sekitar 5000 kata dianggap normal untuk ibu-ibu. Namun, mengucapkan kata-kata sedemikian banyak akan lebih bermanfaat jika "curhatannya" yang berupa verbal dalam tulisan maupun ucapan mempunyai dampak yang signifikan. Alangkah baiknya jika memberdayakan "hobi bicara" ini dalam tulisan juga. Istilah sharing pengalaman dan ilmu ibu-ibu yang enggak ada sekolahnya, bisa sama disimak dan didiskusikan. Oleh karena itu, saya sangat mendukung aktivitas Ibu-Ibu Doyan Nulis.
(Angy Sonia, 30, Bandung)                                              

Sebenarnya sudah dari dulu saya ingin bertemu dengan sebuah komunitas yang menekuni bidang tulis-menulis, tapi tidak ketemu. Kebetulan ada suggestion tentang "Ibu-ibu Doyan Nulis". Wah, dari namanya saja "Doyan nulis", saya langsung senang. Apalagi ada atribut ibu-ibunya. Jadi, klop, deh! Karena secara pribadi saya bisa merasakan apa dan bagaimana dengan dunia ibu-ibu.
Ternyata kesenangan saya tidak hanya berhenti di situ. Meskipun saya tidak merasakan langsung event-event yang diselenggarakan, namun hanya melalui up date- up date yang diterima via dunia maya, saya bisa merasakan sesuatu yang dimiliki Ibu-Ibu Doyan Nulis, tetapi tidak dimiliki oleh komunitas yang lain, yaitu "ketulusan dan ketuntasan". Hal ini terlihat dari setiap kegiatan yang berusaha seminimal mungkin membebani (biaya) para pesertanya. Kemudian, dilanjutkan dengan penyaluran atau pemberian kesempatan bagi peserta yang berpotensi untuk menyalurkan karyanya.  Semangat untuk Ibu-Ibu Doyan Nulis!
(Anik, 29 th, Bali )

Grup ini membuat saya bersemangat menulis karena saya memperoleh banyak ilmu dari teman-teman sesama anggota.
(Tita, 42, Bandung)

Bergabung dengan Ibu-Ibu Doyan Nulis membuat obsesi saya (menjadi penulis) kembali mencuat (setelah cukup lama terkubur oleh berbagai rutinitas harian, bulanan, dan tahunan).
Sekarang saya mulai giat lagi membaca (saya percaya, penulis yang baik - pada umumnya - berasal dari pembaca yang baik. Saya juga mulai menerima terjemahan lagi (setelah berhasil negosiasi dengan pihak sekolah, bahwa saya hanya punya waktu 2 hari per minggu untuk sekolah, atau dengan berat hati saya akan mengundurkan diri dari Kegiatan Belajar Mengajar - KBM).
Saya mulai lagi menulis dengan melayangkan surat-surat panjang kepada sahabat lama melalui FB (via messages). Seorang sahabat lama berkomentar, “Senang sekali kembali berkomunikasi denganmu.” - dulu surat-surat saya biasa disebut "koran.
Saya terbiasa menulis hal-hal yang menarik hati, yang sedang membebani pikiran saya, pun yang saya lihat, dengar, atau rasakan. Namun sekarang, saya pun memikirkan untuk menulis hal-hal yang berguna untuk pembaca.
Begitu terjemahan selesai, saya berniat menulis untuk kolom khusus di suatu majalah (semoga terlaksana). Nanti saya ceritakan perkembangannya.
(Mieke, 56 tahun, Bandung)

Manfaat secara langsung sih belum begitu berasa. Namun, dengan bergabung di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis ini saya jadi tahu bahwa siapa pun tidak terbatas usia dan status ibu rumah tangga bisa menghasilkan karya lewat tulisan.
Informasi mengenai pekerjaan penulis pun membuka mata saya bahwa menulis selain sebuah hobi juga dapat dijadikan sebuah pekerjaan yang cukup menyenangkan.
Suatu hari nanti saya pun berharap bisa bergabung lebih eksis dan bisa menghasilkan karya tulis.
(Arie Aleida,  31 tahun, Bekasi)

Grup “Ibu-Ibu Doyan Nulis (meskipun saya belum jadi ibu-ibu) telah ikut membangun atmosfer menulis bagi diriku. Hingga energi menulis tak pernah mampu lari dari diriku.
(Neti Suriana, 26 tahun, Riau)

0 komentar:

Post a Comment