Breaking News

07 July, 2011

Amarahmu

-->


       “ Kamu itu memang goblok, nggak becus ngapa-ngapain '. Ya Allah, kenapa kata – kata sakti itu keluar lagi? Harus berapa kali lagi aku mendengarnya ?

         'Asaalamu'alaikum ', akhirnya kuucapkan salam setelah berdiri mematung sekian menit di depan pintu. Sudah kuduga, hanya dengusan kesal bapak yang kuterima dan ibu yang duduk di pojok dalam diamnya. Aku sudah paham, artinya aku nggak boleh ikut campur dan harus segera masuk kamar.

          Sore hari baru kutahu duduk persoalannya dari ibu. Bapak marah karena waktu bangun tidur jam 10 pagi, tak tersedia kopi di gelas kesayangannya. Untuk makan siang, ibu hanya mampu menggoreng tempe dan masak sayur lodeh tanpa ikan sebagai lauk wajib bapak. Ya Allah, kenapa bapak tak mau mengerti kalau uang ibu hanya cukup untuk membeli lauk sederhana itu?. Seharusnya bapak mau mengerti dan sedikit kompromi dengan keadaan kami yang sedang jatuh. Bukankah biasanya seorang istri yang banyak menuntut, kenapa ini malah terbalik? Oalah Gusti..jaman sudah mau kiamat...................

       Ini bukan kali pertama bapak marah-marah dengan alasan yang menurutku terlalu dibesar-besarkan.
Entah sudah berapa kali kami harus menelan kekasaran bapak. Ada saja hal sepele yang memicu emosinya. Entah kopi yang telat dibuat, entah sayur atau lauk yang kurang cocok, bahkan yang paling parah nasehat ibu agar bapak sholatpun bisa membuat rumahku berubah jadi neraka.

      Aneh..benar-benar aneh. Dimanakah letak kewibawaan bapak sebagai seorang laki – laki? Dimanakah rasa tanggung jawab dan rasa malunya sebagai kepala keluarga dengan membiarkan ibu menjadi tukang cuci dari pintu ke pintu? Kenapa begitu ringan tangan kekarnya terayun ke wajah kami? Dimanakah kata – kata manis itu tersembunyi, kata yang seharusnya menjadi penyejuk hati kami ? Kenapa justru kalimat – kalimat kasar penusuk hati yang kami dengar?.
Kemana larinya rasa sayang seorang bapak pada anaknya? Kenapa hanya caci maki, amarah dan bentakan yang tiap hari menjadi santapan rohani kami?.

      Bapak...apakah mahal harganya kata-kata manis dan enak terdengar untuk kami? Seberapa dalamnyakah bapak harus merogoh dompet untuk membeli panggilan dan sebutan yang  manis agar layak kami dengar?
Berapa botol yang engkau perlukan untuk melembutkan tangan kasarmu agar tak kuat lagi menampar kami? Apakah kepala bapak perlu dicreambath dan dipijat tiap hari dengan tangan lembut mbak salon agar tak mudah panas? Apakah perlu wajah kerasmu difacial agar seulas senyum mudah hinggap di wajahmu?

      Kemana kau sembunyikan kopiah dan sajadah hadiah ulang tahun dariku pak? Kenapa tak engkau gunakan untuk makin mendekatkan diri di pada Tuhan di usiamu yang makin mendekati ambang senja? Setan manakah yang telah tega merasukimu sampai – sampai engkau seperti orang yang tak mengenal agama ketika marah?

     Apakah bapak masih bisa menghitung berapa usiaku sekarang? 28 tahun...ya betul 28 tahun. 28 tahun sudah telinga ini bebal mendengar amarahmu. 28 tahun sudah batin ini tersiksa karena ulahmu. Tak kuhitung lagi berapa laki – laki yang ingin serius mendekatiku. Tapi semua kutolak dengan halus, walau batin ini ingin menerima. Mengapa ? Karena aku tak ingin batin ini terluka lagi dengan laki – laki pak. Cukup sudah engkau menggoreskan luka panjang di batin anakmu ini.                            

             Hati ini terlalu trauma dengan masa lalu. Apa yang akan engkau lakukan bila aku meninggalkan rumah ini untuk menikah? Siapa yang akan melindungi ibu dari amukan emosimu? Siapa ???? biarlah kutelan penderitaan ini demi ibu, demi ibu yang telah melahirkanku dengan jeritan nafas dan regangan nyawa.
Ku ikhlaskan hari – hari sepiku demi ibu...demi membalas jasa ibu yang tak akan pernah tergantikan. Cukup sudah penderitaan batin yang bapak berikan selama 28 tahun. Hatiku sudah tertutup untuk makhluk yang bernama CINTA. Karena kami terlalu lama berkutat dengan perang batin, hidup diantara harapan yang seolah menjauh dari kami.


           Kuhanya mampu berdoa, semoga Allah memaafkan semua perbuatan bapak pada kami. Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untukmu. Bukankah kami sebagai anakmu, darah dagingmu dan sesama makhluk – Nya harus saling memaafkan? Maafkan karena aku tidak mampu memberikan kehidupan yang lebih layak untuk hari tuamu.
Maafkan kami bapak....
salam sayang dari anak yang selalu mengasihimu....... 
    

0 komentar:

Post a Comment