Breaking News

07 July, 2011

AKU WONDER WOMAN???

Indah Mewangi
Seperti ibu-ibu pada umumnya, rutinitas harianku selalu diwarnai dengan kesibukan-kesibukan pekerjaan rumah dan urusan anak-anak. Usai sholat shubuh aku mencuci pakaian atau kadang menyetrika, sambil memasak nasi. Setelah semua itu beres aku memandikan putri bungsuku dan mempersiapkannya untuk berangkat sekolah.
Jam 7.30 aku memanaskan mesin motor sambil memeriksa bahan bakar. Tidak lupa aku juga memeriksa kondisi rem depan belakang, ban depan belakang, lampu besar, lampu dan spion. Setelah semua persiapan aku rasa okey, aku menaikkan putri bungsu ke motorku.
Aku mengikat tubuhnya dengan kain gendongan agar menempel di tubuhku, maklum dia masih berumur sekitar lima tahun. Ini juga aku lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak aku inginkan. Jalan yang akan kami lalui memang jalanan yang lumayan ramai dengan berbagai jenis kendaraan. Membutuhkan waktu hanya sekitar lima belas menit untuk tiba di sekolah putri bungsuku. Lebih cepat lima belas menit dibandingkan dengan ibu-ibu yang lokasi rumahnya sama denganku.
  Aku tidak bisa membayangkan jika aku tidak bisa mengendarai motor, berapa ongkos yang harus aku keluarkan setiap harinya. Aku bersyukur karena aku telah terampil mengendarai motor sejak duduk di bangku SMP. Dengan kelebihanku ini aku juga tidak merepotkan siapa pun jika harus bepergian keluar rumah yang jaraknya cukup jauh. Jika ada keperluan mendadak pun aku bisa langsung berangkat, tanpa harus menunggu lama atau naik angkutan umum yang pasti akan memakan waktu. Secara tidak disadari kelebihanku ini membawa banyak manfaat. Mungkin juga karena sifat aku yang tomboy hingga aku mampu mengendarai motor dengan luwes dan terampil, walau memacu kecepatan tinggi.
  Saat putri bungsuku di sekolah, aku pergunakan waktu itu untuk belanja keripik. Lagi-lagi kelebihanku di sini kembali bermanfaat. Aku tata keripik-keripik itu di belakang motor. Empat bal di samping memakai keranjang karung dan empat atau lima bal lagi di atasnya. Berat setiap balnya rata-rata sekitar lima kilogram, jadi aku mampu membawa barang sekitar empat puluh lima kilogram. Bisa dibayangkan beratnya bukan? Belum bobot aku dan anakku.

Setelah selesai belanja aku menjemput putri bungsuku, dan memboncengnya di depan karena di belakang penuh dengan keripik-keripik belanjaanku. Saat aku bergerak pulang ibu-ibu di sekolah putri bungsuku selalu berkomentar kalau aku hebat dan super.
Mampu membawa muatan berat sekaligus membonceng anak, padahal tubuhku kecil dan tidaklah tinggi. Sampai-sampai aku di juluki wonder women, mungkin satu julukan yang berlebihan tapi itu membuatku bangga. Ternyata masih banyak yang bisa menghargai jerih payahku sebagai seorang ibu sekaligus ayah. Walau ada juga yang memandangku sebelah mata.
  Sesampainya di rumah, setelah beristirahat sebentar aku mulai mengantar keripik-keripik ke pelanggan-pelanggan yang keripiknya sudah habis. Lagi-lagi kelebihanku mengendarai motor bermanfaat. Aku mengantarkan keripik-keripik itu dengan motorku. Tak bisa dibayangkan jika aku harus mengantarkannya dengan menggunakan ojek. Sudah tentu repot sekali, repot waktu dan repot ongkos. Bukannya untung malah buntung karena tidak dapat untung.
  Aku hanya mampu mensyukuri kelebihanku sebagai satu karunia, jika aku tidak bisa mengendarai motor pasti semua akan terhambat dan memakan waktu. Mungkin bagi orang lain kelebihanku ini adalah hal yang biasa, tapi bagiku sungguh luar biasa. Aku bisa melakukan segala aktifitas tanpa harus tergantung kepada siapa pun. Aku juga bisa menghemat waktu dan uang.

0 komentar:

Post a Comment