Breaking News

30 November, 2011

Quote Indari Mastuti

Cara Anda MELIHAT seseorang akan menjadi cermin cara Anda melihat diri sendiri. Semakin BURUK Anda memperlakukan orang lain, maka tanpa Anda sadari Anda telah memperlakukan diri sendiri sama buruknya.

Inspirasi dalam kemacetan :)

Quote Indari Mastuti

Insya Allah, pada setiap KEBURUKAN akan menjadi pemicu hadirnya KEBAIKAN dan PERBAIKAN.

Quote Indari Mastuti


Kita memang tidak akan pernah tahu MASA DEPAN kita seperti apa, maka, yang harus kita lakukan adalah terus berusaha MEMPERBAIKI LANGKAH, MEMPERBAIKI PROGRAM, MEMPERBAIKI SHILATURAHMI, dan MEMPERBAIKI HATI sebab dari sana awal dari segala yang lebih BAIK.

09 November, 2011

Quote Indari Mastuti

Ketika Anda merasa LELAH, merapatlah pada SAHABAT Anda dan minta ENERGI POSITIF darinya :)
Ketika Anda sedang BAHAGIA merapatlah pada sahabat Anda dan BERBAGILAH kebahagiaan bersamanya :)

Bermetamorfosis dari Kerja Kantoran ke Bisnis Online Sambil Kuliah

Oleh : Asri Ariefa 

Tidak pernah terbayang di benakku sebelumnya, aku akan menggeluti bidang ini. Semenjak selesai kuliah, aku terbiasa bekerja dengan pola 7- 5, maksudnya berangkat jam 7 pagi pulang jam 5 sore. Ketika belum punya suami dan anak, bekerja di luar rumah menjadi hal yang sangat menyenangkan. Tetapi semua berubah ketika aku punya anak.

Yang terpikir saat itu adalah, aku tidak bisa mengawasi anak-anak, tidak bisa menjaganya, tidak bisa menemaninya ketika sakit, tidak bisa mengantar dan menjemput sekolahnya, tidak bisa memeluknya ketika mereka menangis. Ketika akan berangkat kerja suka terbayang suara rengekannya…pengen ikut.

Bingung ketika pengasuh tidak datang. Masa kanak- kanak tidak akan terulang lagi. Kalau pola kerjaku seperti ini terus, anak anak bagaimana? Itulah pemikiranku saat itu.Dengan pergulatan bathin yang cukup hebat, aku putuskan untuk keluar kerja. 

Ternyata keluar kerja belum menyelesaikan masalah, aku malah menghadapi masalah baru yaitu power syndrome. Di sisi lain aku senang apa yang aku bayangkan, menjaga dan menemani anak anak terwujud. Tetapi di sisi lain aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Ada ruang hati yang kosong.. Aku menyadari, ternyata disamping mengurus keluarga, aktualisasi diri adalah hal yang harus tetap ada buat seorang perempuan.

Akupun mencoba mengingat jaman dulu, ternyata kalau di pikir-pikir, aku senang berbisnis. Walaupun datangnya timbul tenggelam. Aku masih ingat ketika SMP, aku menjual kue sistik buatan ibuku. Hasilnya aku pakai untuk ongkos ke sekolah, tetapi itu tidak berlangsung lama. Waktu kuliah, aku membawa baju atasan kepunyaan tetanggaku, lalu dijual kepada teman-teman , itupun hanya sebentar.

Waktu jaman kerja, aku membawa dagangan tetanggaku, misalnya sandal tasik, kerupuk gendar, lapis legit, baju muslim, tas. Kalau ada acara Agustusan di kantor , temanku menganjurkan aku buka stan. Disaat orang lain lomba balap kurupuk, balap karung dan balap bakiak, aku malah sibuk berjualan ….:}

Pada saat keluar kerja dan harus di rumah, ternyata aku hamil anak ketiga. Keinginanku untuk memulai bisnis aku redam dulu. Ada TK (Taman Kanak-kanak) di dekat rumah membutuhkan guru, aku ditawari untuk mengajar. Wah asyik nih jadi guru TK. Pergi jam 7 pulang jam 10. Waktu untuk keluarga juga ada.

Saat mengajar di TK, ada penawaran untuk kuliah dari sekolah . Akupun mengambil kuliah lintas jalur dengan jurusanku dulu . Aku pikir , semua ilmu itu baik, tidak ada yang sia sia. Aku bercita cita ingin memiliki TK. Tetapi setelah dipelajari, mempunyai TK bukanlah hal yang mudah di saat anak-anak masih kecil, ditambah lagi aku belum punya lokasi yang memadai. Keinginan itupun terhenti lagi, tapi kuliah tetap berjalan. Mudah mudahan suatu saat nanti mimpi itupun terwujud.

Suatu hari di bulan ramadhan, aku mulai mengajak anakku kedua, Azva Rda Zahira ke mesjid untuk taraweh, tapi belum punya mukena. Terpikir untuk membuat mukena anak. Aku jalan-jalan ke pusat kain, akhirnya kutemukan bahan dan corak yang cocok untuk mukena anakku. Kain sudah ada. Mau diapakan niiih? menjahit tidak bisa. Aku bilang sama suamiku, kalau mau kursus jahit. Suamiku mengijinkan. Jadilah aku kuliah sambil kursus jahit, dan sambil mengajar di TK. 

Dari kursus itu aku bisa membuat mukena dan baju anak-anak. Aku buat mukena anakku. Wah senangnya saat itu, meskipun jahitan pertama ku belum rapi tapi ada kepuasan sendiri. Tak diduga, ternyata mukenaku dilirik tetangga. Dia pun memesan sajadah dan ada nama anaknya.

Di sekolah anakku, mau diadakan pentas seni. Gurunya kesulitan mencari baju anak- anak untuk pentas seni. Aku coba tawarkan desain baju untuk anak anak, ternyata desainku di acc. Buat pemula seperti aku, menerima jahitan dalam jumlah banyak tentulah kesulitan, maka aku menggandeng temanku untuk bekerjasama, dia pun oke. Jadilah proyek pertamaku membuat baju anak-anak.

Ketika pentas seni tiba, senangnya bukan main. Kursus jahit belum selesai, tapi pesanan mulai berdatangan. Mengerjakan berbagai macam aktifitas dengan anak-anak masih kecil, tidaklah memungkinkah. Bukankah tujuan utamaku adalah mengasuh anak-anak. Bukankah tujuan aku keluar kerja adalah untuk anak-anak. Maka harus ada kegiatan yang aku korbankan,

Aku mengambil keputusan off dulu kursus dan mengajar di TK. Kuliah dan menerima pesanan tetap aku jalankan. Melihat responnya positif , fikiranku terus menari-nari untuk membuat usaha rumahan. .Pada saat yang sama , saudaraku yang bisa jahit mencari pekerjaaan. Bagai gayung bersambut, aku ajak saudaraku untuk bekerja di rumah. Aku mulai memberi nama untuk produkku arief, singkatan dari nama ketiga anakku Argi Fauzi Ramdhani . Rida Zahira dan Fakhri Firdausi.

Cerita sedikt niih, anakku yang pertama itu kan namanya Fakhri, anakku protes kenapa Fakhri ga disimpan di depan. Kalau Fakhri di depan, nama brandnya jadi Faria dong, nama sayuran yang pahit itu.. :}

Ketika lebaran datang, pesanan mulai berkembang ke baju muslim anak. Setelah lebaran, kebutuhan baju mulai berkurang. Aku berfikir bagaimana agar penjahit di rumah tidak diliburkan, semantara dia juga punya 2 anak yang harus dibiayai. Kebetulan suamiku dapat pesanan untuk membuat tas. Suamiku juga berwiraswasta di bidang percetakan dan sablon. Order tasnya diberikan kepadaku. Dari pembuatan tas itu ada sisa tas, maka aku bagikan kepada tetangga terdekatku, efeknya ketika tetanggaku ada acara sunatan , syukuran rumah, syukuran pranikahan mereka mengontak aku untuk dibuatkan tas.

Lambat laun variasi jahitanku berkembang dari asalnya mukena anak sekarang ke baju muslim anak, tas berbahan laken , seragam untuk tim volley , seragam untuk tim bulutangkis, sajadah anak yang ada namanya. Mukena kompakan antara ibu dan anak. Kepada konsumen aku informasikan juga usaha suamiku, kartu nama, kartu undangan, stiker, spanduk , buku agenda, kalender dll.

Seringnya pergi ke pusat kain untuk membeli bahan dan survey harga membuat aku hapal sebagian nama jenis kain. Mana kain yang kualitasnya bagus dan jelek, mana toko yang jujur dan mana toko yang menjual terlalu mahal.Terkadang jarak 5 meter pun harga berbeda padahal bahan sama. Ada juga pemilik toko yang mengatakan barangnya kualitas no. I (KW 1) , ketika survey lagi ke toko lain, kain tersebut ternyata KW 2.

Ketika muncul facebook, aku mulai promosi lewat FB, aku upload foto- foto kreasiku , terkadang modelnya anak ku, saudara dan tetangga di dekat rumah. Pertama buka FB, aku tawarkan dulu ke teman -teman yang aku kenal dulu. 

Pada saat ramadhan, teman- teman lamaku mengontak untuk reuni. Jadilah ramadhan diisi reuni dari mulai teman SMP, teman SMA dan teman kuliah. Pada saat itulah aku mencoba membawa sampel produksiku. Alhamdulillah responnya postif. Dari facebook pula lah, pesananku mulai bergairah ke luar daerah. Pernah Facebook - ku tidak bisa dibuka terkena hacker, akupun membuat lagi facebook dengan nama baru.

Pertengahan 2011, aku dipertemukan dengan Teh Indari Mastuti , leader di group Ibu Ibu Doyan Nulis, ia menawarkan pembuatan seragam IIDN. Aku senang mendapat kepercayaan dari Teh Indari Mastuti. Aku menerima kerjasamnya. Aku berharap seragam IIDN berkenan di hati ibu ibu semua yaaa……^_^

Ketika aku terjun ke dunia bisnis, pengalaman dulu selama bekerja terasa sekali manfaatnya. Mengetahui bagaimana administrasi , manajemen keuangan, akunting, komunikasi, kedisiplinan , marketing , menjalin kerjasama dengan relasi bisnis , partner kerja dan konsumen .

Saat ini aku masih punya anak masih kecil-kecil . Aku harus sekuat tenaga berbagi fikiran dan tenaga antara anak dan bisnis. Aku tidak mau gara- gara berbisnis , anak jadi kurang perhatian , maka waktu yang aku sediakan untuk berbisinis hanya setelah anak- anak telah terpenuhi kebutuhannya.

Aku bersyukur punya suami yang selalu mendukung aktifitas yang aku lakukan selama itu positif . Di semua bidang , permasalahan pasti ada, begitupun dengan berbisnis. Misalnya ketika penjahit sakit sementara pesanan harus selesai sesuai jadwal yang telah disepakati, pembayaran yang tidak tepat waktu dari konsumen, pesanan yang tidak langsung diambil, jahitan yang tidak sesuai, asisten di rumah tidak datang.

Setiap menghadapi permasalahan aku selalu punya keyakinan , di balik kesulitan selalu ada kemudahan, maka aku yakin ketika aku menghadapi kesulitan maka Allah SWT sudah menyediakan seperangkat solusi. 

Dari pengalamanku berbisnis, aku ingin berbagi ilmu meskipun sedikit tapi semoga bermanfaat :

Jangan takut mencoba

Ketika ada peluang bisnis di depan mata, mulailah mencoba untuk melakukannya. Ketika kita menghadapai kegagalan, jangan lari, hadapi saja . Kegagalan adalah pengalaman yang berharga. Sehingga ke depannya kita tinggal memperbaikinya agar lebih baik.

Mulai dari modal yang terjangkau

Mulailah bisnis dengan modal yang kita miliki dulu, manfaatkan uang yang ada. Misalnya kita akan berbisnis pulsa , cukup dengan modal Rp. 100.000,00 maka bisnis sudah mulai bisa terwujud.Keuntungannya kita kumpulkan sehingga modal bertambah

Menjaga kejujuran dan kepercayaan

Kejujuran dan kepercayaan adalah modal utama dalam segala hal, maka dalam berbisnis pun kita harus bisa menjaga keduanya. Setitik apapun yang kita lakukan, Allah SWT selalu melihat kita.

Bekerja keras

Hasil yang memuaskan selalu disertai kerja keras, maka buat pebisnis harus mau bekerja keras, mengerahkan semua tenaga untuk berbuat yang terbaik bagi konsumen tanpa disertai keluhan.

Tawaakal

Lakukan yang terbaik , maksimalkan usaha tapi hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT, kalau sukses berarti kita harus bersyukur, kalau gagal berarti kita harus bersabar, sambil tetap berusaha untuk melakukan perubahan.

Menikmati proses

Tidak ada kesuksesan yang datang secara tiba- tiba, semua ada prosesnya. Maka ketika kita menjalan proses tersebut, jalankan dengan ikhlas. Jangan dulu ingin cepat cepat menikmati hasil karena semua ada waktunya.

Siapkan mental positif

Ketika kita menawarkan produk dan produk kita belum dilirik, jangan putus asa. teruslah berusaha melakukan yang terbaik sampai orang percaya dan yakin dengan kulaitas produk kita. Pesan bijak mengatakan, lakukan yang terbaik tapi jangan merasa menjadi yang terbaik.:}


22 October, 2011

Aku Pasti Bisa

Oleh : Indah Mewangi

Awalnya aku hanya coba-coba menjalankan usaha ini. Aku tidak yakin kalau usahaku ini akan mampu menghidupi ketiga anakku. Namun apa salahnya aku mencoba memulainya, berhasil tidaknya aku serahkan kepada Sang Maha Pengatur.

Dengan modal uang Rp 100.000, aku mencoba membeli dua macam keripik, yaitu keripik singkong pedas lengket dan keripik singkong balado. Aku kemas keripik tersebut ke dalam plastik berukuran 11 x 20 cm, untuk aku jual dengan harga eceran Rp 1000. Alhamdulillah dari satu bal keripik bisa menghasilkan sekitar 90 bungkus. Berarti keuntungan dari satu bal keripik sekitar Rp 40.000 jika di jual sendiri. Jika di titipkan kita lempar dengan harga Rp 800, berarti keuntungan dari satu bal sekitar Rp 22.000. Modal keripik satu bal sekitar Rp 50.000.

Sasaran pemasaran adalah sebuah pabrik yang posisinya dekat dengan rumahku. Aku pikir harga yang terjangkau dan rasa yang lumayan enak akan membuat daganganku laris. Dan ternyata memang benar, daganganku laris manis. Dan aku semakin bersemangat untuk mengembangkan usaha kecil-kecilanku ini.
  
Alhamdulillah aku mendapatkan modal dari seorang teman. Aku bisa memperluas usahaku dan memperbanyak macam kriuk menjadi sepuluh macam. Warung-warung di lingkungan rumahku, juga sekolah-sekolah yang lokasinya dekat dengan rumah aku titipi kriuk.

Benturan pertama adalah saat jenis kriuk itu kurang cocok dengan selera pembeli. Banyak sisa kriuk yang tidak terjual dan akhirnya terbuang karena sudah tidak renyah. Aku mencoba mencari jenis kriuk lainnya yang kira-kira laku di pasaran dan banyak di gemari. Inilah pengorbanan yang hampir-hampir membuat putus asa. Boro-boro untung malah buntung. Mungkin ini adalah perjuangan yang harus di lalui oleh setiap orang yang ingin berhasil.
Harus bangkit dan bangkit lagi, walau apapun rintangannya."Tindakan memang tidak selamanya membawa kesuksesan tapi tidak ada kesuksesan tanpa tindakan." Hanya kata-kata bijak itulah yang selalu aku ingat untuk memotivasi semangatku agar tidak pupus.

Aku terus berusaha mencari kriuk yang cocok dengan lidah pembeli. Berulang kali aku mengalami kegagalan dan mengalami kerugian. Namun Alhamdulillah, aku akhirnya bisa membaca kesukaan pembeli, yaitu berbagai macam kriuk yang rasanya pedas dan asin. dan juga gurih.

Memang bisnis ini bisnis yang sederhana menurutku. Dengan modal sekitar Rp 2.000.000, bisa membeli sekitar 40 bal. Dan kita bisa mengemasnya menjadi sekitar 3500 bungkus. Pengalaman yang sudah aku jalani, pemasaran di hitung perminggu bisa mengeluarkan sekitar 3500 bungkus. Dan keuntungannya cukup lumayan sekitar Rp 800.000 setiap minggu.

Memang kadang ada juga orang yang mencibirku, saat melihat aku membawa belanjaan kriuk dengan motorku, depan belakang penuh kriuk. Bahkan mungkin orang yang tak mengenali aku mengira aku seorang laki-laki. Tapi aku cuek saja, mungkin inilah salah satu tantangan jika kita ingin berhasil. Tetap semangat demi masa depan anak-anak, itu adalah kunciku.
  
Seperti saat ini, usahaku sedang mengalami surut. Pabrik yang biasanya membawa kriuk rutin setiap harinya, kini ada larangan untuk tidak membawa makanan ke dalam area pabrik. Dan sekolahan, beberapa minggu kemarin agak sepi karena sebagian menghadapi ujian dan sebagian lagi libur. Yeachh...namanya usaha pasti ada pasang surutnya. Dan ini kadang membuat aku putus asa karena merasa tidak berdaya menghidupi anak-anak. Bahkan aku hampir-hampir terjerumus ke jalan yang salah.

Namun aku kini menyadari, bahwa hanya kemauan yang keras, keyakinan dan doa yang akan menolong kita untuk bisa maju, dalam hal apapun...bukan hanya bisnis saja. Selama kita mau berusaha, aku yakin pasti akan bisa berhasil dan maju. Buktinya aku bisa menghidupi anak-anak dari usahaku ini, walau aku seorang Single Mom. Dan aku bisa menyekolahkan mereka dengan baik.

Dan aku yakin, aku pasti bisa meneruskan usahaku ini walau dengan modal seadanya. Karena aku merasa nyaman dengan usahaku ini. Apa lagi anak sulungku sudah lulus sekolah, otomatis pengeluaranku agak berkurang. Jadi aku sangat optimis usahaku bisa bangkit kembali dan aku pasti bisa menghidupi anak-anakku, menyekolahkan anak-anakku, walau dari usaha sederhana seperti ini.
  
Satu kata bijak yang sangat menyentuh, mudah-mudahan membangkitkan semangat, bukan hanya bagiku tapi bagi siapapun yang membacanya, "untuk meraih prestasi besar, kita harus bermimpi lalu memvisualisasikannya..merencanakannya..meyakininya..dan melakukannya."

Semangat yuk...

19 October, 2011

Memang Harus Begini

Oleh : Ari Kurnia

Petir menggeletar, hujan turun sangat deras dari langit. Brr, dingin sekali udara ini.Telapak tanganku sibuk kugosok-gosokkan dengan frekuensi yang makin cepat, berharap ada kehangatan yang mengalir ke badanku yang kuyup ini.

Percikan air hujan masih mengena di kakiku. Meskipun sudah berteduh di teras sebuah toko,namun tetap saja merasakan air dingin ini. Kupandang kedua anak kecil yang ada di sampingku. Sama sepertiku, menggigil kedinginan. Aku hanya bisa menghiburnya dengan memberi cerita-cerita ringan agar mereka lupa akan dingin ini. Kuusap punggung mereka dengan telapak tanganku, berharap dingin segera pergi dari tubuh mungil mereka. Suamiku berdiri tegak disamping anak kecil itu, seperti biasa, hanyut dalam diamnya. Dia memang pria pendiam. Tapi dia pria penyayang, dia sayang kedua anak kecilku, anak kecil itu adalah buah hati kami.

Akhirnya sang hujan pun pamit, tinggal rintik-rintiknya yang masih berlari riang menuju muka bumi. Aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, lebih cepat sampai rumah lebih baik. Ikan-ikan mentah di atas motor ini harus segera kuolah menjadi dimsum pesanan pelangganku.

“Yuk, sayang kita berangkat,” ajakku kepada kedua anakku.

“Ayuk Ma, Adek kedinginan nih, pengen cepet sampe rumah, mau minum susu,” jawaban polos keluar dari mulut Fathan, si adik, yang berumur 4 tahun.

Astagfirullah, Nak. Maafkan Mama. Kau dan kakakmu merasakan kedinginan ini demi Mama. Mama terpaksa mengajakmu karena memang tidak ada orang yang mengasuhmu dirumah. Kusapu pandanganku, menyisir rumah-rumah dan toko yang ada. Tidak ada yang buka. Artinya Fathan harus bersabar untuk menahan dahaga untuk sampai rumah.

Mesin motor telah meraung, suamiku bersiap di posisi mengemudi. Hap, kamipun naik ke atas motor, mengenakan jas hujan. Melaju di kegelapan malam, menembus rinai hujan dan mengejar mimpi yang terbentang.

Satu kilometer berlalu, aku merasa ada yang aneh dengan kakiku. Keranjang berisi ikan kakap yang baru saja aku beli kok rasanya menjadi lebih langsing ? Ah, mungkin hanya perasaanku saja, hiburku. Namun perasaanku semakin tidak enak.

“Mas, coba berhenti sebentar,” ujarku pada suamiku.

“Kenapa ?” tanya suamiku bingung.

Aku tidak sempat menjawab pertanyaan suamiku. Aku langsung meloncat turun dan kuperiksa keranjang belanjaanku yang tergantung di sebelah kiri dan kanan motor. Dugaanku benar, keranjangku berkurang isinya. Panik, gugup dan tercekat tenggorokanku. Kemana ikan-ikan kakapku yang dua kantong lagi ? Haduh, ikan itu harus ada malam ini, sudah tidak ada waktu untuk membeli ikan lagi. Subuh ini harus diproduksi. Apa kata pelangganku jika aku terlambat memenuhi ordernya.

Lemas badanku, ada lubang di keranjangku. Lubang di keranjang itu yang meloloskan ikan-ikan cantikku. Air mataku menetes, sifat wanitaku keluar. Kedua bocah kecilku kebingungan melihat mamanya menangis.

“Jangan panik, kita cari lagi di jalan. Siapa tahu masih rejeki kita,” hibur suamiku dengan hangat.

Kuanggukkan kepala, memang itu yang harus kita lakukan. Tidak ada jalan lain lagi kecuali menapak tilas jejak kami. Kututup lubang dikeranjang itu dengan tasku yang berukuran lebih besar.

Dalam kegelapan, kami mencari dua kantong ikan yang hilang. Saat itu waktu menunjukkan pukul sebelas malam, suasana sudah sangat sepi. Rumah-rumah yang agak berjauhan menambah gelapnya suasana.

Menyusuri meter demi meter jalan yang tadi kami tempuh. Sesekali kulirik kedua anak manisku. Pengen nangis kalau melihat kedua anak yang tidak mengeluh ini, padahal ini waktu tidur buat mereka. Akhirnya kutemukan juga dua kantong ikan itu. Ku peluk erat-erat kantong ikan itu layaknya seorang bayi. Rasa lega membanjiri dadaku.

Subuh. Kuolah ikan-ikan beraneka jenis itu, merubahnya menjadi dimsum yang cantik. Sendirian di dapur, sementara suami dan anak-anakku masih terbuai oleh mimpi indahnya setelah bergulat dengan hawa dingin.

Dengan hati yang riang, kuolah bumbu-bumbu segar. Kucampur dengan ikan yang telah kublender halus. Membungkusnya dalam tepung atau lembaran pangsit. Aku mencintai pekerjaan ini, mengolahseafood menjadi makanan bercita rasa tinggi. Menghantarkannya menjadi menu keluarga.

Bolehkah aku bermimpi bahwa suatu saat aku memiliki pabrik olahan seafood sendiri ? Dimana pabrik itu akan mempekerjakan orang-orang di sekelilingku. Akan kuangkat kondisi orang-orang di sekelilingku, memberi sejuta peluang, sejuta pengalaman. Aku tersenyum sendiri sambil mengamini mimpi itu.

Yang terpenting aku sudah berdiri tegak di sini, telah melangkah meskipun masih tertatih, walaupun masih mengorbankan waktu keluargaku. Ya, memang harus begini untuk berproses menjadi lebih baik dan lebih baik. Namun aku yakin, aku pasti bisa. Pasti berhasil. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.


Kenapa Harus Pasiv Income?

Dewi Muliyawan-
Dari dulu saya sering mendengar istilah pasive income dan active income, tapi terus terang saya tidak tahu apa bedanya. Yang penting buat saya saat itu, penghasilan saya setiap bulan cukup untuk kebutuhan sehari-hari plus ada sedikit dana yang bisa disisihkan untuk ditabung. Tapi karena banyak teman-teman yang selalu membicarakan soal “si pasive income” ini, saya mulai tertarik mencari tahu.
Oooo… ternyata yang disebut active income adalah gaji yang saya dapat setiap bulan. Kenapa disebut active income? Karena untuk mendapatkannya saya harus bekerja secara aktif. Artinya kalau saya bekerja tentu akan mendapat gaji, sebaliknya kalau tidak, berarti…hehehe… siapa yang mau menggaji?
Selama saya masih mampu bekerja tentu tidak ada masalah buat saya. Gaji pasti lancar mengalir. Biaya hidup bisa dipenuhi. Tapi bagaimana kalau saya tidak bisa atau tidak mampu bekerja? Karena sakit berat misalnya. Lalu darimana saya bisa mendapat uang untuk biaya hidup sehari-hari?  Dari mana dana untuk membayar uang sekolah anak-anak? Kesannya parno ya? Tapi saya memilih untuk mempersiapkan diri kalau skenario terburuk terjadi. (halah bahasanya) Nah… karena itu saya mulai mengulik-ulik pasive income.
Prinsip pasive income pertama saya dapatkan dari buku Brad Sugar, yaitu : Do the work once and get paid forever (maaf judul bukunya lupa). Hmmm… saya mulai berpikir pekerjaan apa yang dilakukan hanya satu kali tapi bisa memberikan pendapatan terus-menerus?
Setelah tanya sana-sini, kasak-kusuk kanan-kiri, ternyata royalti salah satunya. Benar juga sih kalau dipikir-pikir, seorang penyanyi atau pengarang lagu yang merekam karyanya, tentu akan mendapat royalti selama album lagu tersebut masih terjual. Begitu juga dengan penulis buku. Karena itu saya rajin menulis…hehehe nggak ding bercanda.
Pilihan lain untuk mendapat pasive income adalah bisnis. Ya sih kalau usaha masih kecil, masih saya kelola sendiri mah masih jadi active income. Saya jualan saya dapat untung kalau libur ya pasti… gak untung. Tapi saya yakin usaha ini pasti berkembang, bertambah besar. Terus saya akan mampu menggaji tenaga-tenaga profesional untuk menjalankannya. Jadi saya bisa jalan-jalan tapi usaha tetap jalan. Enak tho?

Sambil menunggu usaha berkembang, tentu saya tidak berdiam diri. Saya melirik jalan lain untuk mendapatkan pasive income. Salah satunya dari properti. Ya menyewakan ruko atau rumah menjadi salah satu sumber pasive income buat saya.
Sebenarnya ada lagi sumber-sumber pasive income yang lain yaitu membeli surat berharga seperti saham serta investasi di emas, tapi saya belum melakukannya jadi belum bisa bercerita banyak.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat buat ibu-ibu…

Woman In Biz: Antara Jatuhnya Bisnis, Keyakinan, dan Semangat!

Oleh : Indari Mastuti 

Artikel ini akan saya mulai dengan sebuah pertanyaan, "Bagaimana membangun kembali bisnis Anda yang jatuh?"

Pernahkah mengalami kejatuhan bisnis? apa yang ibu rasakan? sedih? kecewa? perasaan yang semrawut? bahkan stress?

Tahun 2010 adalah masa suram dalam bisnis yang saya kelola. Tanpa saya sadari penurunan omzet terjadi. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, namun saya terlambat menganalisa bisnis, sehingga hasilnya fatal. PHK harus saya lakukan untuk efisiensi biaya fix, mengetatkan pengeluaran operasional dari segala sisi, tapi apa daya perusahaan sudah berkembang sehingga seketat apapun efisiensi dilakukan biaya yang harus dikeluarkan tetap besar. Dimulai dari biaya telepon, listrik, atk, speedy, dan pengeluaran fix lainnya yang luar biasa besarnya.

Dalam kondisi omzet menurun, piutang tak bisa tertagih dengan baik karena alasan klien -bangkrut- dan ada yang -hilang- entah kemana. Lebih dari 100 juta harus saya ikhlaskan karena tidak bisa tertagihkan.

Herannya dalam kondisi buruk itu saya nggak pernah keabisan semangat! seingat saya hanya satu kali berkeluh kesah kepada suami kalau "pikiran saya penat!" sisanya tetap menjalankan dengan senang hati :). Padahal mungkin saja suami saya yang bertanggungjawab di urusan keuangan kepalanya cenat cenut :)

Di sisi lain, saya harus berhadapan dengan berbagai karakteristik karyawan yang sudah tidak sedikit. Kondisi perusahaan yang sedang labil kerapkali membuat karyawan ikut-ikutan tidak labil, itu sebabnya saya setiap saat harus menyuntik semangat dan menyebarkan aura positif agar mereka tetap bisa menghadapi segala kesulitan perusahaan. perusahaan yang jatuh dan akan kembali bangun! Namun, apa daya tidak semua bisa bekerjasama  :).

Saya harus berhadapan dengan mereka yang demotivasi mulai dari jadwal kerja yang ngaret, datang terlambat terus, wajah unhappy, bahkan teror seseorang yang merupakan pasangan hidup sang karyawan yang merasa tidak terima dengan keputusan yang saya buat. Inilah suka duka memimpin sebuah perusahaan!

Saya bersyukur!

Saya bersyukur, Allah senantiasa melimpahkan 'semangat'' yang luar biasa pada diri saya. Dalam kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan itu, saya tidak ikut tergerus kondisi. Saya tetap melangkah, semangat, dan terus menguatkan AFIRMASI.

Bisnis saya sedang diuji dan pasti akan kembali bersinar! saya akan bertahan dan mencari cara untuk kembali berbinar!

Beberapa bulan saya mengalami hal itu dan saya tidak menyerah! walau saya akan menggadaikan apa yang saya miliki, rumah, mobil, perhiasan, menguras tabungan, atau apapun saat itu saya lakukan demi mempertahankan bisnis saya, demi membayar hak orang lain, dan demi amunisi untuk masa depan lebih baik.

Saya terus melangkah dan menyakini semua akan baik-baik saja!

Saya merevisi marketing plan dan membuat inovasi-inovasi baru dalam program perusahaan. Butuh waktu! Tapi saya jalankan!

Suami adalah patner, sahabat, sekaligus konsultan bisnis terus mendampingi saya dalam masa-masa suram itu. Dia mendengarkan semua program yang akan saya jalankan dan memberikan koreksinya.

Alhamdulillah....tanpa saya sadari keyakinan kembali berbuah lebat!

Satu persatu klien lama kembali memesan, bahkan klien baru terus berdatangan dengan jumlah pesanan yang tidak sedikit. Dalam kondisi itu, saya mulai membenahi segalanya, memberikan PELAYANAN LEBIH BAIK dan mempererat TIM YANG SOLID demi kepuasan pelanggan.

Saya dan tim yang kini berjumlah 7 orang saling berpegangan tangan melanjutkan dan merajut mimpi kami.   Saya begitu percayanya akan segala sesuatu ada hikmahnya! dalam segala kondisi saya pantang mengeluh dan menyerah! Inilah saya, yang menurut suami saya "KEUKEUH!" :)

Sekarang kondisi Indscript Creative sudah kembali sehat, alhamdulillah. Apa jadinya jika saya menyerah?!

Bagaimana dengan ibu? Apakah ibu sudah melawan rasa kecewa karena kejatuhan bisnis yang ibu jalankan dengan aksi yang terprogram? Lawan stress dengan rasa syukur, lawan rasa sedih dengan keyakinan! saya yakin bisnis apapun membutuhkan keyakinan untuk mengembangkannya!

Saya tahu, membangun bisnis bukan sesuatu yang mudah namun saya yakin segala kesulitan bisa dilalui oleh siapapun yang menjalankannya asal terus melakukan USAHA yang tiada henti, KEYAKINAN tidak terbatas, SEMANGAT yang tidak pernah habis, DOA yang tak terputus, dan CINTA pada profesi yang dijalankan.

"Tidak ada seseorang yang sukses yang tidak mengalami hal buruk dalam membangun kesuksesannya."
-Indari Mastuti-
19 Maret 2011 jam 13:07

17 October, 2011

Kesibukan, Pendidikan Anak, Dan WARISAN!

Oleh : Indari Mastuti 

Tidak ada yang bisa saya wariskan pada anak-anak selain Buku
-Indari Mastuti-

Saya bersyukur atas warisan ilmu dari Bapak. Bapak memang sangat keras, Bapak paling hobi memberi nasehat, namun Bapak sangat menyanyangi saya, hingga kelas 6 SD saya masih digendong Bapak :).

Kasih sayangnya terhenti ketika saya kelas 2 SMP Bapak terkena Stroke. Produktifitas Bapak menurun dan harus mencari rezeki dengan sebelah tubuhnya yang tidak normal. Setiap saya bercerita tentang Bapak air mata saya selalu menitik tanpa terasa. Banyak kenangan manis dan pahit dengan Bapak yang tanpa saya sadari itulah yang mendidik saya dengan ataupun tanpa kehadirannya. Kata-kata Bapak yang tegas dan penuh maknalah yang memberikan warisan kekuatan dalam hidup saya.

Ketika kelas 6 SD, Bapak memangku saya dan mengatakan hal ini,
"Indari, Bapak tidak akan melihat kamu tumbuh dewasa, namun Bapak yakin dengan ataupun tanpa Bapak kamu akan bisa menjalani kerasnya hidup ini. Kamu punya potensi, maksimalkanlah."

saat itu saya tidak mengerti mengapa Bapak mengatakan tidak bisa mendampingi saya tumbuh dewasa, namun baru saya sadari ketika akhirnya setelah 7 tahun bergelut dengan stroke, Bapak meninggal persis ketika saya keluar SMA....nampaknya mata saya mulai berkaca-kaca...:'(

Bapak tidak meninggalkan warisan harta untuk kami, setelah Bapak sakit saat saya duduk di kelas 2 SMP dan kemudian meninggal ketika saya keluar SMA. Warisan Bapak yang paling berharga adalah BUKU.

Buku Bapak sangat banyak dan saya menyimpannya hingga sekarang, buku menjadi kenangan terindah dari Bapak. Bapak yang sangat suka baca! Saya menyimpan semua buku-buku berbau hukum yang dimiliki Bapak, karena Bapak adalah seorang pengacara sehingga buku yang dimilikinya adalah buku-buku yang kadang sulit saya cerna :). Saya juga masih menyimpan agenda-agenda Bapak semasa hidupnya. Semua catatan keseharian yang ditulis dengan rapi... Warisan kedua dari Bapak adalah KEBIASAAN bapak yang menurun pada saya. Kami sama-sama suka mencatat tentang apa saja.

Ketika saya dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif Nova 2010, kami, 10 pemenangnya ditanya oleh Ibu Rieny Hasan, "Kesuksesan Anda akan dipersembahkan untuk siapa?" rata-rata sahabat saya menjawab untuk Ibu.

Namun, saya dengan tegas menjawab untuk "BAPAK!". Ketika ditanya alasannya mengapa Bapak? saya menjawab dengan air mata yang terus mengalir deras. Karena begitu banyak warisan yang Bapak berikan untuk saya, warisan yang bukan berupa harta tapi warisan luar biasa yang membuat kaki saya terus berdiri tegar hingga saat ini....I really Love Him! Kadang saya memimpikan Bapak hadir saat ini...Betapa saya begitu mencintainya...

Bapak mendidik saya dengan sangat keras, namun disisi lain Bapak memanjakan saya. Bapak tidak pernah memanjakan kami dengan uang, karena memang kami bukan keluarga yang bergelimang uang. Bapak memanjakan saya dengan pelukan, ciuman, dan belaian di rambut saya. Bapak memanjakan saya dengan nasehat yang tidak pernah terhenti. Bapak membuat  saya  istimewa walau saya bukan anak yang hebat.

Warisan ini yang ingin saya berikan pada anak-anak saya. Saya ingin meniru Bapak dalam mendidik saya, walau saya juga harus membuang beberapa bagian yang sempat membuat saya terkerangkeng dalam rumah karena Bapak sangat keras dalam mendidik.

Ketika saya mendirikan Indscript Creative tujuan saya memang untuk mencurahkan seluruh perhatian pada anak-anak, walau tanpa disadari kesibukan mengurus rumah, keluarga, dan bisnis bukanlah sesuatu yang mudah. Kerapkali saya membuat anak-anak kecapekan karena harus mengikuti aktifitas saya di luar rumah. Saya harus memboyong kedua anak saya pergi kemana-mana.

Nanit mulai saya ajak keluar kota ketika usianya kurang dari 1 bulan, masih mending de Ammar yang baru mendekati 2 bulan dia baru saya ajak keluar kota. Namun, kedua anak saya memang harus mengikuti saya, sebab saya ingin mereka tahu apa yang Bunda mereka kerjakan di rumah rumah. Saya ingin mengenalkan mereka pada aktifitas keseharian saya.

Lingkungan yang saya kenalkan lambat laun akan membentuk pribadi mereka. Itulah yang membuat saya begitu yakin mengajak mereka serta kemanapun pergi. Lingkungan penulis yang saya miliki bisa jadi membuat salah satu diantara mereka menjadi penulis tanpa perlu saya dorong, lingkungan kerja yang saya ciptakan di rumah akhirnya bisa jadi membentuk pribadi anak-anak yang mandiri, serta banyak hal baik yang ingin saya berikan pada mereka dengan harapan mereka tumbuh dengan baik. Itu adalah harapan semua ibu, bukan?

Pendidikan anak yang saya gunakan sekarang banyak yang saya tiru dari Bapak, walau banyak yang saya tidak aplikasikan juga, karena tidak sesuai dengan zaman sekarang hehehe...Namun, saya semakin menyakini satu hal atas hal ini, kerapkali anak meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

Selamat pagiiiii semua ibu di seluruh belahan dunia,
Salam penuh cinta,
Indari Mastuti
21 Maret 2011 jam 14:44

Menjadi Orang Yang Bahagia Jauh Lebih Besar daripada Sukses

Oleh : Evi Andriani

            Setiap orang pada hakikatnya ingin sukses, akan tetapi banyak orang yang menyalah artikan kesuksesan itu seperti apa. Bagi sebagian orang beranggapan bahwa sukses adalah suatu keberhasilan atau keberuntungan karena telah mendapat sesuatu seperti memiliki kekayaan yang berlimpah, kedudukan atau jabatan yang tinggi, menjadi orang yang terkenal dan lain sebagainya. Pernahkah kita berpikir bahwa kesuksesan itu tidak bisa membeli suatu kebahagiaan? Kita bisa membeli mobil mewah atau rumah besar tapi kenyamanan, ketentraman dan kebahagiaan itu tidak bisa kita beli dengan uang yang kita miliki.

            Tak jarang kita melihat banyak orang yang melakukan penyimpangan untuk mendapatkan kesuksesan itu sendiri dengan menghalalkan berbagai cara sehingga mental orang tersebut dapat berubah menjadi egois, mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain. Bahkan demi mengejar kesuksesan itu, banyak yang sampai mengorbankan keluarga, teman atau rela menyerahkan kehormatannya. Ia menjadi orang yang mengabaikan keluarganya sendiri sehingga kehidupan rumah tangganya menjadi tidak harmonis dan dipenuhi perasaan was-was atau gelisah. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling bermakna dalam hidup.

            Dasar dari kesuksesan itu berasal dari kebahagiaan yang tiada henti diperoleh, kebahagiaan itu tidak hanya dinikmati sendiri tetapi dapat dinikmati oleh banyak orang. Ketika kita mendistribusikan keberhasilan yang kita miliki kepada orang-orang disekeliling kita dan melihat mereka sukses, maka di situlah terdapat kebahagiaan. Ketika kita berkarya untuk orang lain yang manfaatnya berdimensi lama dan dirasakan oleh banyak orang, disitulah makna kesuksesan dan kebahagiaan yang benar. Seperti yang pernah saya alami yaitu teman saya memberi sepotong kue kepada saya, ketika kue itu habis maka kebahagiaan itu pun sirna. Akan tetapi, ketika saya pernah memberikan hadiah bros jilbab kepada teman saya, ia merasa sangat senang banget dengan wajah penuh senyuman yang khas, hal tersebut membuat saya bahagia hingga sekarang dan tidak pernah pudar seiring berkurangnya waktu karena kami menjadi sahabat sejati.

            Mahatma Gandhi mengatakan: “Kebahagiaan tergantung pada apa yang kita berikan, bukan pada apa yang kita peroleh”. Hal tersebut juga merupakan salah satu wujud syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga Dia akan membalas kebahagiaan kita dengan nikmat yang lain jauh lebih besar dari kesuksesan itu sendiri. Diantaranya adalah keseimbangan hidup. Jika hidup kita telah seimbang maka kita dapat mengatur waktu kita menjadi lebih efektif sehingga menghasilkan satu hal yang luar biasa, menjadikan kita senantiasa menjaga kecenderungan nafsu, emosional, dan terbebas dari berbagai masalah.

            Hubungan kita dengan Allah juga semakin kuat, perasaan menjadi tentram dan membuat proses aktualisasi diri semakin konsisten untuk mencapai cita-cita yang mulia. Hal itu dapat terlihat dari berkembangnya potensi yang dimiliki seseorang dari hari ke hari karena ada upaya yang optimis untuk selalu mengasahnya. Seperti seseorang yang berpotensi ingin menjadi seorang penulis atau akuntan maka ia terus meningkatkan kemampuannya dibidang menulis atau ilmu akuntansi. Walaupun cita-cita telah berhasil didapatkannya, ia terus tumbuh sampai akhir hayatnya dan memberikan manfaat bagi orang lain bagaikan air yang mengalir tanpa henti. Menjadi orang yang bahagia jauh lebih tenang, damai buat kita, bukan sekedar menjadi orang yang sukses atau menjadi orang besar. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama menuju titik yang kita harapkan tersebut yakni mencapai kebahagiaan dalam hidup ini sehingga memperoleh ‘akhir’ yang baik.

15 October, 2011

Emak Bukan Cinderella

Oleh : Ida Fauziah

Pagi ini aku menemani 3 putriku duduk di depan tv. Mereka sedang menikmati film Cinderella versi Prancis. Entah mengapa, mataku tiba-tiba berkaca-kaca, ada buliran kecil siap terjun dari sana.


“Ada apa Ma? “ tanya putri sulungku.

Aku segera menyeka air mataku. Aku tidak menjawab, hanya bisa tersenyum. Sulit untukku bisa menceritakan secara detil perasaanku kepada putri mungilku itu. Entah mengapa, setiap melihat kisah Cinderella dalam versi apa pun, aku pasti bersedih. 

Aku akan teringat kapada emakku yang jauh di tanah air. Teringat akan kisah hidup yang telah beliau alami. Perjalanan panjang yang penuh dengan lika-liku. Perjuangan hidup yang diwarnai dengan kesakitan, keteguhan, kesabaran dan pengorbanan. Jalan hidup berbalut suka dan duka, layaknya seorang Cinderella.

Emak lahir di kota kecil, di Kalimantan. Terlahir dengan sambutan yang biasa saja, karena sebelumnya telah ada 6 saudara yang telah lahir sebelum emak. Setelah emak lahirpun, masih ada 6 saudara lain lagi yang lahir. Jadi total saudara kandung emak, ada 13 orang. Tapi karena situasi dan kondisi, jaman itu masih tinggi tingkat kematian anak. Delapan saudara kandung emak, meninggal semasa masih balita. Sampai sekarang, hanya 4 saudara kandung emak yang masih hidup.

Ketika memasuki usia sekolah, emak dititipkan untuk menumpang sekolah di rumah bibinya di kota. Jadi sejak umur 7 tahun, emak sudah tidak tinggal bersama orang tuanya. Sebagai anak asuh ( keponakan yang menumpang hidup ), emak harus bisa membantu segala pekerjaan rumah tangga agar tetap disayang bibinya dan tetap diizinkan untuk menumpang dirumahnya.

Masih teringat dibenakku, emak pernah mengungkapkan tentang masa itu. “Bangun harus sebelum azan subuh, menyalakan tungku, memasak air dan memasak nasi,”ujar emak. Tak bisa kubayangkan betapa sabarnya emak. Sekecil itu harus meniup kayu-kayu bakar di tungku, membuatnya tetap menyala agar air mendidih dan nasi bisa masak.

Ternyata bukan hanya itu, mulutku bahkan pernah ngowoh ( membuka lebar ) ketika emak menceritakan bagian lain dari aktivitas paginya. “setiap berangkat ke sekolah, harus membawa nampan besar di kepala, isinya kue-kue buatan bibi yang akan di jual di sekolah,”tutur emak dengan tersenyum. Bagiku, dua hal itu saja sudah membuatku begitu kagum pada emak. Karena jika hal itu terjadi padaku, kutahu belum tentu aku akan sanggup menjalaninya.

Sejalan waktu, emak kecil tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan pintar. Emak diterima di fakultas hukum, di satu-satunya universitas negeri di propinsinya saat itu. Hanya kata salut berulang-ulang kuungkapkan ke emak, di tahun itu, tahun 1969, masih langka orang bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Tapi emak telah membuktikan, keterbatasan ekonomi bukan menjadi halangan.

“Kok bisa Mak? Tanyaku.

“Niat harus kuat, harus gigih dan tidak boleh putus asa untuk meraih cita-cita, “ujar emak penuh semangat.

Tahun 1975, emak dipersunting bapak. Emak akhirnya meninggalkan rumah bibinya. Setelah menikah, emak sempat bekerja di bea cukai, pintu masuk pelabuhan laut di kotanya. Emak memilih berhenti bekerja karena mengandung anak pertamanya. “Iya, emak berhenti bekerja karena ada kamu lagi bobok di rahim emak, “ungkap emak sembari memegang perutnya. Terima kasih emak. Sejak saat itu, kau luangkan seluruh waktumu untuk anak dan suamimu.

Keluarga Bapak memiliki latar belakang ekonomi yang bertolak belakang dari emak. Bapak merupakan anak lelaki tunggal di keluarganya.Sejak kecil bapak sudah memiliki pengasuh (babysitter), bahkan sampai di bangku kuliahpun, bapak masih diantar dan dijemput pembantu ayahnya.

Ayah bapak adalah seorang bos minyak ( sebutan bagi pemilik pangkalan minyak di tepi sungai, mungkin sekarang seperti SPBU). Kehidupan bahagia mulai dirasakan emak, sejak menikah. Kemudian bertambah setelah melahirkan aku, anak pertamanya. Semakin lengkap dengan kehadiran adik-adikku secara bergantian, sehingga adik bungsuku, anak emak ke-5.

”Kenapa bapak tertarik sama emak?” tanyaku suatu kali.

Kata emak, “bapak sejak pertama lihat emak langsung jatuh cinta dan serius ingin menikahi emak”. Wah kayaknya ini yang dibilang ada chemistry .

Sejak menikah dengan bapak, emak bagai Cinderella. Emak tidak lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci, masak dan setrika sudah dilakukan oleh pembantu. Emak hanya menyusui dan merawat anak-anak saja.

“Bapakmu sangat sayang kepada emak, “ kata emak. Makanya, emak tidak diperkenankan repot dengan urusan rumah tangga.

Aku selalu ingat betapa kompaknya emak dan bapak mengasuh, membimbing, menyayangi kami. Bahkan di rumah kami saat itu, juga ada beberapa keponakan bapak yang sudah kehilangan orangtuanya ( yatim). Mereka juga diperlakukan sama layaknya anak kandung seperti kami. Kasih sayang emak juga tak berbeda bagi kami semua, bahkan sampai akhirnya mereka ( para kakak sepupuku itu) menikah dan diboyong ke rumah suaminya masing-masing.

Masih teringat lekat dipikiranku, betapa emak dan bapak menyayangi kami dengan gaya mereka yang special. Emak tak pernah menyuruh anak-anaknya melakukan pekerjaan rumah tangga, mungkin emak ingin kami full bahagia di masa kecil kami. Bapak pun begitu, sampai SMA, aku masih diantar dan dijemput bapak, jika pergi dan pulang sekolah. Masa-masa indah yang tak bisa terulang kembali. Kebahagiaan keluarga yang ingin kami rasakan untuk selamanya.

Kita berencana, Tuhanlah yang menentukan. Saat usiaku 17 tahun, bagai disambar petir di siang bolong, bapakku meninggal dunia secara mendadak. Kesedihan jelas mewarnai kehidupan kami saat itu. Aku dan keempat adikku, masih sekolah di SMA, SMP dan SD. Kami menjadi yatim, di usia yang masih belia.

“Titip anak-anak,”begitu pesan terakhir bapak kepada emak. Tentu saja kehilangan bapak, bagai kehilangan pegangan hidup bagi kami. Bapak adalah panutan, pelindung, pencari rezeki bagi keluarga kami.

Kembali emak menunjukkan “keperkasaan” dirinya. Emak kembali hidup sedia kala. Emak tak lagi hidup bagai Cinderella. Dan Memang, emak bukan Cinderella.

“ Masih ada Allah yang akan menjaga kita,” demikian yang selalu emak sampaikan kepada kami, jika melihat kami menangis mengenang almarhum bapak. Aku ingat saat itu, aku kelas 3 SMA, sedang menghadapi ujian EBTANAS.

“Jangan pikirkan macam-macam, belajarlah dengan tenang dan raihlah prestasi yang baik, insya Allah bapak di surga akan bahagia melihat keberhasilanmu,” Kata emak menyemangati ku.

Alhamdulillah, aku lulus dengan nilai terbaik di sekolahku. Aku bisa melanjutkan di perguruan tinggi negeri di kotaku. Demikian juga tahun-tahun berikutnya, adik-adikku juga berhasil memasuki perguruan tinggi negeri dan kami mendapat beasiswa selama masa kuliah.

Emak sangat gigih berjuang untuk kelangsungan hidup kami. Emak mengais rezeki dengan membuka warung kecil di depan rumah dan menerima pesanan kue dari teman-temannya. Tengah malam emak lalui dengan bermunajat kepada-Nya. Emak memberikan contoh pada kami, anak-anaknya. Tanpa dimintapun, kami meniru untuk bangun malam, mengadu pada-Nya. Ya, hanya kepada-Nya kami bisa berharap.

Sebelum subuh, emak sudah sibuk di dapur, menyiapkan dagangannya. Aku dan adik-adikku, kadang membantu mengoreng atau memotong bahan yang akan dimasak emak. Kami lakukan dengan kesadaran sendiri. Emak tak pernah meminta kami untuk melakukannya. Begitupun dengan pekerjaaan rumah tangga lain. Menyapu, mencuci dan setrika, kami lakukan sendiri. Kehilangan bapak membuat kami menjadi pribadi yang mandiri.

Sebenarnya, almarhum bapak ada mewariskan beberapa buah rumah dan beberapa bidang tanah. Tapi emak tidak pernah berniat untuk menjualnya. Sehingga akhirnya, ketika adik perempuan bungsuku diterima di perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Emak perlu uang banyak untuk membiayai adikku itu. Dengan berat hati, emak menjual sebuah rumah warisan di tengah kota.

Secara logika, pasti banyak uang yang emak terima. Karena harga tanah dan rumah di tengah kota sudah mahal waktu itu. Tapi apa yang terjadi? Emak dibohongi atau dicurangi oleh saudaranya sendiri, yang menjadi makelar untuk penjualan rumah itu. Apakah emak marah? Tidak, emak tidak marah. Raut wajah emak tetap tenang, begitu sabarnya emak. Bahkan emak masih bisa tersenyum ikhlas di depan saudaranya itu. Emak menganggap mungkin belum rezeki bagi kami.

Saat itu, emak hanya berkata lirih, “ Biarkan saja dia begitu, tidak akan barakah jika dia makan harta anak yatim”.

Ternyata kata-kata emak terbukti. Orang yang telah menzalimi emak, hidupnya susah. Sehingga sekarang, orang tersebut memang hidupnya jauh dari keberkahan. Walau sudah memasuki usia pensiun, dia belum mempunyai rumah pribadi untuk naungan keluarganya. Bahkan dia memiliki hutang yang banyak, akibat gaya hidup yang berlebihan. Nauzubillahi minzalik. Jangan sampai kita menzalimi orang lain, karena terbukti doa orang yang dizholimi itu, sangat makbul.

Tahun ke-6 meninggalnya bapak, aku dan adikku di wisuda. Tak sampai dua minggu, kami sudah mendapat pekerjaan.

Emak berkata bahagia, “ Alhamdulillah, bapak pasti bahagia melihat anak-anaknya berhasil”.

Menyusul setahun kemudian, adik perempuan bungsuku diwisuda di Jakarta. Emak mendamping dan menangis terharu dan bahagia. Pada tahun yang sama, adik lelakiku, diterima bekerja di perusahaan minyak milik Prancis, di kota Balikpapan. Air mata emak mengalir deras melepas kepergian adik lelakiku, Iya, karena dia sudah seperti pengganti sosok bapak di rumah kami.

“Jangan lupa sholat 5 waktu, semoga Allah yang maha Rahim, melindungi dan menjagamu dari segala mara bahaya, “pesan dan doa yang selalu sama emak panjatkan setiap melepas kepergian anak-anaknya.

Menjelang 8 tahun meninggalnya bapak, aku dilamar dan akan menikah. Banyak saudara yang menentang rencana pernikahanku. Mereka beranggapan aku terlalu muda, masih berkesempatan untuk berkarier dan belumlah banyak membahagiakan emak.

Tapi emak malah mendukungku, “ Menikahlah, jika itu memang jodohmu. Emak akan tambah bahagia jika segera dapat cucu,”canda emak kepadaku.

Di usiaku ke-25, aku menikah. Emak mendapat omongan-omongan tidak sedap dari saudara-saudaranya. Tapi emak tetap sabar menanggapinya. Anak-anak emak laris manis bagai gorengan. Beberapa bulan kemudian, satu persatu adikku dilamar. Menikah sebelum usia 25 tahun. Bahkan adik lelakiku, menikah di usia 22 tahun.

Kami, anak-anaknya, sangat ingin membahagiakan emak. Tepat 60 tahun usia emak, 7 Desember 2010, kami mengirim emak untuk bertamu ke rumah Allah.

“Subhanallah, Alhamdulillah, terima kasih ya Nak, sudah mewujudkan impian emak untuk ke sini. Semoga Allah menambah rezeki bagi kalian dari segala arah,” suara emak saat itu, ketika aku menelponnya di Mekkah.

Kini emak sedang berbahagia menikmati sisa hidupnya. Hari-hari dijalani dengan dikelilingi anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucu yang menyayanginya. Emak sekarang bagai superstar, yang selalu ditunggu kedatangannya. Emak memiliki jadwal tetap, keliling Indonesia, untuk mengunjungi cucu-cucunya. Kadang ke Balikpapan, ke Surabaya, ke Pontianak, ke Sekadau, ke Bengkayang dan semoga segera bisa ke rumah kami, di Malaysia. Aamiin.



101 Mimpi Diantara Ribuan Pengalaman Meraihnya! ^^

Oleh : Indari Mastuti 

13 Desember 2010 jam 21:03

Sejak kecil saya termasuk anak yang banyak mau dan banyak mimpi :)). Saya suka menuliskan apa saja yang saya rasakan, inginkan, dan saya alami. Kalo bicara masalah keinginan, jangan tanya deh berapa banyak tulisan yang menyatakan dengan tegas keinginan saya, termasuk salah satunya menjadi seorang PENULIS!

Dalam buku harian kelas 4 SD dengan huruf kapital, saya menulis "AKU AKAN JADI SEORANG PENULIS TERKENAL!" wkwkwkwkwk...geli banget deh kalo ngebaca lagi tuh tulisan :)). Mungkin saja pada saat itu saya sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang penulis, tapi mungkin karena buku-buku dan majalah anak "BOBO" yang jadi santapan tiap hari bikin saya ngiler untuk jadi bagian di dalam buku/majalah yang saya baca...wekweeew

Beranjak remaja mimpi saya makin 'liar'...lagi-lagi buku harianlah yang mendokumentasikan semua keinginan saya, lagi-lagi ya geli juga kalo baca tuh buku harian hehehe...tapi, mau nggak mau banyaknya mimpi itulah yang melecut saya untuk terus berjuang dalam berbagai keadaan ~baik pahit atau manis~

Saya akhirnya membuat sebuah untaian mimpi yang terangkum dalam 101 MIMPI YANG AKAN SAYA RAIH!! Catatan dengan spidol berwarna hijau itu nampak melambai-lambai untuk segera diwujudkan. Percaya atau tidak, dengan catatan itulah semangat saya senantiasa membara. 101 MIMPI!

Waktu bergulir cepat...saya beranjak dewasa, menua, dan terus melangkah! Setiap satu pencapaian, saya buka kembali catatan 101 MIMPI...dan tanpa saya sadari satu persatu mimpi itu terwujud! Kini, lebih dari 50% mimpi sudah bisa saya capai, mulai dari hal kecil hingga hal yang "mungkin" pada saat menuliskannya saya bertanya pada diri "Emang gue bisa gitu?!" Tapi, dasar saya pede saya selalu bilang YA, SAYA BISA! :)

Bagaimanapun juga, satu hal yang hingga hari ini saya syukuri adalah bahwa saya tidak pernah berhenti menyakini bahwa apapun yang ingin saya RAIH pasti bisa saya RAIH jika saya MAU mengusahakannya dan YAKIN mendapatkannya!

Banyak kejadian dalam hidup saya yang tidak bisa saya lupakan begitu saja, baik yang pahit ataupun yang manis. Biasanya setiap kejadian pahit justru akan melecut saya untuk mewujudkan mimpi lebih cepat, yang manis kerapkali tidak membuat saya terlena justru membuat saya makin yakin untuk melangkah agar mendapatkan yang lebih manis hehehe...

Waktu terus bergulir, usia terus bertambah, dan puji syukur Allah melimpahi begitu banyak kekuatan untuk saya berjalan tegak, untuk bangun kembali ketika terjatuh, untuk mengusap air mata ketika menangis, untuk berbesar hati ketika kecewa menghampiri, untuk melepaskan dengan ikhlas ketika yang disayangi harus pergi, dan untuk tetap tersenyum dalam berbagai kondisi!

Ada 101 mimpi yang ingin saya raih, tapi ada ribuan pengalaman yang hadir ketika akan meraihnya. Bismillah....tetap berjuang, melangkah, dan semangat! ^^

Apa Kata Mereka Tentang Indscript Creative?



Gaya marketing Indscript Creative yang heart to heart sangat memuaskan kami. Salut untuk Direktur Marketing & Redaksi Indscript. We love you!
(Yuni Dwi Dasusiwi, Galang Pressindo, Yogyakarta)


Indscript Creative adalah salah satu dari sedikit penyedia naskah yang serius menggarap bisnisnya. Oleh karena itu, Indscript Creative dapat membuat penerbit puas dan yakin.
(Rezki Widhiangga, Direktur Rumah Ide, Depok)




14 October, 2011

Ironi Senja Sang Runi


Oleh : Nong Assa

Sudut dapur yang remang dan lembab. Nyala api lampu minyak berbahan kaleng bergoyang-goyang ditiup angin. Asap di tungku melayang-layang mengitari kami yang berada disekelilingnya dan kemudian menerobos keluar melalui celah-celah geribik dapur yang reot. Mata bening Mida, adik bungsuku, berkilat-kilat dan tersenyum senang saat bau wangi ubi kayu yang dibakar dalam tungku menyentuh penciumannya. Sementara Bayu, adik yang lahir tepat dibawahku justru sudah mulai mengantuk selepas maghrib tadi. Aku terus membenarkan nyala arang dari kayu hutan dan ubi didalamnya agar matang sempurna. Bunyi gemerucuk diperutku makin sering saja, seolah protes untuk segera diisi makanan setelah seharian tadi, sepulang sekolah aku belum memasukkan apapun ke dalamnya kecuali air tawar jernih di sungai tempat kami biasanya mencari sayuran rawa yang tumbuh disekitarnya. 

Bau wangi ubi membuat anganku melayang membayangkan aku sedang makan roti panggang yang didalamya ditaburi sosis dan keju seperti iklan yang pernah aku lihat di tivi Bu’de Wiwit. Lezat sekali. Padahal bagaimana rasa sosis dan keju akupun belum tau, kata apak* rasanya gurih. ”Runi, coba ambil singkongnya satu untuk adikmu. Sepertinya sudah ada yang matang.” Uni* Lin yang sedari tadi memangku Mida sambil membaca buku pelajaran membuyarkan lamunanku. Aku segera memilih-milih ubi di tungku ”wah, rupanya sudah ada tiga yang matang, Un, ini yang paling empuk buat Mida ya!” aku segera membawanya dan mengupaskannya untuk Mida. Bibir imut Mida tersenyum jenaka, ia kegirangan. ”Biar uni Lin saja yang kupas, nanti tanganmu kepanasan,” pinta uni Lin. ”Bayu mau, Bayu mau! Bayu kupaskan juga ya, Un!” rupanya Bayu tidak jadi ngantuk begitu ubinya matang. Kami makan berbarengan. Lega rasanya, akhirnya perutku juga tubuh kecil adik-adikku terisi makanan. Meski lagi-lagi harus diisi dengan singkong. Tapi tak apalah daripada tidak makan sama sekali. Musim paceklik begini, hidup didesa bisa makan saja sudah untung. Lagi pula besok pasti bisa makan dengan nasi lagi, sebab apak yang membantu tanam diladang orang dan pulang seminggu sekali, besok sudah pulang. Dalam perjalanan pulangnya, apak selalu pulang dengan barang-barang belanjaan yang dibelinya di toko pak Poniran. Pak Poniran orang kaya di tempat kami. Tanahnya luas dan hasil buminya melimpah. Ia punya mobil truk pengangkut hasil bumi. Hasil buminya selalu dibawa dengan truknya untuk dijual dikota. Terkadang juga sisanya dijual di tokonya yang besar. Aku selalu terkagum-kagum melihat mobil truknya juga rumahnya yang bagus. Tapi ia sangat galak dan suka memaki. Ia selalu berteriak-teriak kalau ada benda-benda miliknya dipegang-pegang atau dikotori. Meskipun tanpa sengaja. Aku pernah kena damprat dan dicaci maki gara-gara kakiku yang tanpa alas penuh lumpur mengotori semen lantai teras rumahnya saat aku mengintip acara tivi diruang tamunya.

Sejak saat itu aku lebih suka liat tivi dirumah bu’de Wiwit. Ia sering memberi aku makan saat aku nonton tivi dirumahnya. sebenarnya aku malu sering-sering kesana dikasih makan. Aku sudah besar, tapi kalau sudah ditawari makan, naluri perut yang selalu menang. Apalagi Bayu dan Mida. Aku tau bu’de kasihan sama aku juga Bayu dan Mida yang sudah ditinggal ibu tujuh bulan yang lalu. Semasa ibu hidup, bu’de Wiwit sangat akrab dengan ibu. Bu’de Wiwit menganggap kami seperti anak-anaknya sebab anak-anaknya sendiri sudah berumah tangga dan hidup memisah. Tapi kata uni Lin, aku jangan terlalu sering kesana. Tak enak kalau terlalu sering dikasih makan.

Bu’de Wiwit dan suaminya orang Jawa yang paling baik yang selalu membela kami saat keluarga kami mendapat ejekan dari penduduk lainnya. Maklum, keluarga kami memang beda diantara keluarga-keluarga lainnya. Tak selevel. Kami yang berbeda suku dan kami yang sangat miskin.
Kami tinggal didesa transmigran di Lampung yang penduduknya hampir semua dari jawa, sementara keluargaku, bapak dari Padang dan ibu dari Bandung. Apak sering diejek hanya karena apak berdarah Padang yang tidak bisa tani. Berdagang kain keliling desa pun ternyata apak bangkrut. Sebenarnya apak tidak akan bangkrut kalau barang dagangannya tidak habis dicuri orang. Kata bu’de Wiwit yang nyuri penduduk sekitar sini juga. Entahlah.

Sementara selentingan wanita-wanita tukang gosip, ibu disebut sebagai wanita yang sering menggoda suami orang. Aneh, apa mereka buta kalau selama ini justru ibu yang sering diganggu oleh suami-suami mereka. Dan apak tidak pernah ambil pusing dengan segala nasib yang menimpa. Apak lebih sering pasrah dan diam. Karena kebangkrutan apak, untuk tetap mampu menghidupi keluarga, apak jadi buruh. Buruh apa saja. Tapi karena pencarian utama didesa adalah tani, ya apak lebih sering buruh tani. Waktu ibu meninggal, Mida masih berumur satu setengah tahun, aku masih kelas lima Sekolah Dasar, Bayu lima tahun dan Uni Lin kelas satu Sekolah Menengah Atas. Sekolah Uni Lin jauh sekali. Didesa atas yang agak sedikit ramai. Kata uni, itu Sekolah Menengah Atas satu-satunya dari berbagai desa di wilayah kami. Yang bersekolah disana hanya anak orang-orang kaya didesa, sementara uni bisa masuk karena uni pintar sehingga dapat beasiswa. Semenjak ibu meninggal, uni Lin yang mengatur urusan rumah tangga. Membagi uang pemberian apak yang satu minggu tidak pernah cukup meski sudah dibuat sehemat mungkin. Kalau sudah begitu, ya terpaksa makan ubi-ubian liar dari kebun orang yang biasanya buat pagar. ”Runi, Bayu, Cepatlah shalat Isya, setelah itu belajar. Kalau sudah ngantuk, segera tidur. Uni mau menidurkan Mida dulu.” Uni berjalan menggendong Mida ke kamar. Aku segera menuju ke ujung dapur. Bayu berlari mengikuti. Ada dua bak air yang sudah kuisi penuh setiap sore. Aku dan Bayu segera berwudhu. Air wudhu menggenangi lantai rumah yang beralas tanah dan kemudian meresap ke dalamnya. Aku ingin hari segera berganti esok pagi. Berharap akan menemukan kebahagiaan saat menjumpai apak. Sebab sebenarnya aku sudah bosan menjadi orang miskin yang terlalu sering dihina. Terlebih tak diakui keberadaannya.

Sering ketika aku dan Bayu ingin bermain dengan teman-teman, oleh Hardi Cs aku tak diikutkan dalam permainan. Hardi anak pak Tugiran bos Perkebunan di tempat kami. Karena itu mereka berdua merasa anak-anak yang hebat. Anehnya, setiap apa yang mereka lakukan selalu dituruti teman-teman yang lainnya. Percuma, walaupun sudah aku lawan, tetap saja aku tidak punya teman. Mereka terlalu merendahkan aku. Lagi-lagi karena aku berbeda suku dengan mereka, terlebih karena aku paling miskin diantara mereka. ”he, wong Sundang ora usah melok-melok dolanan neng kene. Rono-rono ngadoh!” selalu begitu yang diucapkannya. Huh! Awas, suatu saat akan aku balas mereka.

Jam lima sore aku, Bayu dan Mida sudah duduk dengan manisnya didepan rumah. Menanti-nanti kedatangan apak. ”Uni Runi, nanti apak bawakan Bayu dan Mida oleh-oleh yang banyak, kemarin Bayu sudah memesannya. Iya kan ,Ni?” bayu mulai berceloteh menyebutkan oleh-oleh apa saja yang ia minta. Namun yang ditunggu, hingga Maghrib menjelang belum datang juga. ”Kenapa sampai malam apak belum juga pulang ya, Un?” Tanyaku resah pada Uni Lin. ”coba ditunggu saja.” Dan hingga jam delapan malam apak belum juga sampai. ” Sudahlah, sekarang kita tidur. Mungkin apak kemalaman atau malah tak pulang. Kalau sampai besok apak belum pulang, kita tanya pak Selamet. Pak Selamet kan satu ladang dengan apak. Ayo sekarang kita tidur saja!”

Ah, sampai fajar menyingsing ternyata apak belum datang juga. ”Un, apak tidak pulang. Berarti kita harus makan singkong lagi dong, berasnya tinggal satu gelas, hanya cukup buat bubur Mida.” ”Tak apa, biar nanti uni yang cari pinjaman beras. Diganti besok setelah apak pulang.” Mata uni Lin sembab, pasti semalaman uni menangis.

Sehari, dua hari, seminggu, apak tidak pulang dan belum ada kabar. ”Runi, koe harus tau, Nduk. Sekarang sedang musim kemarau. Perkebunan tempat bapakmu bekerja ndak bisa tanam dan panen dengan baik. Jadi para pekerjanya  juga belum  digaji. Mungkin bapak kalian 

mencari  kerja diperkebunan  lain. Kalian  sabar  saja dulu” bu’de Wiwit menasehati. ”iki, bu’de 
ambilkan makan buatmu dan Mida. Ayo ndang dima’em. Nanti Bayu suruh kesini, ya. Biar ma’em disini juga.” Bayu juga belum makan, tentu nanti ia kesini juga. Sudah dua minggu sejak ketidakpulangan apak, tiap hari kami selalu makan ditempat bu’de Wiwit. Sebenarnya uni Lin selalu masak, tapi manalah kenyang kalau sehari hanya makan secentong nasi yang dicampur parutan singkong dengan lauk garam.



Ah, besok aku ikut Surati ke ladang pak Tugiran saja. Rencananya mau ikut kerja upah panen kedelai. Lagian aku sudah malas sekolah. Gara-gara ibu guru Tantri dikelas nasehati aku yang nunggak belum bayar SPP empat bulan, aku jadi sering diejek teman-teman. Siapa tau kerja upahanku bisa buat bayar SPP. Tapi aku tetap saja malu, gara-gara aku kesekolah ketahuan nggak pake celana dalam, aku jadi terus diejekin tiapa hari. Aku memang nggak punya banyak celana dalam. Cuma punya dua celana. Satu celana olahraga sekolah, satunya celana dalam beneran. Kalau dua-duanya kotor atau basah, ya terpaksa nggak pake. Masih enak Bayu anak laki-laki, kalau nggak pake celana dalam nggak ketahuan. 


Subuh jam lima, uni Lin siap-siap untuk berangkat kerja. Kata uni, ladangnya jauh. Sudah dua minggu sejak apak tidak pulang, uni Lin tidak pernah sekolah dan memilih bekerja upahan di ladang. Uni Lin tidak tahu kalau aku juga mau kerja upah panen kedele diladang pak Tugiran. Kalau sampai uni tau aku tidak sekolah, aku bisa dimarahnya habis. Apalagi setelah apak dan ibu tidak ada, uni terlalu sering marah-marah. Juga marah-marah sama bapak soal keuangan yang tak mencukupi. Apak hanya diam saja atau malah sering juga menangis.

Kata uni apak terlalu lembek, sehingga setiap usahanya tak pernah sukses. Dihina orangpun apak diam. Dirumah tak bisa makan apak juga diam. Apak Cuma bilang ” apak lah usaha, tapi memang indak ado hasilnyo, ya ba’ajuo lagi.... Coba wa’ang sendiri Lin, cari pinjaman pitih atau barei jo tetanggo sabalah* ” Kalau sudah begitu, omelan Uni justru semakin menjadi.
Matahari sudah terang. Aku dan Surati berjalan beriringan melewati persawahan dan kebun-kebun yang gersang. Surati teman satu-satunya yang akrab denganku. Sebab hanya aku dan dia yang tidak punya teman dan sering dihina oleh Hardi Cs. Bedanya, Surati diejek karena ia terlalu dungu dan bertubuh cacat. Bahkan ia sering diolok-olok gila. Menurutku Hardi Cs-lah yang gila. Mereka selalu mengejekku dan Surati tanpa sebab setiap bertemu. Aku suka berteman dengan Surati, karena menurutku ia tulus dan lugu. Meski aku sering dibuat tertawa terbahak-bahak oleh tingkah dan kata-katanya yang tak jarang tak kumengerti.
Hari kedua aku bekerja, ternyata Hardi tidak sekolah. Ia ada dikebunnya. Ini berarti nasib sial bagi kami. Sedari pagi aku datang ia sudah menatapku dan Surati dengan tatapan tak suka. Kami akan memanen kedelai ditempat yang sedikit jauh saja dari tempat ia dan pak Poniran mengawasi para pekerja.


Tapi sial, tak lama setelah kami mulai bekerja. Ia mendekati aku dan Surati. ”Heh!!! Koe ngopo melok kerjo ndek kene!?” Hardi menbentak kami. ”Rono...!!! poko’e koe wong loro ora oleh melok kerjo nang ladangku, Ndang lungo!!!* ” teriakannya makin keras, tapi pasti tak sampai terdengar oleh ayahnya. ”aku wes bilang sama bapakmu wingi, Har. Kata bapakmu boleh, kok* ” aku tak gentar. Sementara Surati ikut-ikut berbicara dengan kata-katanya yang tak jelas. ”alah...! poko’e kowe, opo meneh wong edan iki, ojo neng kene meneh. Sampe nggak ndang lungo saiki juga, tak bogem kowe. Wani Opo!!!* ” Hardi semakin marah. Bahkan ia menendang aku dan Surati. Aku masih bisa mengelak. Tapi Surati, dengan tubuhnya yang untuk berjalan saja terseok-seok, mendapat tendangan dari Hardi ia langsung terpental. Kami tak akan bisa bertahan lagi. Percuma. Kalau kami masih tetap disana, bisa-bisa kami jadi bulan-bulanannya. Aku dan Surati langsung pergi dari kebun kedelai itu dengan pikiran yang campur aduk. Antara benci, dendam dan sekaligus sedih. Terutama sedih dengan kemiskinan ini. Sehingga terpaksa harus hidup ngenger begini. 

”yah, Sur, berarti kita nggak dapet upah hari ini. Atau paling tidak kalau kita masih bisa bekerja sampai jam makan siang, kita bisa dapat jatah bungkusan makan.” Surati nyengir kuda mengiyakan dengan giginya yang hitam bolong-bolong. Dan itu berarti juga aku tidak bisa membawakan Bayu dan Mida separuh dari jatah makanku seperti kemarin. Kasihan Bayu dan Mida setiap hari selalu ditinggal aku dan Uni pergi sekolah. Untungnya Bayu sudah bisa menjaga Mida. Meski kalau aku dan uni sampai rumah, Bayu, Mida juga isi rumah sama-sama berantakannya.

Sampai diujung kebun kedele yang kemarin kami panen, Surati menunjuk-nunjuk biji kedelai ditanah yang tercecer dan memungutinya. Wah, ide bagus. Biji-biji kedelai yang sudah terpecah dari kulitnya memang banyak tak dipunguti. Dari sini tentu Hardi tak akan bisa melihat kami. Yah, kalau tidak bisa bekerja, kan masih bisa dapat biji kedelai. Kalau dapat kira-kira satu rantang bisa dijual di toko pak Poniran. Atau direbus buat dimakan juga gurih. Bisa buat mengganjal perut yang lapar. 

Keasikan, ternyata matahari telah diufuk barat. Akan terbenam. Kedelai sudah kami kumpulkan hampir dua rantang. ”ayo kita pulang, Sur! Hari sudah mulai gelap. Uniku pasti sudah sampai rumah!” Ah, kenapa aku bisa lupa pulang terlalu sore. Dengan terburu-buru aku berjalan pulang. Surati terseok-seok mengejarku. 
” Kenapa kamu mulai malas sekolah Runi? Kalau Uni nggak sekolah, kamu juga nggak sekolah, mau jadi apa kita. Biarlah saja uni yang bekerja. Kamu jangan ikut-ikut. Apa kamu nggak sekolah karena malu belum bayar SPP? iya? jadi orang susah itu jangan terlalu sering malu. Temanmu juga pasti banyak yang belum bayar SPP, nanti kalau uni sudah dapat upah banyak, uni bayar. Yang penting tetap berangkatlah sekolah. Jangan malas sekolah....dst...dst...” benar saja, sampai rumah aku langsung dimarah uni Lin. Sampai panas kuping ini dinasehatinya. Sebenarnya nasehat uni Lin benar, tapi aku capek juga kalau setiap hari diomelinnya. Bayarin SPP? Huh, alasannya sama juga seperti apak. Nanti lagi-nanti lagi. Diundur lagi-diundur lagi. Tapi, pada saat seperti ini, aku teramat merindukan apak. Apak tidak seperti uni yang cerewet. Apak lembut, tidak pernah marah. Kalau aku salah apak Cuma menasehati dengan lembut. Pernah aku pulang sekolah tidak langsung pulang, tapi pergi kesungai cari ikan sampai sore dan kehujanan. Saat pulang dan sampai depan rumah, apak cuma mengancamku dengan membawa sapu lidi. Tapi ternyata tidak sampai dipukul. Malah aku langsung dimandikan dan dihanduki dengan kelembutannya sambil menasehati. Apak... Aku rindu.... dimana sekarang apak? kenapa apak belum juga pulang-pulang? Ya Allah... semoga tidak terjadi apa-apa dan semoga apak cepat pulang... kami merindukannya.....


Aku kembali bersekolah. Meski dengan pikiran yang tidak tenang. Sampai pada suatu sore. 
Saat aku pulang sekolah dan uni Lin belum sampai rumah. Dari samping rumah terdengar sayup-sayup suara apak bercakap-cakap dengan Bayu dan Mida. Apak kembali lagi ke rumah....! Alhamdulillah, ya Allah! Aku telah lama rindu apak ada kebahagiaan dihati ini saat tau apak telah kembali. Tapi apak terlihat sangat kurus. 

Saat ditanya kemana saja apak selama ini. Apak menangis dan menciumi kami. Apak minta maaf pada kami karena telah menelantarkannya. Apak bercerita, saat apak bekerja dikebun orang, baru sehari bekerja apak sakit. TBC apak menjadi-jadi. Apak tidak sanggup bekerja namun apak juga tidak mampu untuk pulang kerumah menemui anak-anaknya tanpa membawa hasil dan dengan kondisi sakit. Akhirnya apak putuskan untuk menemui adik-adik apak dikota. Apak berharap mendapat bantuan dari mereka. Mungkin mereka sudah bosan dengan kehadiran apak. Kenyataannya, bukannya diterima dengan baik, apak justru dicaci maki. Apak jadi gelandangan di kota sampai akhirnya bisa pulang menemui kami lagi. Masih dalam kondisi sakit. Ya, apak masih sakit. Saat aku dipeluk apak, tubuh apak panas sekali dan batuknya tak henti-henti. Apalagi kalau malam tiba. 

Menanggapi cerita apak, uni Lin justru teramat kecewa kenapa apak meninggalkan anak-anaknya selama itu tanpa ijin dan membiarkan anak-anaknya terlantar. Sehingga terpaksa uni harus melepaskan sekolahnya demi kelangsungan hidup adik-adiknya. Apak kembali terdiam, menangis.... ah, apak terlalu sering menangis. Lebih sering daripada anak-anaknya menangis. 

Hari-hari selanjutnya, apak belum bisa bekerja. Sudah pasti uni Lin lah yang bekerja. Aku juga Bayu merawat apak dirumah yang tak bisa lagi beranjak dari tempat tidur. Semakin lama sakit apak justru kian menjadi. Dahak batuk yang dikeluarkan apak lebih sering cairan-cairan kental darah. Dan sekarang apak lebih sering marah. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya semasa sehat. Salah sedikit menuruti permintaanya, apak bisa membentak. Kata-katanya kasar. Dan apak jadi suka sekali makan. Sebentar-sebentar minta diambilkan makan. Padahal sudah tidak ada apa-apa didapur. Sepertinya apak juga telah pikun, setiap setengan jam habis diberi makan, apak mengeluh minta makan dan teriak-teriak mengatakan seharian belum dikasih makan. Terpaksa aku harus merebus singkong karet yang rasanya pahit untuk dimakan sekadar mengganjal perut apak yang selalu lapar. 

Uni Lin sudah tidak tahan dengan keadaan apak. Uni tidak perduli dengan kondisi apak yang sakit. Ia marah. ”apak kenapa sekarang justru hidup membebani anak-anak apak. Kalau apak tidak mampu menafkahi anak, cukuplah diam dan jangan minta yang aneh-aneh. Kami sudah tidak sanggup lagi mengurus apak. Terserah apak mau apa kami tdak perduli. Aku sudah capek, Pak....!!!” kata-kata itu keluar dari bibir Uni Lin. Uni benar-benar marah dan kecewa. Mungkin juga marah dengan keadaan. Mendengar kata-kata uni Lin, apak yang belakangan ini sering marah jadi tersulut. ”O.., anak indak mengerti tata krama wa’ang! Lah jaleh apak cando iko sakiek. Wa’ang caci makiek pula. Kundik wa’ang!!!*” pertengkaran pun belanjut. Uni menumpahkan kekesalannya selama ini, sementara apak semakin sulit bisa dimengerti. 

Hari selanjutnya, oleh uni, apak tidak boleh diberi makan. ”Runi, jangan kamu beri makan dan turuti apa mau apak. biar apak tau diri dan sadar!!!” aku tidak habis pikir kenapa uni jadi begitu tega terhadap apak. Sementara hampir setiap saat apak berteriak-teriak memanggilku, ”Runi...! Runi...! dimana kamu. Ambilkan apak makan...” aku tidak tega mendengarnya. Tapi memberi makan apak, aku takut dengan larangan Uni Lin. Lebih baik aku pergi bermain keluar, menjaga Bayu dan Mida. 

Saat sore tiba kami baru pulang kerumah. Hari mulai gelap. Tapi kenapa rumah sepi dan lampu minyak belum dinyalakan. Arang ditungku masih menyala. Bisa untuk menghidupkan lampu minyak. Saat lampu menyala kulihat apak masih tertidur menghadap dinding papan yang rapuh. Serapuh tubuh apak yang kulihat. Bayu dan Mida duduk dikursi berpelukan. ”Pak, Apak, bangun pak. Sudah Maghrib.” Bayu dan Mida berlari mendekati apak dan mencium apak. Tapi tubuh apak dingin dan kaku. ”Pak....!!! Apa......k bangun....!!! Aku tidak tau apa yang terjadi. Aku hanya dapat berlari menuju rumah bu’de Wiwit meminta bantuan. 

” Koe sabar yo, Nduk. Iki wes nasibmu. Do’akan saja bapakmu dialam sana tenang dan diterima Gusti Allah*.” bu’de Wiwit memelukku. Apak telah pergi. Ya, apak telah pergi menyusul ibu. Meninggalkan kami sendirian penuh kedukaan. Begitu juga Uni yang sore itu semakin meninggalkan kepedihan dan kesepian untukku juga Mida dan Bayu. 

Uni..., dimana uni sekarang...? Uni..., sudah lima tahun kepergian apak, juga sudah lima tahun uni pergi belum kembali kekampung. Taukah uni bahwa apak telah pergi menyusul ibu. Sekarang Runi sendiri tanpa saudara dikampung. Tinggal dengan bu’de Wiwit. Bayu dan Mida telah diambil pak cik* Masri, dikota. Uni... sekarang usia Runi sudah lima belas tahun, mungkin sekarang saatnya Runi mencari uni, juga Bayu dan Mida. Runi ingin kita bisa berkumpul seperti dulu kembali. Tuhan... maafkan segala dosaku. Mudahkan jalanku Ya... Tuhan.... Semoga Kau pertemukan aku kembali dengan mereka....
jkt, 29mei11
Teruntuk orang-orang yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi 



Keterangan: ( * ) 
Bahasa Padang 
- Apak : Bapak 
- Uni : sebutan kakak perempuan 
- Apak lah usaha, tapi memang indak ado hasilnyo, ya ba’ajuo lagi.... Coba wa’ang sendiri Lin, cari pinjaman pitih atau barei jo tetanggo sabalah : Bapak telah berusaha, tapi memang tidak ada hasinya, ya babaimana lagi. Coba kamu sendiri, Lin. Cari pinjaman uang atau beras sama tetangga dekat. 
- O.., anak indak mengerti tata krama wa’ang! Lah jaleh apak cando iko sakiek. Wa’ang caci makiek pula. Kundik wa’ang!!! : O..., anak tidak mengerti sopan santun kamu, Sudah tau bapak sakit seperti ini. Kamu caci maki juga. Babi (maaf) kamu! 
-pak cik : paman 
Bahasa Jawa 

- he, wong Sundang ora oleh melok-melok dolanan neng kene. Rono-rono ngadoh!: 
he, orang Sundang ( singkatan: Sunda Padang) tidak boleh ikut-ikut bermain di sini. San-san pergi menjauh! 
- Heh! Koe ngopo melok kerjo ndek kene? : Heh. Kamu kenapa ikut kerja disini 
- Rono...! poko’e koe wong loro ora oleh melok kerjo nang ladangku, Ndang lungo!!! : 
Sana....! pokoknya kamu berdua tidak boleh ikut kerja di ladangku, sana cepat Pergi!!! 
- aku wes bilang sama bapakmu wingi, Har. Kata bapakmu boleh, kok: aku sudah ijin sama bapak kamu kemarin, Har. Kata bapakmu boleh kok. 
- alah...! poko’e kowe, opo meneh wong edan iki, ojo neng kene meneh. Sampe nggak ndang lungo saiki juga, tak bogem kowe. Wani Opo!!! : Alah...! pokoknya kamu, apalgi orang gila ini, jangan ada disini lagi. Sampai tidak cepat pergi sekarang juga. Saya tinju kalian. Berani Apa!!! 
- Koe sabar yo, Nduk. Iki wes nasibmu. Do’akan saja bapakmu dialam sana tenang dan diterima Gusti Allah : kamu saba ya, Nak. Ini sudah nasibmu. Do’akan saja bapakmu tenang dan diterima Allah.