Breaking News

07 July, 2011

Amal Di ujung Senja

Beberapa hari belakangan setiap kali melewati jalan ini harus kupelankan sepeda motorku. Hufft …pemandangan seperti ini lagi batinku. Apa tidak ada cara lain? Kenapa harus berdiri di tengah jalan begini, berpanas-panasan, mengganggu lalulintas pastinya. Sepanjang perjalanan aku terus menggerutu.
Esok harinya kulalui lagi jalan ini masih dengan pemandangan yang sama. Kutatap wajah mereka, keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Sampai kapan mereka akan terus berdiri di tengah jalan seperti ini, belum lagi suara speaker yang keras sungguh memekakan telinga yang mendengarnya. “Memalukan!” batinku.
Dua hari kemudian pun masih sama seperti itu. Entah berapa lama mereka akan bertahan mengumpulkan receh itu. Akankah cukup untuk memperbaikinya? Benarkah itu akan di gunakan untuk memperbaiki rumah MU atau jangan –jangan hanya akal-akalan mereka saja untuk mendapatkan uang dengan mudah. Aku terus berburuk sangka.
Seminggu kemudian kulalui jalan ini lagi, kali ini macet dan harus berhenti agak lama sehingga aku berkesempatan mengamati mereka satu persatu. Bapak yang memakai topi bulat itu bertubuh gemuk memakai tongkat untuk berjalan, rupanya salah satu kakinya sudah tidak sempurna, kerut di wajahnya kelihatan nyata. Dia pegang jaring kemudian dia sodorkan kepada siapa saja yang lewat jalan ini. Ketika sudah cukup banyak dia kemudian menepi dan menyerahkan kepada teman-temannya yang menunggu di pinggir jalan. Ternyata mereka seumuran, ada yang kurus tinggi, ada pula yang pendek, yang terlihat jelas adalah kulit mereka yang sudah keriput menandakan mereka tidak muda lagi, ya…kakek-kakek tepatnya Ah…akhirnya bisa kembali jalan, kutinggalkan pemandangan itu dan kulanjutkan perjalananku.
Hari sudah mulai sore ketika aku kembali ke rumah melewati jalan ini. Mereka masih ada di sana, masih dengan orang-orang yang sama. Tapi kini aku memandangnya dari sudut yang berbeda. Ketika kusempatkan bertanya, apa tidak lelah dari pagi sampai sore begini masih berdiri di sini. Apa jawab mereka? ‘’Lelah pasti de, namanya sudah tua, apalagi harus panas-panasan, tapi hanya inilah yang bisa kami lakukan untuk membantu memperbaiki masjid. Ya, mudah-mudahan ini bisa diterima sebagai amal baik kami oleh Gusti Alloh.” Deg……jantungku terasa dipukul palu. Ya Alloh selama ini aku dengan mudah mengatakan bahwa yang mereka lakukan hina, memalukan dan tidak pantas apalagi untuk memperbaiki masjid. Padahal mereka yang sudah kakek-kakek itu berniat mulia, meskipun miskin harta mereka juga ingin seperti orang kaya yang bisa membangun masjid. Bukankah setiap kita baik miskin atau kaya memiliki kesempatan yang sama untuk beramal jariyah? Mereka para kakek itu dengan sederhana memaknai amal itu melalui apa yang mampu mereka lakukan yaitu memungut sumbangan dari pengguna jalan agar masjid di kampung mereka bisa diperbaiki. Ah…kakek di ujung senjamu, di batas ketidakpunyaanmu engkau juga ingin seperti yang lain.
Ada di mana kita yang muda dan berpunya, melihat perjuangan kakek-kakek itu memperbaiki masjidnya, tidakkah kita tergerak membantunya? Jika kita masih muda dan bertenaga apalagi berpunya tentu mampu melakukan lebih dari yang dilakukan kakek-kakek itu.
Kakek, semoga amal di ujung senjamu di terima oleh Alloh Swt.
Catatan sebelum tidur,
Indralaya 20 juni 2011

0 komentar:

Post a Comment