13 April, 2014

Testimoni KMO Artikel

Ike Nereng ~ " Meskipun jarak memisahkan, tetapi waktu dan hari tidak memisahkan. Di mana saja banyak orang-orang yang baik mau membagikan ilmunya. Terima kasih dengan adanya KMO Menulis Artikel membuatku bisa bertemu dengan orang-orang tersebut. Kelas yang menarik sangat padat ilmu dan kegiatannya sehingga tidak terasa 1 bulan berlalu, tetapi tetap merasa tidak ingin pergi dari kelas, guru-guru, teman2 di sini. Berharap ada KMO "Menulis Artikel" II ya. Semoga guru2 dan assistant2nya mendapat berkat yang melimpah atas ilmu dan kebaikan yang telah dibagikan Amin. Love Ike Nereng, Hanover, Jerman. 8 April at 18:32
Lia Heliana " Mbak Ike Nereng aduuuh jadi kangen, saat jarak dan waktu bisa bersatu dalam ikatan komunitas ini, rasanya sayang Kalau berpisah 8 April at 19:03

Rayni Intansari ~ " Tidak disangka ternyata menulis artikel itu bisa sangat menyenangkan. Apa saja bisa dijadikan sumber tulisan. Mentor-mentornya pun sangat penyabar dan selalu mendukung kita semua. Tidak lupa teman-teman seperguruan, sesibuk apapun tetap berusaha menulis dan saling mendukung. Jangan lupa, undang-undang kami kembali utk buku-buku selanjutnya, jika memungkinkan. *cling - Rayni Intansari, Jakarta 8 April at 19:07

Cindy Elfira Boom ~ " Lama sudah saya hanya sekedar mengintip dan mengagumi kegiatan IIDN. Mengikuti KMO artikel menjadi pengalaman pertama sekaligus membuka mata saya terhadap dunia menulis yg sangat mengasyikkan. Metode pengajaran,pendampingan "ketat", belajar dari semangat menulis para guru serta suntikan motivasi dari para mentor di kelas ini, benar-benar luar biasa. Salut untuk para mentor yang serius dan sangat menghargai setiap karya kami, sampai mau diterbitkan jadi buku. Ini yang benar2 jadi penyemangat. Terima kasih untuk semua ilmunya ya...Teh Iin, Mba' Dian Akbas, Mba' Devy, Mba' Lia .. Barakallah, Semoga Allah berikan berkah berlipat dan kesehatan sehingga semakin banyak bisa beramal dan bermanfaat, aamiin. Terima kasih dan salam sayang untuk teman2 seperjuangan, semangat terus untuk menulis, dan setuju dengan mba Ike, grupnya jangan bubar, malah lanjut dengan KMO artikel II/ lanjutan... #berharaptingkat dewa# 8 April at 19:52

Istiqomah ~ " Meski hanya melalui dunia maya kita semua berjumpa, namun tak ingin rasanya kebersamaan dg grup KMO ini cepat berlalu. Satu bulan ini rasanya terlalu singkat bagiku. Meski isti sering telat kerjakan tugas, tp isti seneng bgt karena bisa belajar banyak disini.. dengan bu guru2 yg sabar dan tentunya penuh semangat serta teman2 juga yang tak pantang menyerah untuk menghasilkan karya dalam kesibukan yg melanda. Banyak pelajaran berharga dari sini... meski isti msh sering terkendala dg kebiasaan untuk menunda2 waktu untuk menulis, untuk lbh disiplin lagi dan memanage waktu yg benar agar terus bisa belajar
keberhasilan bukan diukur dari seberapa pandai dalam menulis, tp akan nampak dr kesungguhan belajar, dan disiplin waktu untuk terus menulis dan menulis setiap hari...
terimakasih bu guru dan teman2 semua yg selalu penuh semangat... :')
#isti_pandaan_pasuruan_jatim 8 April at 20:10

Nunuk Cita Fitriah ~ " Meskipun tertatih-tatih menjalankan tugas dari ibu guru yang baik, saya dapat banyak ilmu dan pengalaman. Menulis artikel, adalah pengalaman baru bagi saya. Meskipun masih banyak cacat pada tulisan yang saya buat, saya berharap bisa menjadi lebih baik di kemudian hari. Dengan selalu mengingat nasehat ibu guru Indari : 3M (menulis...menulis...menulis). Juga tidak boleh cepat puas, menulis dari nol...itu juga nasehatnya. # nunukcita_mojokerto 8 April at 20:47

Cindy Elfira Boom ~ " Maaf kelupaan, #Cindy- Jakarta# 8 April at 20:49

Kholifah Hariyani ~ " Saya belum yakin dengan apa yang sebenarnya ingin saya tulis, yang saya inginkan adalah tulisan saya bisa memberi manfaat bagi orang lain, dan ternyata tidak mudah. Dari beberapa KMO yang ada di IIDN, saya bingung mau pilih yang mana, karena saya belum pernah menulis apa pun sebelumnya. Namun, begitu saya lihat ada KMO Artikel, entah kenapa saya langsung tertarik. Tugas yang diberikan bu Indari luar biasa bagi saya. Kadang-kadang saya bingung sendiri, karena tidak yakin kalau saya bisa menyelesaikan tugas-tugas itu. Akhirnya harus saya akui, semangat yang diberikan bu Indari, bu Dian, mbak Lia, mbak Devy dan teman-teman KMO melebihi kemampuan saya sendiri dalam menulis. Sehebat apa pun saya, tanpa semangat itu, saya tidak akan menghasilkan apa-apa. Saya senang sekali mendapat kesempatan mengikuti KMO Artikel ini. Terima kasih bu Indari, untuk ilmu dan semangat yang telah diberikan pada saya. (kholifah_KTP Malang_domisili sementara Tangsel_sekarang lagi pulkam ke Situbondo) 8 April at 21:34
Mutiah Ohorella ~ " Sesuatu yang diberi dari hati,akan sampai ke hati. Jika dari mulut hanya sampai di telinga. Menerima Ilmu dan suport dari Guru yang ikhlas seperti Guru IIDN memang beda... melekat terus! Kemampuan menulis memang ada, tapi "Kepercayaan diri",dari sini saya dapat. Trimakasih para Guru...

Manikarori Rosky~ " Dulu saya ingin sekali bisa menulis artikel dan mengenal penerbit buku. Sejak mengenal IIDN saya dapatkan semua informasi yang diinginkan.Alhamdulillah berkat Allah SWT melalui FB saya bisa menambah ilmu dan saudara2 tanpa kenal batas daerahnya... Menggunakan kecanggihan teknologi utk hal2 positip adalah Luarr Biasa...Manikarori- Kuala Lumpur, Malaysia Yesterday at 06:42 · Like · 3 Nur Hayati walaupun belum mengenal secara fisik,saya kagum akan semangat berbagi para guru dan pengurus IIDN, tidak ragu berbagi ilmu, betul2 ilmu yang manfaat.....kadang saya masih ragu bisakah saya menulis artikel? tapi kuncinya yah terus menulis. Walau masih berjuang mengusir penyakit malas,tapi dengan adanya DL, semua pasti bisa! hihi.......bolehkah grup ini tidak dibubarkan? barangkali jika ada kesempatan bisa bertemu? menambah teman silaturahmi dan menambah ilmu....semoga. Terimakasih yaaaah . salam hormat untuk bu guruIndari Mastuti, salam sayang untuk teh Lia Heliana dan teh Devy Aulina.....# Nur Hayati Jakarta Yesterday at 11:01

Vera Barlianti ~ "Kelas menulis artikel menyenangkan dan bermanfaat untuk saya. Selain ilmu dan wawasan yang bertambah, saya juga mulai memperbaiki manajemen waktu saya supaya lebih bermakna. Bravo kepada mentor dan moderator, Teh Indari Mastuti, Mba Dian Akbas, Teh Lia Heliana, dan Mba Devy Nadya Aulina. -Vera, perbatasan Tangsel-Bogor 22 hours ago

Devy Nadya Aulina ~ Alhwmdulillah... walaupun sebagai PJ KMO saya merasa belum maksimal mengawal. Karena beberapa KMO saya tangani dalam waktu yang bersamaan. Saya senang, melihat peserta yang begitu antusias mengikuti dan mengerjakan tugss yang diberikan mentor. Ditengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga, juga ada yang berkarier di luar rumah, peserta menyempatkan waktu untuk belajar. Sesuatu yang luar biasa. Semoga setelah KMO ini selesai, makin banyak bermunculan penulis dari IIDN. Tetap semangat dengan 3M. Peluk sayang-Devy Nadya Aulina-Kota Angin di Jawa Timur .

'Dini' Dian Handayani ~ " Menulis, menulis, menulis. Mengikuti KMO Menulis Artikel melatih saya menulis topik di luar zona nyaman, manajemen waktu, dan melatih mental mengajukan permohonan wawancara dengan orang yang belum saya kenal secara pribadi. Serasa menjadi jurnalis beneran! Tentu masih banyak yang perlu dipelajari namun kelas ini telah memberikan umpan yang sangat baik untuk mengawalinya. Setelahnya tergantung pada tekad dan kerja keras kita mau dibawa kemana ilmu yang telah diperoleh ini @Dini_Tangerang.

Nina Rahmawaty ~ " terimakasih ya buat bu guru indari, the lia the devi yg sudah menyebarkan semangat u berkarya lewat tulisan semoga Allah membalas kerja keras bu guru n teman2 u memajukan ibu2 diindonesia ini dg pahala yg berlipat2, karna sebaik2nya ilmu adalah yg diam.

Mutiah Ohorella ~ " Oh ya... domisili saya: BOGOR. Terimaksih Bu Guru dan Ketua Kelas atas keihlasannya,semoga dibalas dengan kemuliaan. Terimakasih teman-teman yang baik atas keceriaannya. Hik

Tri Setia Dermawati ~ "Alhamdulillah .... meski gak aktif di kelas KMO Menulis Artikel, saya dapat ilmu banyak Guru Indari, Teh Lia dan Teh Devy. Mudah-mudahan kalau saya ikut lagi gak bosen yaaa...... O, ya ... domisili saya di Nganjuk, sama dengan Teh Devy cuma sekarang saya jarang ketemu karena anak-anak sudah nggak ngaji di masjid.

31 March, 2014

Kelas Tips Menulis Traveling #13 : Mari Membuat Artikel Round Up

Oleh: Arini T

Round up secara harfiah berarti mengumpulkan. Yang disebut artikel round up adalah menggabungkan beberapa artikel perjalanan dengan topik sejenis dalam satu artikel besar. Artikel round up biasanya dibuat sebagai salah satu cara untuk "mendaur ulang" artikel yang pernah kita tulis sebelumnya.

Contoh artikel round up adalah mengenai benteng-benteng di Nusantara. Artikel ini akan berisi keterangan singkat tentang benteng-benteng yang ada di Nusantara, seperti benteng Marlborough, benteng Surosowan, benteng Vredeburg, benteng Vastenburg, benteng Van der Wijk. dan benteng Rotterdam. Penulisannya bisa berbentuk travel feature atau travel guide, bergantung pada kebutuhan. Jika berbentuk travel feature, keterangan singkat masing-masing benteng yang diliput bisa menjelaskan mengenai sejarahnya, bentuk arsitekturnya, dan lain sebagainya. Sedangkan jika berbentuk travel guide, keterangan singkat lebih ditekankan pada lokasi dan cara mencapai benteng tersebut.

Artikel round up juga bisa berupa kumpulan tempat-tempat wisata terbaik ("the best") di suatu destinasi. Sebagai contoh, saat kita menulis tentang wisata di Pulau Lombok, kita bisa membuat artikel round up berisi keterangan singkat mengenai tempat-tempat wisata terbaik di Lombok.

Contoh artikel round up yang pernah saya buat dapat dilihat di sini:

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Barangkali ada yang pernah membuat artikel round up tentang wisata di dekat domisili Ibu-Ibu? Mari berdiskusi dan berbagi!

Kelas Tips Menulis Traveling #12 : Tips dan Trik Menulis Travel Guide

Travel guide biasanya dalam bentuk artikel atau guidebook, merupakan panduan perjalanan yang menyediakan berbagai informasi mengenai tujuan wisata, termasuk rincian lokasi, alamat, nomor telepon, harga, ulasan akomodasi terdekat, ulasan tempat makan terdekat, aktivitas dan point of interest di suatu tempat, serta cara mencapai ke sana. Travel guide bisa dianggap sebagai bentuk tertulis dari pemandu perjalanan.

Travel guide bisa juga dibuat untuk sasaran pasar tertentu. Misalnya travel guide untuk para backpacker akan berbeda dengan travel guide untuk para flashpacker, atau travel guide mereka yang mencari kemewahan dalam berwisata. Jenis lainnya adalah travel guide untuk solo traveler, akan berbeda untuk travel guide bagi mereka yang ingin berwisata dengan keluarga. Travel guide juga bisa dibuat sesuai jenis travelingnya, misalnya travel guide khusus wisata kuliner, travel guide khusus wisata religi, dan lain sebagainya.

Membuat travel guide biasanya membutuhkan waktu dan energi yang lebih lama dibandingkan membuat travel feature. Prinsip dasarnya sama dengan membuat travel feature: lakukan riset, kunjungi lokasi untuk memastikan data hasil riset, tuangkan dalam bentuk tulisan. Namun hal yang perlu dituangkan tentunya lebih banyak, seperti:
- data transportasi menuju lokasi (jarak, waktu tempuh, moda transportasi, harga)
- data akomodasi di sekitar lokasi (Melati s/d Bintang 5)
- data rumah makan dan kuliner di sekitar lokasi 
- obyek menarik di lokasi (obyek wisata dan point of interest lainnya)
- data biaya yang dikeluarkan
- peta menuju tempat tersebut
- nomor telepon penting
- do and don't

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Pernahkah mencoba membuat travel guide singkat untuk berkunjung ke lokasi yang menjadi domisili Ibu saat ini? Apa hal yang menarik yang bisa dilihat di domisili Ibu? Bagaimana cara menuju ke sana?Mari berdiskusi dan berbagi!

29 March, 2014

==BEKERJA DARI RUMAH==

Oleh: Meili Damiati

"Umi, kok ga buka kedainya?" ujar salah satu tetangga via whatsapp.

"Lagi ada kerjaan di rumah jadi malas buka, hi..hi... Lagian isi kedai hanya buat pajangan doang. Jual beli via inetrnet wae, bu.."

"Enak juga usaha semau gue"

Saya hanya tersenyum sambil mikir, untung saya ga jadi karyawan kantoran. Bisa-bisa di PHK kalo kerja cuma ngikutin mood doang. Ini aja kedai samping rumah ga dibuka-buka karena asyik dengan aktifitas menulis sambil jual online.

Biarin ahh, paling kalo buka juga, yang beli cuma anak-anak. Stock makanan anak-anak di kedai emang sudah saya minimalisir, hanya untuk persediaan bocah-bocah saya sendiri, biar mereka ga jajan sembarangan tapi tetap aja, sekali waktu ada yang manggil, "Nte... beli teh gelas dooong..."
Jadilah tuh rolling door buka tutup, buka tutup.
Tapi ga masalah apa kata orang, yang penting jual beli online sangat nyaman digeluti oleh Ibu Rumah Tangga seperti saya. Dan saya sungguh menikmati itu.

Dulu komputer saya tempatkan di kedai. Jadi sambil jagain, aktifitas online tetap bisa dijalankan tapi ya ampuuuuuun..... rumah jadi ga terkontrol. Akhirnya kedai yang ga terlalu produktif saya jadikan hanya untuk pajangan produk yang sesekali dibuka. Komputerpun berpindah ke dalam kamar. Jadi sambil melaksanakan pekerjaan rumah, aktifitas online tetap bisa berjalan. asyik kaaan?

Oh ya, bisnis online ini sudah dari awal 2010 saya geluti. Yang penting amanah dan selalu jaga kepercayaan konsumen dan layani mereka dengan cepat dan ramah. Modal itu dulu, rasanya sudah cukup. Ga terlalu butuh modal karena kerjasama dengan suplier dengan modal komunikasi efektif bisa melancarkan usaha ini. Kalau mau penjualan pas-pasan yaa promosilah seadanya via jejaring sosial atau apapunlah itu. Kalau ingin penjualan melesat, maka kita juga harus rajin promosi. Tapi kalau dianggurin terus, yaa tinggal menunggu rezeki turun dari langit aja deh.

--------------
Bkt,270314

#WomenpreaneurChecklist

"I Wanna Be a Womenpreneur

Oleh  :  Sri Mulyani

Kesulitan hidup di masa lalu menempa sahabatku yang satu ini berjiwa ulet dan tahan banting.Bakat bisnisnya juga sudah terasah sejak masih zaman kanak- kanak.Lahir dan menghabiskan masa remaja di sebuah desa yang bernama Kuta Cane lama Aceh Tenggara,Mardiani remaja tidak mengenal saat bersantai menikmati cerianya usia belia.Dia harus berjuang keras membantu orang tua mencari rupiah demi mencukupi mimpi - mimpi sederhananya,bisa berpakaian layaknya gadis- gadis lainnya.

                   Untuk berpakaian seragam yang pantas saja Mardiani dan adik- adiknya ( enam bersaudara,dia anak tertua) sering menunggu pemberian tetangganya yang kaya berganti seragam baru,dengan demikian seragam lama mereka akan diberikan kepada Mardiani yang memang kebetulan rumahnya berseberangan.Sedih dan malu sebenarnya,tapi tak dapat berbuat apa- apa.
                  Mardiani remaja tidak mau tinggal diam,perasaan malu membuatnya berfikir keras harus merubah nasib.Sepulang sekolah,tanpa mengenal istirahat,Mardiani berangkat ke hutan milik saudara untuk memetik buah kemiri.Pada masa itu,tahun 80an sekilo buah kemiri dihargai Rp. 100.Setiap hari itu dikerjakannya,uang hasil penjualan kemiri dikumpulkan.Ditabung untuk biaya sekolah dan sedikit sisanya untuk kebutuhan lain.Orang tua hanya menyediakan makan 3x sehari hanya dengan sayur yang dipetik dari kebun sendiri.Lauk..? Jangan berfikir untuk terpenuhi setiap hari,bisa seminggu hanya sekali merupakan satu kebahagiaan buat keluarga mereka.
                 Meski dengan segala kesulitan,Mardiani bisa menyelesaikan SMAnya.Tidak berfikir untuk melanjutkan kuliah,dia hanya berfikir untuk bisa cepat menghasilkan uang.Obsesi masa lalunya memang hanya bisa berpakaian bagus/ layak.Sederhana sekali memang .
                 Setamat SMA,Mardiani merantau ke Medan.Bekerja pada sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang elektronik.Untuk ukuran anak yang berasal dari kampung,itu pencapaian yang sudah menggembirakan.Bekerja tidak pernah mematikan naluri bisnisnya.Mungkin memang sudah bakat pada dunia bisnis ya,besar maupun kecil tetap saja hati selalu cendrung untuk bisa berjualan.Sambil bekerja,pada jam- jam istirahat dia menyempatkan diri menawarkan barang dagangannya pada teman- temannya.Ya biasanya kesempatan itu hanya pada jam istirahat atau sebelum dan sesudah bubar jam kerja.Barang dagangannya tak jauh - jauh dari pakaian.Karena pangsa pasarnya pada waktu bekerja adalah usia muda ( teman kerja banyak yang belum menikah) ,barang yang dijualnya berupa celana jeans,pakaian casual gaya anak mudalah.Dan itu pun dengan modal kepercayaan dari saudara calon suaminya (calon suami teman kerja ).
                    Tiga tahun bekerja mereka memutuskan menikah.Keluarga suami termasuk dalam golongan keluarga berada,otomatis cara berpakaiannya pun beda dengannya.Dan hal ini menjadikan hobby berpakaian bagus semakin tumbuh subur.Kebetulan keluarga suami penyuka busana muslim bermerk Robbani.Mardiani terikut bergaya busana seperti mereka,masalahnya pakaian merk Robbani memang harganya lebih mahal dibanding gamis- gamis biasa kan, dan memang sesuai dengan kwalitasnya.
                    Bersinggungan dengan gaya busana yang beda dengan sebelumnya,semakin membuatnya berfikir keras bagaimana untuk memenuhi hobby tersebut tanpa merusak uang belanja yang memang sudah ada loketnya masing- masing.Tidak mungkin juga kan hobby itu malah merugikan? Dari berlangganan dengan agen Robbani itu,menimbulkan ide baru di kepalanya,bagaimana dia menjadikan dirinya sendiri sebagai model dari barang yang dia dagangkan.Lagi- lagi masih dengan modal percaya dari pemilik toko dia diperbolehkan membawa pakaian- pakaian bermerk Robbani itu untuk ditawarkan pada orang- orang yang dikenalnya.Jika barang laku terjual dia diberikan komisi sebesar 15% / itemnya.Dan kepercayaan yang diberikan oleh pemilik toko terus dijaganya,berdasarkan hubungan yang baik inilah kami memberanikan diri membuka toko yang menjual barang merk Robbani pada suatu hari.
                   Ya..pada 7 tahun yang lalu,Aku,Mardiani dan empat orang lain sahabat kami memberanikan diri patungan untuk membuka sebuah toko.Tapi tepatnya kami menyebutnya kedai.Uang yang kami kumpulkan berenam itu hanya untuk biaya menyewa kedai dan peralatan penunjangnya,sementara barang yang kami jual dari agen Robbani tadi.Tapi kami tidak menamakan kedai kami dengan Robbani juga,karena kedai yang kami rintis bersifat menyediakan jasa.Kami hanya mendapatkan komisi,sama seperti yang berlaku pada Mardiani dulu.
                  Tahun pertama berjualan,kami tidak mengambil keuntungan dari kedai,keuntungan kami putarkan lagi untuk mengembangkan dagangan..
                 Memasuki tahun kedua,usaha mulai terguncang.Ada beda pendapat dari teman yang lain.Mereka ada yang tidak setuju keuntungan tidak dibagi terlebih jika harus menambah modal lagi.Sementara barang dagangan kan harus ditambah,belum lagi untuk membayar sewa kedai.Semakin hari keadaan semakin meruncing.Memasuki tahun kedua itu kami sudah terseok- seok.Begini memang jika ada banyak kepala,akan ada banyak ide yang beda- beda dalam menjalankan usaha,perlu menyamakan misi dan visi dulu seharusnya.
                 Dengan keadaan kedai seperti ini yang paling terbebani adalah Mardiani.Kami merasa sungkan dan sangat tidak enak hati untuk mengembalikan barang- barang merk Robbani tadi.Akhirnya Mardiani memutuskan untuk mengambilalih kedai.Dia yang akan menjalankan bisnis ini.Akan tetapi dia meminta kami untuk bersabar dalam pengembalian modal.Aku paham keadaan ini,segera kami menghitung aset yang masih tersisa.Setelah dihitung keseluruhan,didapatlah berapa biaya yang harus dikembalikan kepada kami masing- masing / orangnya.
                 Mardiani berhasil menyewa sebuah toko di dalam pasar Marelan.Di situlah dia menjual sisa dagangan dari kedai  muslim kami.Sedikit demi sedikit isi toko bisa ditambah dengan barang merk lainnya. Pelan tapi pasti,Mardiani bisa mengembalikan modal kami meskipun dengan cara dicicil.Dia juga diberi keringanan oleh agen Robbani itu untuk membayar barang- barang yang sudah masuk ke kedai dengan cara mencicil pula.
                  Memiliki sebuah toko pakaian agaknya memang sudah menjadi cita- citanya.Letak toko yang cukup strategis dan di dalam lingkungan pasar tradisional memudahkannya memasarkan barang -barang dagangannya.Toko tidak hanya diisi oleh satu merk tertentu saja,apa yang sedang trend harus disediakan.Ini salah satu kejelian Mardiani dalam membaca situasi.Untuk mendapatkan barang dagangan dia pergi berbelanja sendiri ke pusat Pasar,Pasar Ikan Lama,kadang berburu barang sale di mall- mall.Untuk musim lebaran dia mengkhususkan belanja ke Jakarta atau Bandung,barang sudah distok sebelum bulan puasa.Berjualan pakaian memang memiliki musim tertentu,hanya masa menjelang lebaran Idul Fitri toko pakaian mengeruk keuntungan yang berlipat- lipat dari hari biasa.
                    Menurutnya,berjualan di toko dalam lingkungan pasar perputarannya cepat.Pangsa pasarnya banyak,tidak terbatas untuk orang- orang tertentu saja.Namun bukan berarti juga tidak memiliki masalah,pelanggan tetap yang biasanya dari sesama pedagang malah kadang mengesalkan hati.khusus sesama pedagang memang Mardiani menjalankan sistem cicil,perharinya ada yang Rp.5000 atau Rp. 10.000,mereka kadang mengulur- ulur waktu saat dikutip,dengan berbagai alasan,belum laku jualannyalah..besok dibayar dobel..begitu besoknya dikutip..bayarnya satu,dan banyak lagi model- model tingkah pelanggan,semuanya itu memang lika- liku dunia bisnis.
                     Meski berada dalam lingkungan pasar, Mardiani tetap menjaga kualitas barang dagangannya.Barang- barang yang sudah hampir habis trendnya akan diobral,hal itu tidak menyebabkan penumpukan barang lama.Sehingga pelanggannya juga sudah tahu,jika belanja di toko Mardiani barangnya lebih bagus dibanding toko lainnya.

EDISI PARENTING ====KAKAK SELALU SALAH?===

Oleh  : Meili Damiati

Ketika sedang asyik beraktifitas di dapur, saya mendegar jeritan si dua tahun yang sanggup membuat kening saya berkerut. Spontan saja dari jauh saya berteriak,
"Aliiiii.....jangan bikin nangis adik dooong..."

Ali yang sudah berumur 6 tahun pun lantang menjawab.
"Ga diapa-apain kok Umiii... Zahra aja yang nangis sendiri."
Hufft, dengan tampang kesal, saya beranjak dari dapur sambil ngomel, Duh, Abang... kok ga bisa main sama adik sih?!

Di sudut kamar terliihat Ali sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya. Sementara Zahra tampak sedang merapikan kerudung mungilnya di depan kaca sambil menggerutu.
"Zahra kenapa?" Saya pun bertanya.
"Mbut jaja mpak ni Mi... ga ica macuk.i..ih.." Jawab Zahra kesal.
Oh ternyata si kecil sedang mencoba merapikan kerudungnya dibagian wajah. Tapi karena poninya nongol terus dan tidak berhasil ia masukan dengan tangannya, jadilah dia marah besar, ha..ha...
Saya hanya bisa tersenyum getir mengingat spontanitas tadi yang telah langsung menyalahkan Ali sebagai abangnya. Saya sungguh merasa bersalah sudah mematikan sel-sel anak dengan selalu menyalahkannya tanpa mengecek dulu kebenaran yang ada.

Hingga masa-masa kecil saya pun jadi teringat kembali, saat orangtua memarahi saya karena tangisan adik. Betapa kesalnya saya waktu itu. Karena apa-apa yang membuat adik menangis, pastilah saya yang disalahkan. Hmmm... ternyata enak sekali ya jadi anak bungsu? pikir saya waktu itu agak sedikit sinis.
Suatu hari, disaat Ali beramain dengan Zahra dan merajuk karena mainannya diambil adik, spontan Kakekpun menasehatinya,
"Ali!!! kalau mainan kamu diambil adik, ya biasa. Dia kan adik Ali. Kalau Ali yang merebut mainan adik, itu baru ga boleh!"
Saya hanya bisa menghela nafas untuk menghindari adu argumen dengan ortu. Lagi-lagi saya membatin, 'benar-benar ga adil nih. Enak banget ya yang jadi anak bungsu karena dibela terus.'

Kasus lain,

Suatu hari, di rumah saya kedatangan saudara kampung yang mengadukan tentang tetangganya,
"Si Mina benar-benar ga punya hati. Sudah tau adiknya mau melahirkan, eeh dia malah pergi ke luar kota. Kan kasian adiknya ga ada yang mendampingi. Apalagi Ibunya kan sudah meninggal."
Mendengar keluhan ini, lagi-lagi saya bersimpati kepada orang yang bergelar kakak. Bagi saya ya wajar saja si kakak itu pergi ke luar kota. Pasti ada kepentingannya. Apalagi adiknya itu sudah mau melahirkan anak yang keempat. Dan sudah menjadi tanggung jawab suami, pastinya. Lalu, kenapa lagi harus dengan kakak?!

Dari kasus-kasus ini saya berfikir, sebenarnya sejauh apa sih peran seorang kakak? apakah seorang kakak hanya punya kewajiban tanpa perlu diberikan haknya?
Jika antara kakak dan adik ada sebuah masalah, apakah sebagai orang tua, kita sudah adil menjadi seorang hakim? Karena salah dan benar bukan dinilai dari faktor mana yang besar, mana yang kecil tapi siapa yang benar, siapa yang salah? Jika ternyata si bungsu yang salah, apa tidak sebaiknya mengajarkan dia sedini mungkin untuk meminta maaf atas kesalahan tersebut kepada kakaknya?
Selain itu, jika sebagai orang tua, kita menuntut si kakak untuk sayang kepada adiknya. Apakah kita juga sudah mengajarkan si adik untuk dapat menghormati kakaknya?

Tulisan ini mengajak kita sebagai orang tua untuk melihat kembali semua kebijakan yang telah kita terapkan di rumah. Apakah antara si kakak dan si adik sudah memiliki hak dan kewajiban yang seimbang? Jangan sampai niat kita untuk mendidik kakak agar menyayangi adiknya malah jadi bumerang yang akhirnya menimbulkan dendam tersendiri dalam diri si kakak, gara-gara ia selalu disalahkan dan adiknya selalu dibela.

Ternyata dari rumah, orang tua harus belajar menjadi hakim yang bijak. Tentu saja jika ini sudah dapat kita terapkan, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang selalu membela kebenaran. Insya Allah.

Writing Contest ‪#‎WomenpreneurChecklist



I Wanna Be a Womenpreneur
Oleh: Enni Kurniasih

Menjadi seorang womenpreneur merupakan impianku sejak di bangku sekolah. Entah mengapa yang ada dipikiranku hanyalah bisnis. Tak heran jika saat SMA, aku sudah menjadi agen kartu nama yang dijual secara nasional. Waktu itu aku bisa memperoleh keuntungan bersih lima puluh ribu setiap minggunya. Bayangkan! Uang sebesar itu untuk anak yang tinggal di kabupaten tahun 1992-1995. Saat itu, handphone belum booming seperti sekarang. Jadi uang itu bisa aku gunakan secara bijaksana, untuk keperluan sekolah.
Saat duduk di bangku kuliah, aku melupakan sejenak insting bisnisku. Hingga suatu hari aku melihat seorang ibu yang menitipkan kue di kantin kampus. Seketika otak bisnisku bekerja. Setelah ngobrol dengan mbak yang jaga di kantin, akhirnya aku bisa menitipkan keripik singkong buatanku. Kalau sedang tidak ada kuliah, aku mencari singkong di pasar. Mengupasnya, mengirisnya tipis-tipis, menggoreng dan memberinya bumbu. Semua aku lakukan sendiri sampai akhirnya kesibukan kampus terpaksa membuatku berhenti produksi.
Menjelang akhir masa-masa kuliah, aku melirik bisnis fashion (tas dan sepatu). Karena tertarik dengan modelnya, aku pun ikut memasarkan produk tersebut. Alhamdulilah, laku juga. Lumayan banyak orderanku waktu itu.  Bahkan menembus angka dua juta rupiah. Sayangnya, ketika selesai kuliah, aku harus pulang kampung dan berakhirlah bisnis fashion tersebut. Karena kemudian aku sibuk sebagai tenaga honorer di salah satu instansi pemerintah.
Sepertinya aku lebih nyaman bekerja sendiri (punya usaha sendiri). Aku melihat kondisi lingkungan di tempat tinggal kami, belum ada les Bahasa Inggris. Padahal waktu itu pertama kali Bahasa Inggris masuk menjadi mata pelajaran muatan lokal untuk anak-anak sekolah dasar. Aku melakukan survey kecil-kecilan, dengan bertanya ke tetangga sekitar. Kira-kira anak-anak mereka yang kelas 3-6 SD, butuh nggak les Bahasa Inggris? Ternyata banyak sekali yang mendukung. Awalnya aku hanya berniat membuka satu kelas maksimal 5 orang. Akhirnya jadi 3 kelas dengan siswa 7-8 orang!
Usaha les ini bertahan sampai lima tahun. Lama juga, ya.. Dan terpaksa berhenti, karena aku menikah dan harus turut suami pindah ke Jakarta. Sesampai Jakarta, aku mencoba menjajal dunia kerja. Ternyata ritme kerja ibukota yang begitu keras, tidak cocok dengan fisikku yang lemah. Nyaris saja, aku keguguran anak pertama waktu itu. Dalam masa-masa bedrest, otakku mulai berfikir. Celah bisnis mana yang bisa aku coba. Karena punya banyak waktu luang, setiap tiba jam istirahat aku mengantarkan makan siang buat suami. Sengaja aku membuat dengan porsi yang besar, agar temannya bisa ikutan makan. Mungkin karena sama-sama berasal dari Sumatera, mereka langsung cocok dengan masakanku. Dan meminta dibuatkan makan siang juga setiap harinya. Wow..Akhirnya aku mendapat pelanggan untuk bisnis katering dadakan ini hihi.. Totalnya ada enam orang yang memesan makan siang padaku, 5 kali seminggu selama hampir dua tahun. Usaha inipun terpaksa berhenti karena kami pindah rumah ke luar Jakarta.

 Di tempat tinggal yang baru, aku tambah semangat mengintip peluang bisnis di sini. Maklum, tempatnya di huni oleh warga dari berbagai daerah dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Sudah dipastikan gaya hidup mereka sangat konsumtif. Aku sempat dua kali membuka usaha makanan. Sebenarnya semuanya menjanjikan keberhasilan. Hanya saja aku mengalami masalah dalam hal perekrutan karyawan. Dengan sangat terpaksa, usaha inipun tutup. Kapokkah aku? Tentu tidak. Aku hanya berpikir belum jodohnya aku berhasil. Walaupun yang kemarin-kemarin, tidak bisa dianggap gagal.
Sampai suatu hari aku mengenal sebuah bisnis direct selling. Produk mereka berupa alat-alat keperluan rumah tangga yang terbuat dari bahan plastik kualitas tinggi. Awalnya aku sempat heran, mengapa harga produknya lumayan mahal? Padahal bahannya “hanya” dari plastik. Ternyata produk ini memiliki keunggulan di tutupnya atau seal. Hampir semua sealnya kedap udara, dan sebagian lagi plus kedap cairan. Dan yang menariknya lagi, garansi pemakaian produk yang seumur hidup dengan ketentuan yang berlaku.
Satu tahun pertama aku masih mencoba menjual produk ini. Sebenarnya peminatnya banyak, hanya saja harga produk yang tinggi membuat sebagian orang merasa berat. Ini membuat bisnisku tersendat, tidak maju-maju. Sampai suatu hari sepulang mengikuti  training dari kantor, aku berfikir keras. Aku harus mengecek ulang kesiapan bisnisku. Ini tidak bisa dianggap sepele, kalau aku ingin berhasil. Seperti yang ditulis Mbak Dian Akbas dalam bukunya Womenpreneur Checklist, akupun membuat checklist untuk bisnisku yang ini.

-          Apakah aku yakin ingin menekuni bisnis direct selling ini?
-          Kira-kira butuh modal berapa, ya? Karena orang-orang sepertinya merasa berat kalau harus membeli secara cash.
-          Darimana mendapat modalnya?
-          Bagaimana mengenalkan branding-ku ke lingkungan sekitar, bahwa aku jualan ini, lho..    
-          Bagaimana caraku mendapatkan pelanggan lebih banyak, yang artinya aku bisa menjual lebih banyak.

Kemudian aku menganalisa checklist  satu persatu dan mulai menjalankannya. Kunci sukses bisnisku ini ternyata party atau demo produk. Melalui party, masyarakat menjadi tahu fungsi masing-masing produk. Dan saat party, ada interaksi langsung dengan pelanggan. Pernah saat aku melakukan party, seorang ibu marah-marah, karena produk yang ia beli tidak bisa ditutup. Ternyata ia tidak diberitahu cara menutupnya saat membeli produk. Setelah aku jelaskan cara menutupnya dan fungsi produk yang ia beli, ia merasa senang sekali. Hingga akhirnya menjadi salah satu pelanggan tetapku.
Kunci sukses yang lain adalah rekrut. Alhamdulilah, aku mempunyai 30-an lebih consultan di bawahku. Memang tidak semuanya aktif. Tapi secara bergantian mereka tetap order barang setiap bulannya. Tugasku adalah membimbing mereka agar bisa menapaki jenjang karier sebagai manager. Dan bulan Maret ini, aku merasa bersuka cita, lantaran dua orang consultanku berhasil menjadi manager. Karena ini direct selling, mereka yang sudah menjadi manager otomatis terlepas dari unitku. Dan harus belajar mengatur dan membina unit sendiri.
Yang membuatku merasa bahagia adalah bisnis ini bisa aku atur waktunya. Aku lebih banyak follow up prosfek melalui handphone atau email. Baru kemudian janjian ketemu di kantor. Bonus yang aku terima setiap bulan juga tak menentu. Alhamdulilah, ada dikisaran angka 2,6-3 juta perbulan. Bukan bermaksud riya, tapi ini adalah keuntungan nyata yang aku dapatkan. Sering ada yang menanyakan hal ini di inbox-ku.
Yang namanya bisnis pasti ada pasang surutnya. Ada saatnya aku mendapat orderan banyak, adakalanya orderan juga sepi. Aku pernah mengantar eco bottle sebanyak 100 buah naik bis ke sebuah vendor di bilangan Jakarta Pusat. Sampai harus mencarter bajaj untuk masuk ke alamat yang dituju. Tapi apapun kesulitan yang dihadapi, jika kita ikhlas untuk menjalankannya, Insya Allah diselalu dimudahkan Allah swt.


BSD CITY, 26 Maret 2014