03 July, 2014

Saya Berhenti BerPendapat

Buku Karya Anggota IIDN Luar Negeri

Bukan hanya masalah politik, dalam berbagai persoalan yang bisa menimbulkan depat kusir, saya memutuskan untuk BERHENTI BERPENDAPAT.

Pendapat saya lebih melihat memiliki unsur subjectivitas yang sangat besar dibandingkan obyektivitas. Karena kerapkali kita berpikir lalu mengatakan atau menulis dari apa yang kita dengar atau baca semata atau hanya karena terlibat obrolan khas tetangga.
Alasan lainnya karena saya memang kurang menyukai debat, meski saat SMA saya pernah diikutsertakan dalam lomba debat di TVRI .

Saya memutuskan untuk mengatakan dan MENULIS dari pengalaman saya saja, meski bisa jadi ini unsur subjectivitasnya tinggi tetapi karena pengalaman sendiri menuliskannya tidak menjadi sebuah BEBAN.
Kalau ada yang bertanya, "teh, buku apa yang sedang teteh tulis?" Saya akan menjawab, "buku bisnis sebab saya adalah pebisnis, yang saya tulis apa yang saya alami bukan teori."


Menuliskan pengalaman jauh lebih mudah dibandingkan menuliskan dari apa yang kita baca atau dengar semata. Maka benar dalam sebuah penulisan buku, meski GOOGLE itu penting, tapi tidak semua yang kita baca disana benar adanya. 


Selamat menulis dan tetaplah produktif!
Berolahraga sambil menyetatus
50 menit perhari
Kembali menDETOX Pikiran

Kelas Tips Menulis Traveling #18 : Menulis dan Mendokumentasikan Wisata Religi

Oleh : Arini Tathagati

Selamat pagi Ibu-Ibu, hari ini kita bertemu lagi di kelas Tips Menulis Traveling di awal bulan Juli, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Khusus malam ini, kelas nanti akan kita mulai pukul 20.30 WIB dan diakhiri pukul 22.00 WIB, memberikan kesempatan bagi mereka yang akan menunaikan ibadah shalat tarawih. Namun bagi siapa yang sudah memiliki pertanyaan atau hal yang akan didiskusikan, silakan menuliskannya di komentar, nanti malam akan kita bahas bersama.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, kali ini kita kembali mengangkat tema wisata religi pada diskusi kita hari ini. Bagi umat muslim, wisata religi dapat dilakukan bertepatan dengan saat berpuasa, atau pada saat libur hari raya, di mana kita berkesempatan untuk mudik dan berkunjung ke obyek wisata religi di sekitar kampung halaman kita.

Apa saja yang termasuk dengan obyek wisata religi? Di antaranya termasuk rumah ibadah, ziarah makam, perayaan-perayaan atau tradisi setempat yang unik. Di Indonesia, banyak mesjid dengan arsitektur menarik yang dapat dikunjungi, seperti Masjid Demak, masjid kuno dengan arsitektur yang dipengaruhi arsitektur khas Jawa, atau Masjid Agung Jawa Tengah, masjid baru yang modern dan dilengkapi payung besar yang bisa dibuka tutup secara elektronik. Ziarah makam biasanya dilakukan ke makam para wali atau kyai, misalnya ziarah makam Wali Songo. Sedangkan contoh tradisi unik adalah tradisi Petang Balimau di Sumatra Barat, di mana menjelang memasuki bulan Ramadhan, warga mandi di sungai dengan menggunakan limau untuk membersihkan diri. Atau tradisi Tumbilotohe di Gorontalo, di mana pada 3 malam terakhir di bulan Ramadhan warga memasang lampu untuk menyambut hari raya Idul Fitri.

Meliput, memotret, dan membuat tulisan wisata religi ini susah-susah gampang, karena topik yang satu ini terkadang menyerempet unsur SARA. Di satu sisi, banyak obyek menarik untuk ditulis dan diabadikan, namun di sisi lain, terdapat berbagai etika yang harus dipenuhi. Tidak hanya pada saat Anda berkunjung dan meliput, tetapi juga pada saat Anda menulis, agar tulisan dan foto Anda bisa diterima oleh pembaca dengan baik.

Mulai dari saat berkunjung ke destinasi wisata religi. Hal pertama yang harus diingat betul adalah hormatilah tempat tersebut. Pada umumnya, orang berkunjung ke tempat tersebut untuk beribadah, sehingga hargai mereka yang sedang beribadah di tempat tersebut.Kenakan pakaian yang sopan, jangan kenakan celana pendek atau baju tanpa lengan. Sebelum mulai memotret di destinasi wisata religi, lakukan pengamatan terlebih dahulu, untuk memastikan tidak ada larangan untuk memotret. Apabila ragu, tanyakan pada petugas setempat (bisa pengurus rumah ibadah atau petugas sekuriti) apakah ada larangan memotret.

Apabila Anda diperkenankan memotret, masih ada hal-hal lalin yang perlu diperhatikan. Hindari memotret dengan lampu kilat, karena bisa mengganggu mereka yang beribadah. Apabila Anda bermaksud memotret orang yang tengah beribadah, memotretlah dari jarak jauh (menggunakan zoom/lensa tele) agar tidak mengganggu kekhusukan. Perhatikan juga aturan-aturan khusus, misalnya Anda tidak diperkenankan memotret obyek tertentu (contohnya adalah di beberapa situs ibadah umat Buddha di Cina, tidak diperkenankan untuk memotret patung Buddha). Usahakan jangan memotret sambil membelakangi altar atau mimbar, dan jangan sekali-kali melintas di depan orang yang sedang beribadah.

Seperti halnya artikel traveling pada umumnya, walaupun topik wisata religi tentunya berkaitan erat dengan sebuah agama, artikel wisata religi sedapat mungkin tidak menyinggung isu SARA. Contoh isu SARA adalah stereotip sebuah suku bangsa, agama, atau kepercayaan. Anda bisa memfokuskan tulisan dengan meliput dari sudut pandang lain, seperti pariwisata, sejarah bangunan atau tradisi, keunikan arsitektur, atau sisi tradisi dan budaya setempat. Namun demikian, seringkali kita tidak bisa menghindari pembahasan yang menyerempet mengenai filosofi kepercayaan atau sebuah ritual, misalnya karena kita harus menjelaskan sejarah berdirinya sebuah bangunan, atau makna simbol yang terdapat dalam bangunan tersebut. Untuk itu, lakukan riset yang sangat mendalam, untuk memastikan tidak ada kesalahan pemahaman saat menuangkannya dalam tulisan.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu yang lain? Apakah bulan Ramadhan atau libur Idul Fitri ini sudah ada rencana melakukan wisata religi? Manakah tujuan wisata religi favorit atau yang ingin dikunjungi?Mari berdiskusi dan berbagi!

21 June, 2014

MEMBANGUN SEMANGAT MENULIS PASCA KETERPURUKAN

Oleh: Sri Rahayu

Pernahkah anda mengalami kegagalan atau terpuruk?  Mungkin ya mungkin tidak.  Tapi pastinya tak satupun dari kita berharap mengalaminya.  Namun siapa yang tahu rahasia takdir dan gelap terangnya kehidupan kita.  Sebagai manusia kita hanya berharap dan berikhtiar tuk memiliki hidup terbaik.
Menulis bagi sebagian orang masih dipengaruhi oleh yang namanya "Mood".  Saat mood sedang jelek kita acap sulit untuk konsentrasi.  Inilah yang sering membuat kita lemah dan kehilangan gairah.  Ujian dan cobaan, tertolaknya berbagai ajuan outline acap membuat kita menjadi hilang semangat, walau sebenarnya ujian dan penolakan seharusnya membuat kita semakin tangguh, sayangnya kita sering lupa akan hal itu.

Saya angkat tema ini karena saya melihat banyak di antara kita termasuk saya pernah mengalami apa itu terpuruk.  Merasa hidup begitu hancur karena bisnis yang bangkrut, perceraian, perselisihan yang akhirnya membuat kita malas, atau karena hal lain.  Saat saat terpuruk kita selalu tergoda untuk meratapi nasib dan menyendiri, menjauhi lingkungan kita dan bahkan enggan melakukan aktivitas apapun.  Salah satunya saat seorang wanita mendapati pasangannya berkhianat.  Seluruh pikiran seolah terfokus pada masalah itu dan itulah titik lemah yang membuat kita akhirnya enggan menulis dan enggan beraktivitas. 

Kemudian saat kita menyadari waktu yang telah kita sia siakan dengan meratapi nasib, mungkin saat itu kita seolah lupa bagaimana caranya menulis lagi, bagaimana caranya mengolah rasa agar kalimat menjadi bermakna, enak dibaca dan indah.  Kita kembali menjadi orang gagap, kembali memulainya dari nol dan kadang ragu bahwa kita mampu tuk mengggapainya lagi.

Kisah teh Indari Mastuti dalam buku Puzzle Mimpi dapat menjadi salah satu penyemangat kita.
Kisah jatuh bangunnya seorang pengusaha yang sukses dapat kita jadikan pelajaran, bahwa hidup tak boleh berhenti selama nafas masih berhembus.

Saat saya tenggelam dalam keterpurukan yang menurut saya terberat dalam hidup, saya memilih menyendiri, menghentikan hampir sebagian besar aktivitas menulis dan fokus pada usaha untuk berjuang memperbaiki hidup.  mencari solusi terbaik.  saya hampir melupakan bahwa menulis itu tidak 100 % karena bakat, tapi karena latihan.  sama seperti bahasa Inggris, saat kita jarang menggunakannya lidah kita terasa kelu tuk melafadzkannya, kaku saat berbicara dan miskin perbendaharaan kata.  Begitupun saat itu.  Saya bingung bagaimana memulai kembali, saya seolah gagap.  Saya mengumpulkan kembali serpihan semangat yang terserak.  Mengintip beberapa tulisan para sahabat yang mulai terbit dan gentayangan di beranda.  Saya membaca status-status yang berisi motivasi dan bertanya tujuan hidup saya..tujuan saya menulis.

"Akhirnya saya temukan jawabnya, setelah saya mengintip saldo rekening saya yang mulai kosong dan dompet saya yang kian tipis."

Berbicara dengan rekan yang bisa memotivasi adalah hal positif yang  bisa kita lakukan dan alhamdulillah di group ini saya menemukan banyak sahabat yang baik yang menebarkan semangat dan pikiran positif hingga saya kembali bangkit.

Kelas Tips Menulis Traveling #17 : Open Trip

Oleh: Arini T.

Topik ini mungkin OOT karena tidak terkait langsung dengan kegiatan tulis-menulis, namun Open Trip merupakan salah satu solusi jika kita mencari topik tulisan traveling dengan biaya hemat. Bagi Ibu-Ibu yang memiliki bisnis agen perjalanan, Open Trip juga merupakan peluang bisnis untuk meningkatkan pendapatan.

Saat ini Open Trip sudah marak di dunia perjalanan. Pada dasarnya, Open Trip sama seperti paket-paket perjalanan yang dijual oleh agen perjalanan. Namun Open Trip lebih identik dengan paket perjalanan ala backpacker. Ciri dari paket perjalanan yang disebut Open Trip adalah destinasi wisata yang ditawarkan biasanya bukan merupakan destinasi yang umum dalam industri pariwisata besar, serta fasilitas yang ditawarkan biasanya memiliki standar di bawah fasilitas wisata yang ditawarkan agen perjalanan (misalnya transportasi menggunakan kereta api ekonomi, serta penginapan menggunakan youth hostel). Promosi Open Trip juga biasanya dilakukan melalui media sosial, seperti Facebook atau Twitter. Sebagai konsekuensinya, harga yang ditawarkan oleh Open Trip jauh lebih murah dibandingkan paket perjalanan yang ditawarkan agen perjalanan pada umumnya. Selain Open Trip, terdapat pula Closed Trip, di mana peserta yang mengikuti paket perjalanan Open Trip berasal dari rombongan yang sama, tidak ada peserta lain di luar rombongan tersebut.

Bagi penggemar perjalanan, Open Trip merupakan solusi untuk berwisata dengan biaya lebih hemat/ekonomis. Selain hemat dalam sisi biaya, destinasi wisata yang unik (dan biasanya bukan destinasi wisata yan "mainstream") menawarkan pengalaman yang berbeda. Namun perlu berhati-hati memilih penyelenggara Open Trip, agar perjalanan wisata Anda aman, nyaman, dan cost effective. Pilihlah penyelenggara Open Trip yang terpercaya dan berpengalaman. Tanyakan secara detail itinerary, obyek yang akan dikunjungi, dan kondisi fasilitas yang akan digunakan. Bila perlu, carilah testimoni dari mereka yang pernah menggunakan jasa penyelenggaranya. Penyelenggara Open Trip yang terpercaya biasanya juga memiliki passion dalam melakukan perjalanan, bukan sekadar mencari keuntungan dari biaya operasional trip yang murah meriah. Mereka juga terbuka dengan pertanyaan dari calon peserta mengenai fasilitas-fasilitas yang akan digunakan.

Bagi yang ingin mencoba menjalankan bisnis Open Trip, hal pertama yang harus diingat adalah perjalanan harus direncanakan dengan baik. Itinerary harus dibuat dengan rapi, jelas, serta memperhitungkan jadwal-jadwal transportasi dan obyek wisata. Pilih transportasi dan akomodasi yang handal dan nyaman, agar perjalanan berjalan lancar. Tunjuk pemandu perjalanan yang handal, untuk memastikan perjalanan berjalan lancar. Dari itinerary dan pilihan akomodasi, kemudian perhitungkan biayanya. Peserta Open Trip biasanya tidak mengharapkan fasilitas yang mahal, namun tetap harus aman dan nyaman. Berbeda dengan paket perjalanan yang merupakan bagian dari industri pariwisata yang standar, bisnis Open Trip sangat bergantung pada kepercayaan dan kehandalan penyelenggara.

Contoh Open Trip yang pernah saya ikuti adalah one-day trip ke Banten. Rencana perjalanan dan perhitungan biayanya adalah sbb:- Jumlah peserta minimum: 10 orang, maksimum 14 orang (sesuai kapasitas mobil Elf yang digunakan)- Biaya sewa Elf 15 jam : Rp 1.500.000,- untuk 1 hari perjalanan, sudah termasuk driver dan BBM- Biaya parkir, tol, tip driver : Rp 150.000,-- Tiket masuk obyek wisata : Rp 5.000 x 11 orang (termasuk pemandu, berdasarkan jumlah peserta minimum)- Konsumsi 2x makan (snack pagi dan makan siang) : Rp 40.000 x 12 orang (termasuk pemandu dan driver, berdasarkan jumlah peserta minimum)- Honor pemandu perjalanan: Rp 150.000 per hari

Total Biaya : Rp 1.500.000 + Rp 150.000,- + Rp 55.000 + Rp 480.000 + Rp 150.000 = Rp 2.335.000, dibagi 10 peserta: Rp 233.500 per peserta.

17 June, 2014

Ide Mentok

Mau ngomongin kalau Ide MENTOK gimana niiih? Pertanyaan yang saya lihat ditulis di komen mendadak tanya beberapa hari lalu.

Kabar baiknya, itu si mentok bukan hanya milik penulis pemula, penulis dengan jam terbang tinggi mengalami hal yang sama juga loh...saya juga sama xoxoxo
So, apa yang saya lakukan kalau si mentok lewat?


1. Saya minta temen saya baca naskah. Jurus ini cukup jitu, karena tuh temen paling seneng kalau kasih kritik dan masukan. Tokcer dah kalau pakai jurus ini.
2. Mentok bisa jadi karena wawasan kita tentang tema tersebut kurang. Jadi, saya juga akhirnya ya musti baca lagi dooong. Maka, saya menetapkan target nulis satu buku baca sepuluh buku tema sejenis, kalau bisa lebiiiih banyak


3. Endapkan dulu daripada maksain nulis dan hasilnya bikin ilfil xixixi. Endapkan bukan berarti melupakan, bisa juga saat mengendapkan shilaturahmi dan ngobrolin naskah yang sedang ditulis, daaan wuuuuuus ide langsung nyebrot.
4. Nulis tema yang berbeda sebagai selingan. Nah, bagian ini paling saya suka, karena emang sih naskah yang itu mentok tapi naskah baru selesai dan siap kirim, ihiiiy...tulisan nambah terus.
Dan banyak lagi cara, setiap orang berbeda cara. Lalu, apa ide Anda?

‪#‎buku‬ ini siap dipesan di basecamp IIDN

06 May, 2014

EYD Hari ini



Oleh Anna Farida

Pak Lurah sedang berpidato dengan penuh semangat.
+: "Mari kita sukseskan pembangunan kandang ayam, di mana ayam akan menjadi kunci sukses kita!"
-: Ayamnya hilang, Pak? Kok tanya di mana.
+: Ndak ada yang ilang! Kamu ngelindur, ya? Sudah! Dengarkan pidato saya!
"Ayam akan kita optimalkan, di mana telurnya dijual, dagingnya jadi sate!"
-: Nah, sekarang telurnya yang hilang, Pak? Kok tanya di mana, lagi.
+: Maksud kamu apa, sih?!
-: "Di mana" itu kata tanya untuk menanyakan tempat. Jangan dipakai sembarangan dalam kalimat. Mengapa, sih, harus maksa pakai "di mana"?
Pak Lurah bingung, ayam-ayam di kandang berkotek minta makan. Semoga ibu-ibu di sini lebih cerdas dari Pak Lurah:-D 

Kelas Tips Menulis Traveling #16 : Mari Menulis Wisata Kuliner

Hari ini kita akan mengulas wisata Kuliner. Inilah salah satu bentuk wisata yang sangat digemari, karena topiknya tentang makanan. :)

Ulasan tentang wisata kuliner memiliki lingkup yang luas, dan banyak media yang memuatnya. Lingkupnya luas, karena bisa meliputi makanan kaki lima hingga bintang lima. Demikian juga media yang menerima artikel wisata kuliner sangat luas, mulai dari media untuk backpacker hingga majalah-majalah lifestyle.

Anda bisa mengulas makanan dari sisi sejarah, cara pembuatan, tampilan visual, rasa, dan tradisi di balik kuliner tersebut. Khususnya untuk rasa, Anda harus bisa mendeskripsikan bagaimana cita rasa sebuah makanan, sehingga setelah membaca deskripsi rasa makanan tersebut pembaca bisa seolah-olah turut merasakan makanan tersebut. Namun jangan menceritakan aspek negatif dari makanan tersebut, sehingga jika menurut Anda makanannya tidak enak, jangan diulas dalam artikel Anda.

Oleh Arini Tathagati

Faktor yang sangat mendukung dalam membuat artikel wisata kuliner adalah foto makanan. Salah satu tantangan dalam membuat foto makanan adalah membuat makanan tersebut terlihat menggiurkan. Anda tidak selalu memiliki kesempatan yang bebas dalam mengatur tata letak makanan, sehingga Anda harus siap memotret makanan dalam kondisi apa pun. Usahakan untuk menggunakan cahaya dari sinar matahari agar makanan terlihat alami. Jika Anda berada di dalam ruangan, usahakan memilih tempat dekat jendela, agar pencahayaan pada makanan bisa menggunakan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Jika Anda berada pada ruangan yang tidak memiliki jendela, atur white balance kamera agar sesuai dengan cahaya yang ada di dalam ruangan.

Tantangan lainnya adalah membuat foto makanan dengan komposisi atau sudut pandang yang menarik. Anda bisa memanfaatkan fitur makro untuk memotret detail makanan secara close-up. Cara lain yang bisa dilakukan adalah mengatur fokus pada salah satu elemen makanan, dan elemen lainnya dibuat buram.

Kelas Tips Menulis Traveling #15 : Travel Memoar

Oleh Arini Tathagati

Berdasarkan definisi dalam KBBI, memoar adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau. Pada dasarnya, memoar serupa dengan otobiografi, yaitu sebuah karya non fiksi yang ditulis untuk menceritakan kisah hidup seseorang, dan ditulis oleh yang bersangkutan. Namun jika otobiografi merupakan tulisan yang memuat sebagian besar atau seluruh kisah hidup penulis, memoar hanya menceritakan tentang satu peristiwa atau situasi tertentu, misalnya kisah seorang tokoh ketika beliau memegang jabatan tertentu. Ibaratnya, memoar adalah semacam novel, namun sifatnya non-fiksi.

Topik traveling/perjalanan juga merupakan topik yang bisa dibuat dalam bentuk memoar. Karena bentuknya berupa memoar, penulis bisa berkreasi dalam penulisan dan penggunaan gaya bahasa, tidak terikat bentuk seperti feature/tulisan jurnalistik atau travel guide. Saat ini beberapa penulis traveling Indonesia sudah banyak yang menuliskan buku dengan genre travel memoar, salah satunya adalah Agustinus Wibowo, yang menuliskan travel memoar ketika ia berkelana ke wilayah Asia Timur. Buku travel memoarnya antara lain adalah Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Penulis Indonesia lainnya yang juga membuat travel memoar adalah Gol A Gong, dengan bukunya Perjalanan Asia dan The Journey: From Jakarta to Nepal. 

Btw, teman-teman kita di IIDN juga ada yang sudah membuat travel memoar lho! Sebut saja mbak Jihan Davincka dengan Memoar of Jeddah, dan mbak Astri Novia dengan Lucky Backpacker.

Bagaimana dengan Ibu-Ibu sekalian? Sudah terbayang apa yang disebut travel memoar? Pernahkah membaca atau bahkan menulis travel memoar?