07 July, 2011

Akulah sang Wonder Woman itu

Oleh: Rini Rahmawati

ini naskah yang dah di revisi awal-awal judulnya "Apakah Aku Ibu Yang Hebat...???" sekarang judul dah diganti menjadi "Akulah Sang Wonder Woman Itu" sebagian isi naskah juga udah di revisi LEBIH NARSIS
Wonder Woman, sedikit tertawa ketika mendengar lirik lagu tentang wonder woman. hmm, aku berpikir aku bagaikan wonder woman dalam rumah tangga.  wanita super hero laksana pahlawan yang menggurita dalam semua urusan.  aku bisa bertahan karena aku berada disekeliling orang-orang yang aku cintai.
***
Aku memutuskan berhenti bekerja sejak awal-awal menikah.  Niatku waktu itu hanya ingin bisa memberikan waktu yang banyak buat keluarga baruku apalagi nanti bila sudah punya anak.  Berjalannya waktu menjadi seorang ibu rumah tangga sejati memerlukan adaptasi yang cukup luar biasa, harus kuhadapi dengan sabar dan ikhlas.  Kehidupanku seakan berputar 180 derajat dari kebiasaanku.  Sosok organisatoris dengan segudang kegiatan diluar rumah yang melekat dalam diriku harus berubah total menjadi sosok yang diharuskan untuk bisa mengatur kegiatan seputar rumah tangga.
Ketika aku dan suami diberi amanah baru oleh Allah berupa kelahiran putra pertama kami. Proses kelahiran sang putra aku lalui sendiri tanpa suami disisiku karena suamiku sibuk mengurus administrasi Rumah Sakit yang lumayan Ribet, inilah resiko ketika hanya tinggal berdua jauh dari keluarga.
Tapi keadaan itu memang harus kuhadapi.  Membayangkan rasa ketika melahirkan tanpa siapapun ada disamping menemani. detik-detik menegangkan itu hanya kulalui dengan untaian doa dihati. Dengan kehadiran anak membuat aku semakin berpikir bahwa aku harus lebih ekstra dalam mengurus pernak pernik rumah tangga ini.  Tanpa bantuan dari pihak manapun mengharuskan aku mengurus new baby born sendirian di rumah dengan sekali-kali dibantu oleh suami yang juga sama-sama awam dalam mengurus bayi.
Aku sudah tidak mempunyai ibu yang biasanya lebih berpengalaman dalam mengurus bayi dan mengatur rumah tangga apabila sudah ada anak.  Mertuaku berada jauh dari kami (beda pulau).  Akhirnya semua harus aku kerjakan sendiri.  Bagi orang-orang yang “berkecukupan” mungkin tinggal pilih mencari asisten rumah tangga atau babysitter.
 Tapi aku berpikir lain untuk hal itu,  secara materi aku sedikit menyayangkan karena bagiku lebih baik pembayaran untuk ART atau babysitter digunakan untuk hal lain atau lebih baik ditabungkan.  inilah sisi positif ketika seorang ibu itu selalu ada di rumah.  Inilah kenapa aku memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sejati karena aku ingin selalu ada untuk keluargaku, dan untuk anakku.
Slogan sehari-hariku dalam mengurus rumah tangga yaitu sosok ibu bertangan gurita.  Hmm…seandainya aku punya tangan seperti gurita, semuanya ingin segera kulakukan dan kuselesaikan.  Ternyata jiwa organisatoris yang dulu melekat pada diriku sejak kuliah tidaklah hilang karena dalam mengurus rumah tangga keilmuan itu tetap harus ada.  Bagaikan wanita karier, aku juga bekerja sebagai pengatur keuangan keluarga.  Mengurus keperluan sehari-hari, keperluan bulanan dengan pemasukan yang tidak menentu.  Suamiku bukanlah orang kantoran, aku dan suami hanya mengelola usaha sendiri berupa Lembaga Pendidikan.
 Kata suamiku, mengelola usaha sendiri itu ketika dikaitkan dengan pemasukan bulanan sangatlah berbeda dengan orang kantoran yang pemasukan bulanannya tetap, sedangkan pemasukan bulanan kami tidaklah tetap.  Dari sinilah kemampuanku untuk mengatur keuangan keluarga sangat dibutuhkan.  Salah sedikit dalam hitungan bisa-bisa tidak makan he..he..tapi teliti dalam hitungan bisa-bisa jadi jutawan.
Untuk memulai rutinitas harianku, waktunya bagiku untuk menjelma menjadi ibu yang bertangan gurita.  Membersihkan rumah, menyiapkan makanan untuk suami dan anakku, mencuci baju, belanja ke pasar dan masih banyak lagi kerjaan lainnya.  Kadang ilmu pertukangan juga harus kupelajari ketika mengharuskan aku memperbaiki barang-barang yang ada di dapur.
Untuk urusan anak, aku babysitter terbaik untuk anakku.  Pagi-pagi ketika bangun dari dunia mimpi tidak lama dari itu anakku juga pasti ikut bangun dari tidurnya,  karena yang dia cari pertama kali ketika membuka mata adalah diriku. Aku selalu ada ketika anakku membutuhkan aku.
Aku membayangkan anak-anak yang sering diurus oleh orang lain sangat sulit mengharapkan kehadiran ibunya ketika mereka membutuhkan ibunya untuk bisa memangku ataupun memeluk mereka.  Anakku mendapatkan kasih sayang penuh karena ketika dia menangis membutuhkan sesuatu aku selalu ada untuknya mengambilkan apa yang dia mau. meredakan tangisnya, melihat tumbuh kembangnya yang hanya sekali seumur hidup terjadi dan tidak bisa terulang lagi.
Apalagi sekarang anakku berada dalam zona aktif yang sangat luar biasa.  lari kesana kemari, manjat ini itu, suka main air dan pasir.  Aku tidak bisa meninggalkan rumah untuk mengerjakan yang lain dalam keadaan yang berantakan.  Disisnlah diperlukan kesabaran ekstra untuk menghadapinya.Untuk mendapatkan ASI, anakku selalu bisa langsung mendapatkan dari pabrik alaminya tanpa harus diperah atau dimasukkan ke freezer yang kadang bisa membuatnya sudah tidak higienis lagi.
Sosok master chef juga bertengger dipundakku.  Setiap hari aku harus menyiapkan makanan buat suami dan anakku.  Selera makanku dengan suami sungguh sangat jauh berbeda, mungkin ini dikarenakan karena aku dan suami juga berbeda suku.  Untuk anakku, makanannya juga sangat kuperhatikan karena ini juga amanah dari suamiku untuk selalu menjaga makanan yang masuk ke dalam mulut anakku.
Anakku berada dalam masa pertumbuhan maka dari itu makanannya harus sangat kuperhatikan.  Ucapan syukur juga senantiasa terlontar lewat lisan dan hatiku karena aku memiliki anak yang sehat dan lincah karena dengan keberadaan langsung dari kamis sebagai orang tua sehingga kesehatan anak bisa terjaga dengan baik.
Aku kadang kasihan dengan anak-anak yang ditinggalkan oleh ibunya yang bekerja ibarat mengejar sebongkah berlian tapi anaknya sering sakit-sakitan.  Sangatlah jauh berbeda kasih sayang yang diberikan oleh ibunya langsung dibandingkan kasih sayang yang diberikan oleh babysitter begitu juga dalam hal kesehatan.
Materi yang didapat dari kerja sedikit demi sedikit habis untuk biaya berobat anak yang sering sakit padahal niat awal materi itu untuk membuat sang anak bahagia tapi kita tidak pernah tahu letak kebahagiaan seorang anak itu apakah dari materi yang dikasih atau dari kasih sayang seorang ibu yang mereka harapkan. Tapi aku yakin, anak lebih membutuhkan kasih sayang dibandingkan materi yang melimpah
Ilmu leadership juga harus kumiliki karena keberadaanku sangat dibutuhkan untuk pengelolaan usaha kami dalam bidang pendidikan ini.  Aku harus mengelola beberapa guru yang mengajar di Lembaga.  Berbagai karakter pasti kutemui dalam hal ini.  Maka kesabaran, ketenangan, kedewasaan harus melekat dalam diriku sebagai seorang manajerial. so...walaupun ada di rumah, aku masih tetap bisa berkarier dalam usaha milik sendiri.
Satu lagi point penting bagiku untuk menjadi ibu yang hebat yaitu bisa bertetangga dengan baik.  Karena bagiku dan suami yang berada jauh dari keluarga maka keberadaan tetangga sangat penting buat kami ketika dalam keadaan bahagia ataupun darurat.  Yang pertama kali dimintai pertolongan pastilah tetangga.  Disinilah peran pentingku untuk menjalankannya.  Aku hanya akan mengambil sisi positif dari bertetangga, bukan sisi negatif yang sering melekat ketika bertetangga itu yaitu kebiasaan menggosip.
Alhamdulillah, aku bisa menjalani itu semua.  Aku bisa bergaul dengan mereka tanpa harus terpengaruh dengan kebiasaannya buruknya. Intinya aku bukanlah sosok orang yang dipandang eksklusif yang tidak mau bergaul dengan tetangga atau sosok autis yang sibuk dengan dunianya sendiri tanpa peduli dengan lingkungannya. Dengan percaya diri aku bisa mengambil kesimpulan bahwa aku sosok yang hebat untuk keluarga kecilku.

4 komentar:

puteriamirillis said...

nice post..^^

RieNIEZ said...

Like this,,,,

Anonymous said...

It,s very Fantastic.....

erniaulya said...

Subhanallah

Post a Comment