Breaking News

07 July, 2011

Ada Kekuatan di Setiap Ujian

Rela Puteri Pamungkas

"Ummi, makanannya sedap. Kata Ceuceu juga sedap, iya kan Ceu?" Ucap suamiku sembari menyuapi putri sulungku, Wafa. Aku yang sedang menyusui Husna hanya bisa tersenyum simpul, padahal hati ini berbunga tiada terkira.
Huwaaah Cinta, kalian makan dengan lahap saja rasanya bahagiaaaa sekali. Apalagi diucapkan dengan kata, rasanya melayang ke udara. Sama bahagianya ketika Paperku diterima masuk ke Lecture Notes, eh lebih malah.
Banyak hal kecil yang mungkin kata orang lain sepele, namun bagi seorang Ibu sepertiku hal itu luar biasa. Ketika si sulung Ceu Wafa tiba-tiba memelukku dan berkata, "Sayaaang Ummi", hatiku meluluh bagaikan es yang terkena sinar mentari pagi. Bahkan senyum bayi Husna ketika selesai menyusu pun sangat membahagiakan, seperti mengucapkan kata, “ Terimakasih Ummi, Alhamdulillah aku kenyang”. Atau ketika tangis histeris Husna tiba-tiba mereda bahkan diam dalam pelukanku. Sungguh, banyak hal kecil dan indah kudapatkan ketika menjadi Ibu.
Menjadi Ibu adalah sebuah anugerah, banyak kebahagiaan dalam setiap detiknya. Seorang Ibu tetaplah Ibu, baik dia menghabiskan waktunya full di rumah, ataupun mendapatkan amanah lain di luar rumah. Karena dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun, aku yakin bahwa dalam hatinya, keluarga menampati posisi yang utama.
Alhamdulillah, aku pernah merasakan menjadi Ibu dan student sekaligus, dimana waktuku terbagi antara urusan sekolah dan keluarga. Setelah studiku rampung, kini aku diberikan kesempatan merasakan indahnya menjadi ibu yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah. Dua keadaan yang berbeda, keduanya membuatku merasa sangat bersyukur menjadi Ibu, menjadi istri, menjadi seorang perempuan. Karena aku merasa di balik kelemah lembutan, di balik tangis yang sering mengalir di pipi, Alloh memberikan kekuatan untuk bertahan, berjuang dan berusaha di setiap kondisi yang diamanahkan pada seorang Ibu.
Empat tahun yang lalu, tak lama setelah akad terucap, aku terpisah jarak dengan suami. Karena itulah, setelah menikah saya tetap bekerja. Ketika akhirnya mengikuti suami ke negri Jiran untuk melanjutkan studinya, aku pun mendapat tawaran untuk sekolah. Atas permintaan suami, aku pun mengambil kesempatan sekolah itu.

Alhamdulillah tak lama setelah memutuskan untuk melanjutkan sekolah, Alloh menganugerahkan kebahagiaan yang lain, Alloh menitipkan janin dalam rahimku. Perjuangan pun dimulai, mengisi hari – hari dengan tugas riset yang lumayan menguras otak juga merawat janin dalam rahim. Meskipun pada saat hamil ini badanku sering kelelahan, namun kehamilanku ini tidak merepotkan. Si janin anteng menemani ibunya melakukan riset Masternya.
Ketika bayi dalam rahim ini lahir, aku memutuskan mengerjakan riset di rumah saja. Hanya sesekali pergi ke kampus untuk bertemu dengan Dosen pembimbingku. Aku ingin bayiku mendapatkan ASI ekslusif, aku ingin menjadi orang pertama yang melihatnya tengkurap, aku juga ingin meracik sendiri makanan untuknya, memastikan semuanya sehat dan baik. Masa keemasan putriku tak akan berulang, karenanya kuingin melewati masa itu dengan sebaik – baiknya.
Sembilan bulan lebih kulewati waktu berdua dengan putri sulungku, Wafa. Di sela-sela mengasuh bayiku, kusempatkan mengerjakan riset dan pekerjaan rumah lainnya. Cukup melelahkan, namun aku merasa bahagia, aku menikmatinya.
Waktu berlalu, masa studiku sudah memasuki semester tiga. Namun, percepatan studiku tidak semulus yang diinginkan. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan suami, kami sepakat untuk membawa asisten dari Indonesia untuk menjaga Wafa dan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Sehingga aku bisa pergi ke Lab dan menyelesaikan studiku dengan lebih fokus.
Adanya asisten ini tidak membuat tugasku sebagai seorang manajer rumah tangga  berkurang. Karena manajemen operasional dalam rumah tangga tetap aku yang menangani. Aku tetap yang memutuskan segala sesuatunya. Kehadiran seorang asisten di rumahku juga menjadi tambahan amanah bagiku. Ya, asisten itu menjadi tanggunganku, maka kewajibanku juga untuk mendidiknya, menjaganya dan memastikan bahwa semua kebutuhan sandang, pangan dan papannya terpenuhi.
Kini kuliahku memasuki semester empat, aku pun mulai mempersiapkan diri untuk menulis tesis. Tegang kurasa, buka hanya karena tesis, namun juga karena beasiswa yang diberikan akan berakhir di semester ini. Sementara belum tentu aku bisa menyelesaikan tesis di semester ini. Kalaupun bisa menyelesaikan tesis, aku masih harus berada di negri jiran untuk menunggu sidang tesis, dan menyelesaikan koreksi tesis setelahnya. Maka aku harus berfikir bagaimana untuk mendapatkan penghasilan ketika beasiswaku nanti terhenti dan kami masih disini. Sementara beasiswa suami juga sudah lama terhenti.

Hmmh, setelah menimbang potensi dan kesempatan yang ada, maka aku memutuskan untuk berdagang. Ya, akhirnya enam bulan sebelum beasiswa itu terhenti, kami mulai merintis usaha berdagang baju dan kerudung dari Indonesia. Karena konsumennya prempuan, maka dalam usaha berdagang ini akulah yang lebih banyak terlibat. Dari mulai menerima pesanan, mencari baju yang akan dijual, memasang di FB dan MP, sampai berhubungan dengan konsumen. Suamiku lebih kepada bagian teknis seperti mengantarkan dan mengambilkan pesanan, serta menjadi tempat bercerita dan meminta pendapat atas segala hal.
Tak terbayang sebelumnya harus memegang amanah sebanyak ini, menjadi istri, ibu, student dan juga pedagang. Di antara sela –  sela mengerjakan tesis, aku menyempatkan diri untuk mengurus daganganku. Menghubungi produsen untuk memesan produk, memilih –  milih produk, serta menghubungi kawan –  kawan yang bisa kutitipkan barang daganganku. Karena aku tinggal di dalam kampus dan hampir tiap hari harus ke kampus, maka bantuan kawan-kawanku untuk menjualkan barang daganganku sangatlah membantu.
Waktu terus berjalan, ternyata perjalanan tesisku tidak berjalan mulus, aku tidak bisa submit di semester ke empat. Semester kelima kuharapkan aku bisa submit, namun ternyata supervisorku memintaku untuk membuat laporan proyek terlebih dahulu. Akupun mengerjakan apa yang diminta, dengan harapan laporan proyek ini adalah draft untuk tesisku sehingga ketika saatnya menuliskan tesis aku tinggal sedikit memolesnya saja.
Tapi ternyata supervisorku sangatlah sibuk, sehingga progress laporan proyek pun berjalan lambat. Baru di akhir semester lima laporan proyekku selesai. Dalam jangka waktu satu bulan, aku berharap bisa submit tesis dengan sedikit menambahkan laporan proyek yang sudah kukerjakan. Namun setelah berdiskusi dengan supervisor, dia memintaku menambah metode untuk menganalisis hasil simulasi yang sudah kulakukan. Aku  pun harus memendam keinginan untuk sumbit di semester kelima.
Tibalah semester keenam, kesempatan terakhir untuk bisa lulus. Di semester penghujung ini aku harus belajar metode analisis yang baru, dilanjutkan dengan simulasi menggunakan metode tersebut. Hectic? Tentu. Aku harus berpacu dengan waktu agar tesisku siap sebelum semester ke enam ini berakhir. Namun dengan segala kesibukanku mengerjakan tesis, aku tetap harus berdagang. Kalau berdaganganya ‘cuti’, maka asap dapurku mungkin tidak ngebul.

Lelah sering menerpaku, harus memikirkan semuanya dalam waktu yang bersamaan. Kadang ingin berhenti saja dan berharap uang akan turun dari langit. Namun kembali aku tersadarkan, bahwa hidup ini memang akan dipenuhi dengan ujian. Setiap orang akan diberika ujian sesuai dengan kemampuannya, dan aku yakin aku pasti bisa melewatinya.
Terkadang air mata juga mengalir dari pelupuk mataku, ya jika beban ini terlalu berat, aku menangis. Tapi tangisku bukan sebuah tanda menyerah, tangisanku justru sebagai tempat meluapkan segala rasa. Sehingga aku sering membiarkan diriku menangis, agar setelahnya aku mampu berdiri menghadapi segala tantangan yang ada di hadapan. Aku percaya, Alloh menciptakan air mata bukan untuk sesuatu yang sia – sia.
Siapa yang bekerja, maka Alloh akan memberikan hasil, dan siapa yang bersyukur atas nikmat yang di dapatnya, maka Alloh akan menambahkan nikmatNya. Dengan segala beban yang terasa sangat besar dipundakku, maka yang bisa kulakukan adalah berusaha dan bersyukur. Alhamdulillah tanpa disangka, usahaku lewat berjualan mampu membiayai operasional keluarga kecil kami.
Sempat pula terpikir untuk memulangkan asistenku, namun jika dia pulang maka aku harus menjaga Wafa, sementara tesisku harus diselesaikan dengan segera. Kalaupun Wafa dititipkan, biayanya sama saja dengan menggaji asistenku. Pilihan yang sulit, tapi aku yakin Alloh akan selalu member jalan keluar. Dialah yang menganugerahkan rizki. Maka dengan segala pertimbangan, aku tetap mempertahankan asistenku.
Begitulah hari – hariku, berangkat ke kampus setiap hari, mengerjakan tesis sambil mengurusi daganganku. Ketika kembali ke rumah, maka kutumpahkan segala rinduku pada putriku. Kuhabiskan waktu bersamanya, walau sesibuk apapun, putriku tetap nomor satu.
Hingga tibalah Ramadan yang dinanti. Aku menghitung hari, ternyata tamu bulananku tak kunjung datang. Oo bahagianya hatiku, ternyata ada janin dalam rahimku. Ketika kukabarkan pada si sulung, dia tersenyum bahagia, begitupun suamiku. Meskipun saat ini kondisi ekonomi kami tidak stabil, akupun sedang disibukan dengan tesisku, tapi aku tidak pernah merasa terbebani dengan kehamilanku. Aku justru merasa sangat disayangi, merasa begitu bahagia karena Dia berkenan menitipkan satu lagi kehidupan dalam rahimku. Aku yakin, insyaAlloh semuanya akan berjalan dengan baik. Bayi di dalam rahimku pun telah tercatat rizkinya, kami sebagai orang tua hanya berkewajiban menjemput rizki untuknya, Allohlah yang menyediakan.

Hari – hari pun berlalu dengan indahnya, janin dalam rahimku tidak menyulitkan. Sepertinya dia  memahami beban yang dipikul Umminya. Begitupun si sulung, dia sangat pengertian terhadap kondisi Umminya yang terkadang pulang larut untuk menyelesaikan tesis. Alhamdulillah dengan segala perjuangan dan pengorbanan, di penghujung tahun tesis berhasil diselesaikan. Lega rasanya, satu amanah terselesaikan.
Kebahagiaan menyelesaikan tesis ternyata diiringi suatu kabar yang tidak terlalu membahagiakan, asisten yang selama ini membantu kami harus pulang di awal tahun karena VISAnya tidak bisa diperpanjang. Sementara aku masih membutuhkan bantuannya, aku masih harus ke kampus untuk mempersiapkan sidang tesis dan juga melakukan koreksi setelah sidang. Jika asistenku pulang, bagaimana dengan Wafa? Siapa yang akan menjaganya ketika aku harus berangkat ke kampus. Berat awalnya, namun aku yakin pasti bisa. Alloh memberikan kekuatan pada setiap jiwa, yakinku dalam hati.
Akhirnya setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan untuk menitipkan Wafa ke nursery. Sebenarnya berat hati ini, namun aku harus kuat. Aku harus segera menyelesaikan amanah sekolah ini, setelahnya insyaAlloh akan banyak waktu yang bisa kuhabiskan dengan putriku.
Perjuanganpun dimulai, Wafa yang tak terbiasa dengan orang lain menangis hebat ketika hari pertama dititipkan ke nursery. Aku pun sebagai Ibu rasanya tidak tega. Meskipun aku tersenyum tapi dalam hati merasa berat. Ketika berada di Lab pun aku senantiasa memikirkan Wafa. Tapi kukuatkan diri, semua ada saatnya, sekarang masanya untuk menyelesaikan studi.
Hari – hari menjelang sidang tesisku pun mulai mendekat. Cuaca Februari saat itu tidak bersahabat. Hampir setiap hari hujan turun, mendung pun sering menggelayuti memenuhi hari, matahari enggan menampakan sinarnya. Pertahanan tubuh putriku pun runtuh, panas, batuk dan flu menggerogoti tubuhnya. Tentu saja dengan kondisinya yang sakit, Wafa tidak boleh pergi ke sekolah. Meski sidang tesis tinggal menunggu hari, aku tetap menghabiskan waktu di rumah, merawat putriku tercinta.
Tibalah saat yang menegangkan, sidang tesis digelar. Wafa yang saat itu masih sakit kutitipkan pada suamiku. Ketika berangkat aku meminta suami dan putriku mendoakanku. Aku pun berdoa pasrah padaNya. Aku telah berusaha mempersiapkan sebisaku.

Alhamdulillah, sidang tesisku berjalan dengan lancar, pertanyaan yang diajukan dapat  kujawab dengan baik, dan aku pun lulus dengan Minor Correction. Bahkan Chair Person, dosen yang memimpin sidangku mengatakan bahwa performaku excellent. Alhamdulillah, lega rasanya, satu ujian berhasil kulewati dengan baik.
Namun perjuangan belum terhenti. Aku harus menyempurnakan tesisku dengan melakukan sedikit perbaikan seperti yang diminta pengujiku. Lalu memformatnya dengan cantik agar siap dibinding dan diserahkan ke fakultas. Dengan perut yang semakin membesar, setiap hari aku berangkat ke kampus, kembali berjuang menyelesaikan perbaikan tesisku. Ketika sampai ke rumah aku sempatkan untuk mengerjakan semua pekerjaan domestik, dan juga meluangkan waktu bermain dengan putriku.
Diantara sela - selanya, akupun harus meluangkan waktu untuk mengurusi daganganku. Meskipun sibuk, jualan harus tetap jalan. Begitulah hari – hari dijalani, kulewati dengan semangat dan tentunya bahagia. Semua amanah ini kuanggap sebagai sebuah anugerah yang indah.
Kini, putri keduaku telah lahir. Perbaikan tesispun telah selesai sebelum putri keduaku lahir. Aku menikmati peranku kini sebagai seorang Ibu di rumah. Mengasuh putriku, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurusi daganganku, serta tak lupa menyempatkan menekuni hobi yang sudah lama terabaikan, menulis. O iya satu lagi, aku sempatkan mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan tapi tetap bisa kulakukan di rumah. Aku ingin senantiasa bersama putriku, setidaknya sampai si kecil berusia dua tahun. Menyaksikannya tumbuh kembang dengan baik.
Dua peran Ibu kurasakan, keduanya memiliki ujian tersendiri. Kedepan kuyakin riak kehidupan itu akan tetap ada. Selama nafas masih berhembus, cobaan akan tetap datang. InsyaAlloh dengan segala bekal yang sudah Alloh berikan padaku, aku yakin aku mampu melewati hari –  hari kedepan. Di setiap kesulitan yang diberikan, Alloh memberikan kemudahan. Dibalik kelembutan dan kasih sayang yang Alloh titipkan pada diri seorang Ibu sepertiku, ada sebuah kekuatan yang luar biasa di dalamnya.

0 komentar:

Post a Comment